Berita > Artikel > Pariwara

Warning Di Balik Euforia

Senin, 10 Juli 2017 13:15:57
1499 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sukses yang diraih ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di ajang BCA Indonesia Open Super Series 2017 memang patut disyukuri. Wajar, setelah tiga tahun puasa gelar di kandang sendiri, gelar itu seperti melepas dahaga.

Terlebih lagi, di sektor ganda campuran gelar terakhir yang bisa dimenangkan terjadi 12 tahun silam. Pelakunya tetap Liliyana yang pada tahun 2005 lalu masih berpasangan dengan Nova Widianto yang kini sudah gantung raket.

Tontowi/Liliyana tentu berhak menikmati euforia keberhasilan mereka menjuarai BIOSSP 2017. Namun di balik kemenangan itu ada warning kekhawatiran yang patut menjadi perhatian jajaran kepelatihan ganda campuran PP PBSI yang dikepalai oleh Richard Mainaky.

Keberhasilan Owi/Butet -sapaan akrab mereka- justru makin menegaskan gap atau jarak prestasi yang jauh antara mereka dengan para yuniornya. Hingga separuh musim 2017 berjalan, juara di BIOSSP jadi satu-satunya gelar di kategori ssnior yang ditoreh skuad ganda campuran 'Merah Putih'. Nasib serupa dialami sektor tunggal putri. Tiga sektor lainnya sudah mempersembahkan gelar untuk Indonesia di level Super Series (Premier), Grand Prix (Gold), dan International Challenge.

Untuk ganda campuran, tengok capaian Praven Jordan/Debby Susanto yang digadang-gadang menjadi penerus Owi/Butet. Usai menjuarai All England Open 2016, praktis tak ada gelar yang diraih Praveen/Debby. Jika pun ada yang bisa disebut prestasi di 2017, itu adalah runner-up Swiss Open Grand Prix Gold pada Maret serta runner-up Australia Open Super Series, akhir Juni.

Di BIOSSP 2017, Praveen/Debby, yang menempati unggulan 7, bahkan sudah tersingkir di babak I, akibat kalah dari ganda non-unggulan dari Denmark, Mathias Christiansen/ Sara Thygesen, 21-15, 19-21 11-21. Selain Owi/Butet, tak ada ganda campuran kita yang mampu melewati babak II atau 16 besar.

Ganda-ganda campuran pelapis sepertinya masih 'terlalu nyaman' dengan masih berprestasinya Owi/Butet. Mental negatif ini sudah diusahakan oleh Richard dan para staf pelatihnya untuk dihilangkan, tetapi tampaknya sampai sekarang belum berhasil.

Namun, apa boleh buat. Indonesia sepertinya memang masih harus bertumpu pada Owi/Butet. Peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 ini sudah diproyeksikan untuk memperkuat kontingen 'Merah Putih' di Asian Games 2018 dan bahkan, jika memungkinkan, Olimpade Tokyo 2020.

Padahal, bila memang ikut Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus - 2 September 2018, Owi akan berusia 31 tahun dan Butet genap berusia 32 tahun. Artinya, saat Olimpide Tokyo 2020 dihelat pada 24 Juli - 9 Agustus 2020, Owi sudah berusia 32 tahun dan Butet 34 tahun.

Masih cukup pantaskah Indonesia berharap pada Owi/Butet?

Demikian tulisan Daryadi, Pemimpin Redaksi Majalah Bulutangkis Indonesia menuang catatan ringannya di kolom Salam Bulutangkis pada edisi 24 bulan Juli 2017.

Beban yang menjadi tanggung jawab Owi/Butet ini sepertinya tak bisa pindah ke pundak para juniornya. Dan ini menjadi sorotan Bulutangkis Indonesia kali ini.

Selain itu, simak perjuangan Owi/Butet di ajang kejuaraan bulutangkis BIOSSP 2017. 'Akhir Kutukan Owi/Butet' merupakan salah satu cerita di balik berita seputar ajang BIOSSP 2017 yang berlangsung di saat bulan Ramadhan lalu. Cerita di balik berita lainnya yang diangkat adalah 'Kemenangan Kidambi Berbau Indonesia', 'Rapor Merah untuk Tunggal Putra', 'Penantian Tujuh Tahun Sato', 'Paceklik Gelar Belum Juga Usai', 'Pembalasan Dendam Li/Liu', 'Potensi Terganjal Inkosistensi' dan 'Apresiasi Untuk Ganda Putri'. Berita BIOSSP 2017 memang sudah diketahui, namun membaca tulisan di atas penggemar bulutangkis tak lagi penasaran di balik berita yang terjadi di arena pertandingan.

Edisi kali ini pun menjadi penghapus dahaga info penggemar bulutangkis akan sosok Apriani Rahayu. 'Enam Partai Langsung Kampiun' dan 'Mimpi Besar Anak Desa Lawulo' akan menyajikan sosok Apriani lebih dekat.

Wow, banyak cerita-cerita lainnya yang semakin menghilangkan rasa penasaran. Ada Yuni Kartika, yang selalu menemani kita menyaksikan laga lewat televisi. Kangen Gao Ling? Eddy Hartono, Kempong dan Pukulan Kedut.

Selingan kuis teka-teki bulutangkis berhadiah sepatu Eagle masih ada. Juga bonus poster Owi/Butet pun ada diselipkan. Tunggu apalagi? (*)

Majalah BULUTANGKIS INDONESIA
Alamat redaksi :
Grand Depok City
Sektor Melati Blok D1 No.5
Depok 16413
Telp/fax: (021) 8760254
Email: majalahbulutangkisindonesia@gmail.com

Info berlangganan :
WA : 0817-734-835
Line : majalahbulutangkis

Berita Pariwara Lainnya