Berita > Artikel

Ada Atlet Dinomorduakan, Kenapa Bisa? (Bagian 2)

Rabu, 26 April 2017 06:01:04
13811 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sebenarnya dengan dulu memiliki Pak Gita Wiryawan, PB PBSI dapat berharap bisa mengadopsi keberhasilan beliau dalam mengelola SDM di bisnisnya. Tentu saja pegawai dan pemain memiliki karakteristik berbeda. Namun, dalam manajemen SDM tentu ada strategi mendasar yang serupa.

Rata-rata atlet Indonesia, terutama bulutangkis, memiliki keunggulan di sisi bakat. Hampir semua pemain bulutangkis Indonesia sangat menonjol bakatnya. Namun, kelemahannya ada di sisi intelektualitas karena rata-rata tidak didukung latar belakang pendidikan tinggi. Sekolah sepintas memang tidak ada hubungannya dengan teknik bermain. Namun, sekolah dengan serangkaian mata pelajaran dan diskusi yang didesain mengasah ketajaman berpikir tentu sangat berarti ketika pemain mengadu strategi di lapangan. Mungkin ini yang menjadikan pemain-pemain Eropa, Korea Selatan atau negara lain mampu melawan bakat dan kepiawaian teknis pemain-pemain Indonesia.

Sangat berharap PB PBSI memasukkan metode pengasahan otak selain memperkuat kemampuan teknis pemain. Membentuk kelompok diskusi sosial yang fun dan melibatkan ahli strategi manajemen atau bahkan ahli strategi perang, serta bersifat rutin, mungkin bisa berdampak positif bagi pemain. Tentu saja dengan metode pendekatan yang tidak membuat mereka justru menjadi jenuh. Tim Psikolog PB PBSI bisa terlibat karena mereka pasti tahu bagaimana cara mengembangkan daya kemampuan otak. Dengan kecerdasan, pemain bisa mengelola dan mengoptimalkan kemampuan teknis hingga fisik di lapangan. Karena otak mereka akan terus berputar dan tidak akan ada cerita pemain buntu berpikir ketika pemain lawan mengubah strategi.

Tentang komentar Richard Mainaky, Hendri Saputra dan Eng Hian yang senada mengaku fokus pada pemain tertentu dan abai kepada pemain lain sesungguhnya agak membingungkan. Ini semacam ada konfirmasi tidak adanya pembinaan yang sistematis yang diterapkan oleh PBSI.

Logikanya, jika semua sudah terpola kurikulum pembinaannya, maka PBSI tinggal menuai hasilnya sesuai dengan program dan target-target yang telah dicanangkan untuk dicapai. Seharusnya, setiap pemain telah memiliki agenda pengembangan prestasinya. Mereka juga seharusnya telah memiliki semacam jenjang karir yang harus dilaluinya jika ingin semakin matang permainannya dan ingin mencapai prestasi yang diinginkannya. Ada porsi yang harus dihabiskan oleh setiap pemain untuk bisa menikmati porsi selanjutnya. Olimpiade dan kejuaraan penting lainnya ada di porsi istimewa yang mana setiap pemain harus lulus di stages di bawahnya. Artinya, jika sesuai dengan agenda yang diformulasikan, meskipun pelatih saat itu fokus kepada pemain untuk olimpik, maka pemain lainnya pun tetap tak terbengkalaikan karena sudah ada sistem yang menjaga.

Tapi saya percaya bahwa dugaan saya keliru dan memilih yakin bahwa sistem di PBSI telah terbangun solid, namun hanya sekali ini terganggu oleh faktor X yang entah bagaimana tiba-tiba muncul. (Moemoe)

Berita Artikel Lainnya