Forum > Psikologi

Evaluasi atau Punishment

Jumat, 18 Maret 2016 12:32:26
3224 klik -- 13 respon
Oleh : lanqkar
Versi cetak

Belakangan ini kata-kata evaluasi sangat sering di perbincangkan di forum kita tercinta ini, setiap selesai kejuaraan selalu disertai kata-kata evaluasi atas hasil dari pencapaian para pemain yang diturunkan bahkan sekarang ini kata evaluasi seolah-olah menjadi kata-kata yang wajib dan magis atas pembelaan dari pengurus organisasi serta pelatih di pelatnas cipayung.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah masih pantas dilakukan evaluasi atas hasil para pemain ato emang sudah waktunya diberikan punishment atas pencapaian setiap pemain pada suatu pertandingan???

Seperti yang kita ketahui, Pelatnas bahwasanya adalah tempat para pemain bulutangkis terbaik di negeri ini, dimana seleksi untuk dapat memperoleh tempat disana sangat ketat dan telah ditempa oleh serangkaian pertandingan lokal maupun internasional berskala junior, apakah hal ini masih kurang dalam menentukan seseorang apakah memang pantas untuk menempati posisi itu ???

Menurut saya sekarang bukan saatnya untuk evaluasi tapi sudah memasuki tahap punishment, harus ada batasan yang tegas seseorang bisa terus berada di pelatnas, baik itu dari umur, permainan dan bahkan koleksi juara, karena menurut saya percuma klo permainan cantik dan indah namun tujuan akhir tak tercapai yaitu naik kepodium juara...

Respon

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : lanqkar
    Jumat, 18 Maret 2016 12:43:35

    Belakangan ini saya melihat ada kejenuhan dari beberapa pemain senior dalam bermain, mungkin saja ini datang dari keadaan di pelatnas sendiri yang blom bisa memberikan penerus dari mereka untuk diberikan tanggung jawab untuk mengibarkan bendera merah putih disuatu kejuaraan...

    pemain senior terus diberikan tekanan dan tanggung jawab untuk memenangkan suatu kejuaraan sedangkan para pemain lainnya hanya diberikan target dibawahnya bahkan untuk lolos dari babak 1 aja sangat sulit...

    berdasarkan hal ini lah saya memberikan pemikiran saya bahwa saat ini sangat diperlukan punishment untuk dapat meningkatkan prestasi pemain yang lain. bahkan saya memiliki suatu cara untuk dapat bersikap adil atas pemain pelatnas yaitu :
    1. pemain yang blom bisa menunjukan prestasi dan telah berumur lebih dari 24 tahun baiknya dikembalikan ke klub agar bisa memanggil pemain yang jauh lebih muda untuk dibina di pelatnas.
    2. pemain yang memiliki permaian bagus namun tidak berkembang pada sektor bermainya sekarang sebaiknya dicarikan solusi apakah dengan memindah sektor ato dilakukan pendekatan untuk mencari solusinya, namun tetap diberikan batas waktu untuk menunjukan prestasinya.
    3. ini yang paling extrim menurut saya, buang pemain pelatnas yang tidak bisa menunjukan prestasi dengan batasan umur 24 tahun, sehingga setiap sektor hanya maksimal 2-3 pemain ato pasang pemain sehingga bakal tercipta keadaan yang kondusifuntuk persaingan, dimana masing2 ingin menunjukan prestasinya klo ga bakal dikeluarkan.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : lanqkar
    Jumat, 18 Maret 2016 12:48:20

    4. dengan adanya pengerempengan pemain maka PBSI akan memiliki dana lebih sehingga bisa memberikan kesejahteraan lebih kepada para pemain yang memberikan prestasi, jadi kesannya pemain tidak cuma mengeluarkan keringat untuk negara tetapi negara juga memberikan apresiasi yang setimpal kepada pemain.
    5. Kepada pemain dan pelatih baiknya untuk melakukan perbaikan secara besar-besaran atas kinerjanya semua, pemain harus sadar akan kekurangan dan kelebihan diri begitu juga pelatih sehingga bisa tercipta keadaan yang lebih baik.

    sekian dan terima kasih, mohon maaf bisa ada kekurangan dalam penyampaian saya.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : moemoe
    Jumat, 18 Maret 2016 13:28:22

    Evaluasi dibutuhkan untuk mengEVALUASI strategi PB PBSI sendiri dalam mengoptimalkan kemampuan pemain-pemainnya.

