Berita > Berita > Klub

Maria Kristin Sebut Lindaweni Masih Dibutuhkan di Pelatnas

Minggu, 04 September 2016 23:46:13
19934 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Current
Peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008, Maria Kristin Yulianti menanggapi kegagalan Lindaweni Fanetri di ajang Olimpiade Rio 2016. Ia menyangkan kekalahan Linda dari pemain Vietnam, Vu Thi Thrang.

Linda gagal lolos dari fase grup di Rio lalu. Ia mengalami dua kali kekalahan dari Vu dan Nozomi Okuhara (Jepang). Namun, kekalahan dari Vu lebih disoroti. Sebab, selama ini tunggal putri Indonesia selalu berada di atas Vietnam.

“Ya sedih pas lihat. Maksudnya, masa sih sama itu kalah. Kayak gitu loh. Cuma, ya gimana, namanya juga permainan. Dan mungkin sananya juga lebih siap dari Linda,” kata Maria Kristin Yulianti, yang ditemui di sela-sela kegiatan Audisi Umum di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (08/04).

“Cuma kalau dilihat, Lindaweni juga pernah kalah dari Vu. Mungkin si Vu ini lebih percaya diri, dan yakin juga karena dia pernah menang. Itu agak ngaruh juga. Mungkin dia juga berpikir kalau Olimpiade bukan pertandingan yang biasa,” lanjut Maria.

Meski gagal menunjukkan permainan terbaik, Maria berpendapat sosok pemain senior seperti Linda masih dibutuhkan di Pelatnas. Menurutnya, pemain senior bisa menjadi panutan bagi juniornya. Tidak melulu soal prestasi, para senior bisa mencontohkan hal baik lainnya kepada sang junior.

“Kehadiran senior juga ada bagusnya buat junior. Misalnya saat latihan. Ketika dulu saya melihat senior latihan, ada rasa tidak mau kalah dari dia,” ungkap perempuan 31 tahun tersebut.

Flash Back

Keberhasilan Maria meraih perunggu di Beijing delapan tahun silam, menjadi oase di tengah keringnya prestasi tunggal putri saat itu. Setelah era Susy Susanti dan Mia Audina, Indonesia harus menunggu cukup lama, hingga akhirnya muncul nama Maria.

“Kadang kalau lagi di kamar, lewat handphone saya suka melihat video pertandingan saya saat itu,” tutur Maria.

“Yang pasti senang karena tidak banyak putri di Indonesia yang dapat medali di Olimpiade. Dan saya termasuk yang salah satunya. Sebenarnya dari dulu sampai sekarang pun masih tidak menyangka,” tambahnya.

Maria menuturkan waktu itu ia tidak dibebankan target sama sekali. Ia hanya punya misi pribadi, yakni tidak ingin sekadar jadi partisipan.

“Kan tidak lucu juga baru main, kalah. Apalagi, di pertandingan pertama sudah mau kalah waktu itu,” kenang Maria.

Di masa jayanya dulu, Maria terkenal sebagai pemain yang sering bermain rubber. Bahkan, di Olimpiade Beijing, ia hampir selalu bertarung dalam tiga set. Tak ayal, julukan "miss rubber" pun sempat tersemat dalam dirinya.

“Bukan suka main rubber, tapi memang menang harus begitu. Biasanya di set pertama suka raba-raba. Meski sudah tahu permainan lawan, tapi kan pasti beda kalau lawan saya,” ucap Maria.

“Untungnya menang. Kalau rubber kalah, lebih sedih lagi itu julukannya. Haha,” tambah wanita yang akan mengakhiri masa lajangnya pada tanggal 17 September ini.

Kini, Maria berharap nantinya akan muncul lagi tunggal putri Indonesia yang berprestasi. Menurutnya, pembinaan pemain junior di Indonesia sudah lebih baik.

“Mudah-mudahan dua tahun lagi kita punya pemain tunggal putri yang bagus lagi,” tutup Maria. (jan)

Berita Klub Lainnya