Berita > Artikel > Sosok

THT Turun, Candra Wijaya Makin Optimis

Jumat, 16 September 2016 14:44:29
19404 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ada rasa haru yang menggayut Candra Wijaya ketika pemerintah Indonesia lewat Menpora Imam Nahrawi akhirnya memberikan THT (Tunjangan Hari Tua) kepada para olimpian. Setelah penantian yang lama, peraih medali olimpiade yang telah berjasa mengharumkan nama bangsa bisa menikmati buah perjuangannya.

Pemerintah akhirnya memberikan tunjangan hari tua atau seperti uang pensiun untuk para peraih medali olimpiade. Peraih medali emas mendapat tunjangan sebesar Rp 20 juta per bulan, peraih medali perak Rp 15 juta per bulan dan peraih medali perunggu Rp 10 juta per bulan. Bantuan THT ini menjadi kepastian bagi masa depan profesi atlet yang selama ini merasa tidak diperhatikan usai tidak lagi berprestasi.

Seperti beberapa atlet bulutangkis lainnya yang memilih karir sebagai pelatih atau pebisnis. Pilihan pertama adalah yang menjadi passion utama Candra, disamping menjalankan roda bisnis buat penopang hidup keluarga. Menjadi pelatih pun dijalankan Candra tak hanya sebagai pelatih murni, ada mimpi besar yang ingin diraih Candra. Membangun pelatihan bulutangkis untuk mencetak juara bulutangkis melanjutkan apa yang telah dicapainya. Puncak prestasi Candra bersama Tony Gunawan sukses mempersembahkan medali emas bagi bangsa Indonesia di Olimpiade Sydney 2000. Bendera Merah Putih akhirnya berkibar diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya The Dome Exhibition Complex, Sydney Olympic Park, Sydney, Australia.

Walau gedung bulutangkis masih menumpang, Candra Wijaya tetap semangat menjalankan pelatihan bulutangkis Candra Wijaya International Badminton Club Center (CWIBC) yang dibangunnya tahun 2009.

Tak hanya pembinaan atlet-atlet muda, Candra juga menyadari bahwa atlet butuh tantangan untuk mengevaluasi kemajuan dirinya berlatih. Di saat yang sama di tahun 2009, juga mulai menggelar turnamen khusus ganda putra. Pilihan turnamen ganda putra pun sebagai dedikasi Candra untuk membangkitkan gairah bulutangkis di nomor ganda, khususnya ganda putra yang mengantarkan karir bulutangkis Candra ke puncak prestasi. Namun demikian, sejak tahun lalu mengingat banyak masukan, maka turnamen ganda putra juga melibatkan dua nomor ganda lainnya yaitu ganda putri dan ganda campuran.

Sukses yang diraih Candra disadarinya bukanlah semata jerih payahnya semata. Ada tangan-tangan lain yang dirasakan membantu jalan sukses yang dicapainya. Sejumlah sosok pembina bulutangkis di masa karirnya tak bisa dilupakannya begitu saja. Mereka adalah Surjadi, Tri Sutrisno, Ciputra, Subagyo HS, Aburizal Bakri, Chairul Tanjung dan Sutiyoso. Semuanya diberikan penghargaan saat berlangsungnya turnamen ganda yang diselenggarakan Candra.

Di usianya yang hari ini genap 41 tahun (16 September 1975), sebagian besar waktunya habis untuk bulutangkis. Masa belajar di sekolah, atlet yang lahir di Cirebon ini pun, selalu tersita untuk berlatih bulutangkis dan mengikuti pertandingan bulutangkis. Sebuah pengorbanan yang sesungguhnya teramat mahal bagi Candra, yang juga dilakoni atlet-atlet bulutangkis Indonesia lainnya. Ini pun menjadi satu pergumulan lain Candra dalam membina atlet-atlet muda di CWIBC, bagaimana bulutangkis dan sekolah bisa berjalan seiring untuk menggapai prestasi. Tak semua atlet bisa sukses dengan karir bulutangkisnya, maka pendidikan sekolah menjadi hal utama untuk diperhatikan.

Kerjasama dengan Homeschooling Kak Seto (HKS) merupakan jalan keluar yang baik untuk mengatasi problema pelatihan bulutangkis yang dihadapi anak-anak muda Indonesia yang berkarir di olahraga. Para orang tua tidak perlu khawatir akan pendidikan anak-anaknya selama mengikuti pelatihan bulutangkis karena ada tawaran belajar dengan homeschooling. Sejak tahun 2012, CWIBC pun bekerjasama dengan HKS menyediakan wadah belajar secara homeschooling bagi anak-anak yang ingin belajar di luar sekolah formal.

Sebagai seorang atlet yang berhasil mempersembahkan medali emas bagi bangsa Indonesia di Olimpiade Sydney 2000, Bintang Mahaputra telah dikalungkan di leher Candra Wijaya. Sebagai peraih Bintang Mahaputra, Candra memiliki hak istimewa dari pemerintah. Candra berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata jika kelak ia meninggal dunia. Sebuah penghargaan yang langka bagi atlet Indonesia.