    Bagaimana kita yakin kalau kesalahan ada di pemain jika prestasi mereka tak selamanya di bawah? Artinya, pemain-pemain kita memiliki kemampuan teknis yang tidak buruk, bahkan bagus. Namun mengapa mereka tidak optimal? Ada faktor teknis dan non-teknis. Kesemuanya membutuhkan dukungan pihak lain di luar pemain untuk mengantisipasinya. Apalagi, situasi persaingan sudah demikian sengit dan variable non-teknis saat ini sudah demikian banyak dan beragam.

    Jika dulu pemain bisa terganggu psikologinya hanya dari lingkungan dekat, sekarang ada social media dengan segala cuitan sembarangan yang bisa mempengaruhi pikiran mereka. Dan masih banyak faktor lagi. Ibaratnya, dunia sudah berubah dan antisipasi harus dilakukan secara cerdas, KEKINIAN, dan segera! Jika tidak segera diantisipasi, bisa jadi masalah tidak kelar-kelar seperti keterlambatan pemerintah mengantisipasi persoalan GoJek, GrabCar, Uber taxi dan sejenisnya. Banyak variable yang harus dipertimbangkan namun karena wawasan masih sempit ributnya masih di situ-situ saja.

    Begitu pun PB PBSI. Jangan sampai mereka berkutat di pusaran persoalan yang sebenarnya harus diperlebar. PB PBSI ibaratnya adalah mesinnya. Motornya. Jangan-jangan strategi pengembangan dan pembinaan atau apalah itu namanya sudah basi. Pendekatan kepada pemain (untuk urusan psikologi) juga sudah usang seperti masa ORBA yang tentu saja kini tidak efektif lagi.

    Evaluasi perlu. Namun, kini saatnya PB PBSI mengevaluasi dirinya sendiri.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : youmi
    Jumat, 18 Maret 2016 13:53:10

    Setuju. Kl menurut pendapat sy seharusnya promosi degradasinya bisa dilakukan 'lebih sadis'. Dalam artian jangka waktu evaluasinya lebih dipersempit, tiap 6 bulan misalnya. Dipersentase kinerja pencapaian targetnya dalam turnamen2 yg diikuti selama 6 bulan itu, kl tidak memenuhi langsung degradasi tanpa kompromi untuk nomor tunggal, dibongkar pasang pasangannya untuk nomor ganda. Kemudian penggantinya jg nanti diperlakukan sama, tidak dibeda-bedakan untuk nomor tunggal. Yang nomor ganda lanjut evaluasi 6 bulan lg dengan pasangan barunya. Jadi yg nomor ganda udah dikasih kesempatan tuh kurang lebih 1 tahun. Kalau tidak memenuhi target lg, degradasi harga mati untuk si pemain nomor ganda.

    Untuk yg baru promosi dr klub, karena dia masih baru, ibaratnya baru pindah kolam, ya periode 6 bulan itu ga usah langsung ditetapkan, kasih waktu latihan dan adaptasi dl masih ok lah, misalnya selama 1-2 bulan latihan dikarantina di pelatnas.

