Berita > Artikel > Sportainment

Sporttainment
Schumacher vs Senna: Siapa Terhebat?

Senin, 13 November 2006 16:14:25
2890 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Satu hal yang tak dapat dibantah mengenai Schumacher, dialah pembalap yang paling sukses dalam sejarah F-1, sehingga untuk membandingkannya dengan pembalap legendaris F-1 yang ada, rasanya sangat sulit. Mengingat era Schumacher dengan pembalap-pembalap legendaris tersebut jauh berbeda.

Banyak pendapat yang mengatakan, pembalap F-1 terbaik adalah Juan Manuel Fangio yang mampu meraih gelar juara dunia sebanyak lima kali. Ada juga yang mengatakan Sir Jackie Stewart, juara dunia F-1 tiga kali sebagai yang terhebat. Namun semuanya tak dapat menandingi Schumacher yang mampu meraih gelar juara dunia sebanyak tujuh kali (1994, 1995, 2000, 2001, 2002, 2003, 2004).

Lalu siapa pembalap di masa lampau yang mampu menandingi kedigdayaan Schumacher? Jika hal itu ditanyakan kepada pelaku-pelaku di ajang F-1, banyak suara yang mengatakan pembalap Brasil, Ayrton Senna yang paling layak menandingi Schumacher. Meski sudah tewas dalam kecelakaan saat balapan di GP San Marino, 12 tahun lalu, nama Senna, juara dunia F-1 sebanyak tiga kali (1988, 1990, 1991) banyak dikenang dan dipuja sebagai pembalap F-1 terbaik.

Jika membandingkan secara statistik, jelas Senna masih kalah. Tetapi hal itu dikarenakan dia tewas terlalu cepat (1994). Jika dia masih ada, tentunya punya prestasi yang tak kalah gemerlapnya dibandingkan Schumacher. Tetapi tak perlu kita berandai-andai.

Bertolak Belakang

Bagaimana membandingkan Schumacher dengan Senna? Tak mudah dilakukan! Kedua pembalap memiliki karakter yang bertolak belakang.

Schumacher menjadi hebat karena kedisiplinannya yang baja. Dia mampu meredam emosinya saat tampil di ajang balapan F-1 selama 16 tahun. Bahkan dia mampu meredam emosinya saat ibunya meninggal pada tahun 2003. Ketika itu, dengan dingin Schumacher naik ke podium di GP San Marino, satu jam setelah sang bunda wafat. Namun bagaimanapun juga Schumacher adalah manusia biasa, yang tak kuasa menahan kesedihannya seusai upacara di podium.

Dalam segi teknik membalap, Schumacher dikenal sangat memperhitungkan segala sisi. Dia mampu tampil secara konsisten sehingga banyak yang menyebutnya sebagai the winning machine. Sementara buat yang sudah mengenal Senna, tentunya tahu bagaimana pembalap itu membawa emosinya saat tampil di lintasan sirkuit. Senna dikenal sebagai individu yang temperamental.

Namun ada persamaan yang dimiliki kedua pembalap itu. Mereka sama-sama arogan, dan punya kualitas dalam mengintimidasi lawan-lawannya sepanjang balapan. Buat para pembalap di era keduanya, baik Schumacher maupun Senna sebaiknya dihindari, dan tak perlu muncul dalam kaca spion. Karena jika sudah muncul, dipastikan keduanya bakal berada di belakang untuk tampil menyerang dengan agresif demi melakukan overtaking.

Kedua pembalap dikenal siap melakukan hal apa pun di lintasan, untuk meraih gelar juara dunia. Schumacher menabrak kendaraan Damon Hill di Adelaide, Australia (1994) saat kedua pembalap tengah bersaing ketat untuk meraih gelar juara dunia. Senna juga melakukannya secara brutal kepada the professor Alain Prost pada balapan di Sirkuit Suzuka, Jepang 1990. Yang pasti, keduanya sangat haus kemenangan, dan tak suka dengan kekalahan. Untuk meraih kemenangan tersebut, keduanya siap melakukan apapun, termasuk berjibaku dengan pembalap saingannya.

Pendapat

Sekarang coba simak pendapat pelaku-pelaku di ajang F-1, baik yang masih terlibat maupun sudah pension di ajang balapan mesin jet darat ini, mengenai siapa yang lebih hebat antara Schumacher dengan Senna.

John Howett (Presiden Toyota F-1 Racing). Rasanya saya lebih menjagokan Michael (Schumacher). Keduanya merupakan pembalap jenius, tetapi Michael lebih dari jenius. Dia memiliki fungsi yang lebih banyak dan berdedikasi tinggi pada timnya, katanya.

Sir Sterling Moss (mantan pembalap F-1 1950-1960). Rasanya (Ayrton) Senna jauh lebih hebat. Dia sangat kencang. Michael (Schumacher) memang yang terbaik di eranya. Sayang sekali keduanya tak memiliki waktu yang cukup lama untuk berkompetisi, ucapnya.

Pat Symonds (direktur mesin tim F-1 Renault),Saya akan menjagokan Michael (Schumacher). Karena dia lebih komplet sebagai seorang pembalap ketimbang (Ayrton) Senna. Maksud saya dia (Schumacher) senang bekerja keras dan merupakan bagian dari sebuah tim.

Bernie Ecclestone (pimpinan F-1),Anda tak dapat membandingkan keduanya. Mereka memiliki karakter yang beda. Jika Senna belum tewas, tentunya dia mampu menambah empat hingga lima kali gelar juara dunia. Jika itu terjadi, tentunya banyak pihak yang mengkritisi dia, seperti yang dialami Michael (Schumacher) saat ini.

Alex Wurz (pembalap penguji tim Williams),Rasanya (Ayrton) Senna lebih hebat, jika Anda melihatnya di sisi pembalap yang punya nyali. Sementara Michael (Schumacher) lebih karena statistik.

Heikki Kovalainen (pembalap tim Renault),Rasanya Michael (Schumacher) jauh lebih hebat. Sejujurnya saya tak banyak memori tentang (Ayrton) Senna. Memang saya tahu apa yang sudah dilakukannya, tetapi saya juga lihat Michael membalap, dan Anda tak dapat memungkiri data statistiknya.
Tentunya penilaian mengenai siapa yang terbaik, pada akhirnya ada di tangan Anda, pembaca. Namun yang pasti, baik Schumacher maupun Senna memiliki kelebihan dan juga kekurangan. [Pembaruan/Surya Lesmana]

Data Statistik Kedua Pembalap
Michael Schumacher Ayrton Senna

Pertama kali mengenal F-1 16 tahun 9 tahun, 4 bulan
Gelar Juara Dunia 7 kali 3 kali
Juara GP 91 kali 41 kali
Jumlah balapan di F-1 249 kali 161 kali
Meraih posisi terdepan 68 kali 65 kali
Kemenangan dalam satu musim
13 kali (2004) 8 kali (1988)

Sumber:suarapembaruan.com

Berita Sportainment Lainnya