Berita > Artikel > Sosok

Hendry Saputra: “SEA Games ini adalah ujian buat dia”

Selasa, 29 Agustus 2017 20:04:56
10729 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • ©Badmintonindonesia.org

  • Current
Andalan tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, mampu menjalankan tugasnya dengan baik di ajang SEA Games 2017. Satu medali emas dipersembahkan Jonatan di nomor perorangan setelah menaklukkan andalan Thailand, Khosit Phetpradab dua game langsung 21-19 dan 21-10 hari ini (Selasa, 29/8) di Kuala Lumpur.

Pada nomor beregu pun, tim tunggal putra tak pernah mengalami kekalahan, mulai dari laga perempat final melawan Kamboja di perempat final, Thailand di semifinal hingga Malaysia di final.

“Target sudah tercapai dari tunggal putra. Yang saya nilai itu mental dan daya juang. Di samping medali emas, ini yang penting bagi saya,” kata Hendry Saputra, Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI.

Disebutkan Hendry, mengutip di Badmintonindonesia.org, sebagai satu-satunya wakil Indonesia di babak final, Jonatan berhasil memanage beban dan tekanan yang ada.

“Tegang pasti ada di dalam diri setiap pemain, tetapi Jonatan bisa melewati ini, bagus, ini proses kematangan buat dia. Medali emas ini merupakan hasil persiapan kami selama sebulan. Kami sudah atur bagaimana dia bermain di SEA Games,” ujar Hendry.

“Sudah ada kemajuan untuk Jonatan, ada problem tapi dia bisa mengatasi. Untuk ukuran pemain tunggal, usia dia masih muda, masih 20 tahun. Banyak pemain dunia yang mengalami tekanan di lapangan dan belum tentu bisa mengatasi,” tuturnya.

Dalam perjalanannya ke final, Jonatan mengalahkan wakil Thailand lainnya, Suppanyu Avihingsanon di babak pertama lewat rubber game 14-21, 21-8 dan 21-17. Di laga perempat final, Jonatan menang mudah atas wakil Singapura, Ng Zin Rei Ryan dua game langsung 21-13 dan 21-13. Jonatan juga menghentikan perlawanan pemain senior asal Vietnam, Nguyen Tien Minh, dengan skor 21-11 dan 21-16 dan lolos ke final.

“Memang Jonatan semestinya sudah siap di level yang lebih tinggi. Tetapi SEA Games ini adalah ujian buat dia, apakah dia benar-benar siap di level yang lebih tinggi? Dan dia bisa melewati ujian ini. Kami kan sudah coba ikutkan dia di level super series, memang masih butuh waktu untuk lebih matang, harus lebih konsisten,” sebut Hendry.

Sementara itu, Hendry berharap tunggal putra dapat menciptakan partai all Indonesian final. Namun Ihsan Maulana Mustofa terhenti di semifinal dari Phetpradab, dengan skor 10-21 dan 21-23.

“Memang tidak bisa dijadikan alasan, tetapi tidak bisa dipungkiri kondisi Ihsan sebetulnya kurang fit, ada cedera otot perut setelah laga semifinal. Hal ini membuat dia tidak bisa mengeluarkan power dan speed nya saat melawan Khosit, tidak tampil maksimal,” ujar Hendry. (*)

Berita Sosok Lainnya