    Kalau programnya sudah jelas kaya gitu kan, mungkin para badminton lovers atau fans bulutangkis tidak akan mem-'bully' berlebihan atlet2 yg tampil jelek, karena tahu nanti 6 bulan ke depan jg bakal di degradasi atau diganti pasangannya tuh dengan sendirinya, sistemnya sudah jelas. Niscaya ga akan ada lagi tuh 'Hayom-Hayom' yang malang melintang di pelatnas selama bertahun2 tanpa prestasi, yang bikin kita kesel.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : moemoe
    Jumat, 18 Maret 2016 14:08:13

    Dear @youmi,
    Lalu apa bedanya mereka bergabung bersama Pelatnas dengan mereka menjadi pemain profesional?

    Jika melihat prestasi pemain Indonesia yang fluktuatif, evaluasi tidak hanya berlaku untuk para pemain, namun yang jauh lebih penting adalah EVALUASI TERHADAP SISTEM MANAJEMEN PB PBSI sendiri dalam mengelola serta mengoptimalkan kemampuan pemain-pemainnya.

    Pemain bukan mesin Mereka adalah manusia. Pendekatannya jauh lebih kompleks dan memerlukan strategi yang sangat komprehensif. Aspek-aspeknya harus menyentuh banyak sisi teknis dan non-teknis. Pendekatan personal bahkan sangat diperlukan karena masing-masing manusia itu unik, begitu pun dengan pemain bulutangkis. Mereka memiliki perspektif yang pasti berbeda-beda dalam melihat sebuah pertandingan, melihat kelebihan lawan hingga memiliki kecerdasan beragam dalam mengelola diri mereka sendiri. Banyak sekali yang harus disentuh.

    PB PBSI harus profesional. Orang-orangnya harus punya kemampuan manajerial yang mumpuni. Sudah bagus di antara mereka ada mantan-mantan pemain yang sarat pengalaman. Tinggal memadu dengan faktor-faktor kekinian, sains dan teknologi, serta teknik-teknik pembinaan termutakhir sesuai dengan kebutuhan dan tingkat persaingan.

    Bicara memang mudah. Namun kesadaran untuk mengevaluasi diri mereka (PB PBSI) sendiri sudah menjadi keharusan, sebagaimana mereka selalu mengevaluasi kemunduran pemain-pemainnya. Apa mereka tidak pernah berpikir bahwa kemajuan ataupun kemunduran pemain-pemain bulutangkis Indonesia adalah bagian dari keterlibatan mereka?

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : kopipanas
    Jumat, 18 Maret 2016 14:17:45

    ikut senang bacanya
    lama ga ada thread dr pngembangan kreativitas ts

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : terutama
    Jumat, 18 Maret 2016 15:42:39

    klo pbsi terkesan ga tegas dlm punishment bisa jadi krn mereka ngerasa sayang ngebuang atlet yg udah dibina segitu lama..pdhl klo ambil yg baru dari klub kesenjangan masih jauh, perlu waktu lagi utk moles. sebenernya ada nya kesempatan magang itu udah bagus..utk ngurangin gap antara pelatnas dan klub.

    contoh aja hasil buangan dari pelatnas spt sony dwi kuncoro..klo ketemu yunior nya spt ihsan, ginting..mungkin sony masih menang pengalaman. atau hera desi..yg pas kejurnas kemarin malah bisa ngalahin lindaweni. emang gemblengan di pelatnas ama klub itu beda.

    lebih setuju klo perampingan aja, ga usah terlalu gemuk dan ga usah manggil atlet klo emang dirasa kurang prospek.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : youmi
    Jumat, 18 Maret 2016 16:21:46

    @moemoe

    Saya juga termasuk orang yang setuju untuk evaluasi PBSI bila dibutuhkan. Saya salah satu orang yang kecewa dengan manajemen agenda keikutsertaan atlet dalam turnamen2, sebagai contohnya. Tapi menurut saya secara umum manajemen di PBSI ini sudah cukup baik. Bila dibandingkan dengan PSSI misalnya, yang banyak mafia2 nya, keuangannya tidak transparan, ketum dan pengurusnya tidak capable, dll, menurut saya PBSI jauh lebih baik. Saya juga lebih percaya pengurus2 yg sekarang dibanding pengurus2 pada periode sebelumnya. Saya nilai mereka lebih 'bersih' dan capable setidaknya. Saya tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal nonteknis seperti unsur KKN, mafia, tidak transparan, dll dengan kepengurusan PBSI sekarang. Kalau masih ada kekurangan di sana sini, ya saya mau pakai kata2 Anda, pengurus juga manusia.