Menerima Bintang Mahaputra menjadi kegelisahan Candra. Bukan Candra tak mensyukuri Bintang Mahaputra yang telah diterimanya. Sebuah kehormatan tertinggi bagi Candra menerima Bintang Mahaputra bersama atlet bulutangkis Indonesia lainnya, Rudy Hartono, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Toni Gunawan, Taufik Hidayat, Markis Kido dan Hendra Setiawan. Namun ada pergumulan di dalam hidupnya.

Kala peletakan batu pertama pembangunan gor CWIBC yang dilaksanakan Candra Wijaya bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia H.Imam Nahrawi, S.Ag dan Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Banten H.Rano Karno bulan November 2014 di Serpong, Tangerang. Candra berkesempatan menyampaikan uneg-unegnya kepada Menpora. Candra mengusulkan pemberian gelar bagi atlet peraih medali olimpiade seperti yang diterima Lee Chong Wei di Malaysia. Lee Chong Wei menerima gelar ''Datuk'' dari pemerintah Malaysia atas prestasinya di Olimpiade Beijing dan Olimpiade London dengan meraih mwdali perak. Selain itu Chong Wei juga menerima tunjangan hari tua setiap bulannya sebagai biaya hidup selain fasilitas lainnya.

"Bagaimana kalau Candra, saya beri belar Cak. Cak Candra, seperti panggilan di Jawa Timur," demikian Menpora Imam Nahrawi kala itu menanggapi Candra dalam kata sambutannya.

Rupanya, guyonan Imam Nahrawi tak sekedar guyonan. Di tengah guyonan, Nahrawi mampu membaca kegelisahan seorang Candra. Kegelisahan yang juga menjadi kegelisahan banyak atlet Indonesia lainnya akan masa depan karir sebagai olahragawan. Nahrawi menyadari banyak pengorbanan yang telah diberikan para atlet muda menjalani karir olahraga.

Namun rupanya, tak mudah bagi seorang Menpora untuk cepat merealisasikan. Menpora Imam Nahrawi harus melewati dua tahun untuk merealisasikan bantuan hari tua bagi atlet berprestasi yang mengharumkan nama bangsa.

"Hanya pada saat kunjungan presiden dan atlet yang bisa menaikkan bendera merah putih di luar negeri," ungkap Menpora Imam Nahrawi dalam sambutannya menerima para Olimpian di Gedung Kemenpora Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Anda semua sudah membuat Indonesia bangga. Dengan kerja keras dan jerih payah yang sudah ditorehkan untuk bangsa Indonesia sudah seharusnya diberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Dan itu adalah tugas dan tanggung jawab untuk pemerintah," sebut Imam Nahrawi.

Nahrawi dalam kesempatan yang sama saat menerima para olimpian menyebutkan bahwa THT nantinya akan diberikan juga kepada atlet yang berprestasi di tingkat Asian Games dan Asean Games.

"Presiden Jokowi menaruh perhatian khusus untuk hal ini, dan akan diterbitkan Kepres yang khusus mengatur penghargaan kepada para atlet. Sehingga penentuan anggarannya akan mudah dikelola," ungkap Nahrawi.

Upaya Candra memperjuangkan nasib para atlet usai tidak lagi berprestasi mulai menyiratkan cahaya optimis.

"Kehausan, pencapaian prestasi dan dedikasi anak bangsa tentu bukan semata karena hadiah, bonus atau pun tht. Begitu banyaknya pengalaman dan cerita yang menyedihkan melihat mantan atlet berprestasi hidupnya berantakan," tutur Candra kepada Bulutangkis.com.

"Ini merupakan sejarah, artinya pemerintah dalam hal ini sudah turun tangan secara konkrit dan berharap ini akan menjadi dampak yang positif dan sangat strategis kedepan. Ini juga menyangkut masalah nasionalisme kita. Jadi bukan seperti selama ini, kita sudah mengorbankan segala sesuatu untuk meraih prestasi tapi di kemudian haei masih harus berpikir lagi bagaimana bekerja dan mencari uang," tutur Candra, yang kini dikarunia dua anak, Gabriel Christopher Wintan Wijaya dan Christina Joshephine Wintania Wijaya, buah perkawinannya dengan Caroline Indriani.

Kebijakan pemerintah yang kini semakin memperhatikan nasib para atletnya membuat Candra optimis karir sebagai olahragawan akan lebih terbuka. Para orang tua pun akan rela mendorong anaknya untuk menekuni olahraga sebagai profesi. Demikian juga Candra kini tak gusar lagi bila Wintan Wijaya, sang putra sulung akan mengikuti jejaknya sebagai pebulutangkis. Wintan kini aktif berlatih bulutangkis di klub CWIBC.

Cita-cita besar meneruskan impian sang Papa, Hendra Wijaya, kala membangun klub bulutangkis Rajawali di Cirebon pun akan berkelanjutan. Darah bulutangkis yang mengalir ke anak-anak pasangan Hendra Wijaya dan Indranita lainnya, Indra Wijaya, Rendra Wijaya dan Sandrawati Wijaya, akan menjadi modal yang tak terbilang nilainya.

Di tengah penantian selesainya gedung CWIBC di Serpong, Candra kini semakin optimis olahraga bulutangkis akan semakin digemari masyarakat. Tak hanya sekedar olahraga rekreasi, namun anak muda Indonesia akan tetap bersemangat menekuni bulutangkis sebagai jalur profesi. (*)

Berita Sosok Lainnya