Berita > Artikel

Apa iya gak ada pemain yang tergiur hadiah gede?

Selasa, 07 Maret 2017 13:37:13
9667 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Perihal jika juara stok lama saya kira wajar. Meskipun ada pensiun massal pasca Olimpiade Rio 2016, praktis nama-nama pemain unggulan masih diisi nama-nama yang mungkin sudah 10 tahun lebih wara-wiri di papan atas bulutangkis. Tentunya ganda campuran fenomenal Zheng Siwei/Chen Qingchen adalah pengecualian.

Turnamen tenis Australia Open 2017 terjadi pertemuan klasik antara Roger Federer dan Rafael Nadal, setelah kejadian terakhir terjadi di tempat yang sama 8 tahun sebelumnya.

Jika beranndai-andai, karena drawnya sendiri memungkinkan, saya sangat berharap ada clash antara Lee Chong Wei dan Lin Dan di final All England. Tentunya untuk ini akan terwujud jika Lee Chong Wei harus melewati Chen Long terlebih dahulu.

Begitupun untuk ganda campuran, saya inginnya Owi/Butet yang juara. Dan kalaupun itu itu dibilang sebagai pembinaan yang tidak berjalan saya kira juga tidak tepat, pembinaan bisa diukur dengan dimana progress masing-masing pemain terhadap targetnya. Apa iya kita mengirim Owi/Butet tapi malah inginnya mereka yang gak juara.

Beberapa tahun lalu, legenda bulutngkis Denmark, Peter Gade berujar bahwa dibandingkan dengan tenis, bulutangkis masih jauh sekali dilihat dari popularitas dan hadiahnya. Memang harus diakui bahwa kondisinya seperti itu, kehadiran Carolina Marin dan tunggal putra India adalah sinyal yang sangat bagus untuk perkembangan bulutangkis, termasuk pindahnya Tony Gunawan atau Zhang Beiwen ke Amerika. Duet Hendra Setiawan/ Tan Boon Heong yang beberapa kali dibully di forum ini juga merupakan sinyal bagus buat bulutangkis, bahwa olah raga ini sedang menapaki jalan profesional yang mulai tertata.

Terakhir sangat terdengar konyol apabila masih ada aja yang komentar, Indonesia Master tidak ada live streamingnya kalah dengan turnamen kecil di Eropa. Ketahuilah bahwa live streaming statis tersebut ada untuk keperluan pasar taruhan, bisa jadi Indonesia master gak ada karena regulasi di Indonesia belum memungkinkan untuk perekaman pertandingan untuk keperluan taruhan.

Akhir kata, bangga akan bangsa Indonesia dan wakilnya di cabang ini memang wajib, tapi kebanggaan ini mestinya sejalan dengan kecintaan terhadapa olahraga ini. Dua hal ini saling mengisi satu sama lain. Tentunya jika bulutangkis maju, terkenal dan money prizenya banyak. Apa iya gak ada pemain yang tergiur? (Pete Bakar)

Berita Artikel Lainnya