    Kl soal pelatih, menurut saya, mereka2 ini sudah merupakan yang terbaik. Prestasi mereka juga ada kan. Terutama di nomor ganda. Di nomor tunggal putra, sudah ada progressnya lah setidaknya. Kalau di nomor tunggal putri, saya no comment aja, hihi.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : youmi
    Jumat, 18 Maret 2016 16:22:29

    Lanjutan @moemoe

    Mengenai penerapan penggunaan psikolog, sport science, dll. Saya setuju. Seharusnya PBSI harus bertindak secepatnya untuk menggunakannya secara optimal, tidak perlu dipikir2 lagi. Dana jg kan seharusnya tidak ada masalah, jadi harus tunggu apa lagi, nanti makin jauh tertinggal dengan negara-negara lain.

    Satu hal lagi, mengenai evaluasi ini kan agak sulit juga dilakukan. Harus ada turut campur tangan org 'di atas' yang berwenang melakukan evaluasi. Jadi saat mau mengevaluasi mereka perlu parameter2 yang jelas sebelum melakukan evaluasi itu, misalnya gatot di Thomas Uber, gatot di olimpiade, dll. Itu baru PBSI bisa di evaluasi, diminta pertanggungjawabannya. Selama ini kan atlet2 tuh yg menyelematkan 'muka' PBSI, di ajang seperti SEA games, Asian games, Kejuaraan dunia dan turnamen2 SS/SSP. Istilahnya saat PBSI 'diintervensi' evaluasi, mereka bisa bela diri dengan mengatakan, 'atlet gue mencapai target di SEA games tuh, atlet gue dapet medali emas di Asian games tuh, menang di kejuaraan dunia tuh' dst.

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : Hammond
    Jumat, 18 Maret 2016 16:39:06

    numpang eksis

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : kopipanas
    Jumat, 18 Maret 2016 17:03:44

    ada teman, wkwk

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : moemoe
    Jumat, 18 Maret 2016 20:25:07

    Hi @youmi

    yes, yes, saya sepaham dengan Anda! :)

  • Re: Evaluasi atau Punishment
    Oleh : ipang_bam
    Minggu, 20 Maret 2016 07:05:30

    Sangat setuju sekali dengan pendapat dari rekan forum Langkar. Memang sangat dibutuhkan parameter prestasi yang jelas akan sorang pemain dpt bertahan di Pelatnas. Karena masih banyak bibit-bibit baru yg menanti untuk mengganti posisi pemain yg tidak berkontribusi besar dalam pencapaian prestasi. Didalam dunia bulutangkis dan olahraga cabang lainnya, prestasi yg diraih berpacu melawan majunya umur atlit itu sendiri. Kondisi fisik tdk bisa dipungkiri. Lebih baik merawat mesin baru daripada mesin lama. Disinilah tahapan dimana guru (pelatih) harus tega dan tegas thd murid akan keputusan prestasinya. Memang tidaklah mudah namun kita tidak boleh menutupi rejeki pemain-pemain baru yg akan masuk ke Pelatnas. Bahkan sebagai bukti transparansi, disiarkan LIVE saja seleksi pemain Pelatnasnya dengan formula tahap akhir diadu dgn pemain yg akan didegradasi..

Respon Anda?

Untuk meramaikan diskusi, Anda harus login terlebih dahulu.


PB Djarum



@portalbulutangkis

Forum Diskusi

Diskusi Terbaru

Respon Terbaru