Berita > Artikel

Catatan Ringan Bulutangkis Untuk Mbak Susy Susanti

Rabu, 30 Agustus 2017 04:57:08
11087 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Current
Saya setuju dengan @moemoe. Analisa yang tidak hanya berisi namun juga cerdas. Sebenarnya program-program dari Mbak Susy Susanti sudah bagus. Dengan sistem target oriented jadi terlihat jelas sampai dimana kemampuan atlet sebenarnya baik dalam hal fisik maupun mental. Hanya saja sistem ini tidak bisa dijalankan oleh Mbak Susy sendiri, membutuhkan bantuan dari semua pihak agar kesuksesan bulutangkis Indonesia bisa segera terlihat.

Melihat kegagalan demi kegagalan yang diperoleh bulutangkis kita, sangat perlu dilakukan perombakan total. Tidak hanya perombakan dari sisi pemain, baik itu perombakan pasangan ataupun komposisi per sektor, tapi juga perombakan dari sisi pelatih.

Untuk dari sisi pelatih, saya juga ingin lebih menekankan pada komposisi atau perencanaan yang dilakukan dalam membangun kekokohan pada sektor yang berada di bawah tanggung jawabnya, baik itu kekokohan dalam bentuk peningkatan kemampuan dan fisik anak didiknya maupun dari segi pembangunan mentalnya tanpa pilih kasih. Jika tidak ada perubahan di sisi ini maka sekalipun mereka adalah pelatih yang sudah berpengalaman, tapi kalau tidak bisa mengubah hal-hal buruk yang terjadi di sektor yang mereka emban, maka perubahan dalam susunan kepelatihan yang ada di pelatnas saat ini menjadi wajib untuk dilakukan jika ingin perubahan yang lebih baik bisa segera terwujud.

Dari segi pemain, saya menunggu realisasi dari Mbak Susy mengenai bermain rangkap. Jangan hanya diterapkan untuk pemain di kelas Pratama saja, tapi juga di kelas Utama (Senior). Yang sudah memiliki prestasi di ajang-ajang besar harus menjadi pemain yang masuk dalam kategori “dilarang” untuk bermain rangkap. Tidak hanya menimbang prestasinya, tetapi juga kondisi fisik mereka baik itu yang masih dirundung cedera maupun yang pernah mengalami cedera parah di masa lalunya. Sementara sisanya, rangkapkan semua. Tanpa terkecuali. Jika pemain sudah dirangkapkan dan menunjukkan prestasi di satu sektor tertentu dan itu memang memiliki prospek yang menjanjikan, baru boleh diizinkan untuk menggeluti satu sektor saja. Tapi jika ternyata si pemain bisa berprestasi di 2 sektor sekaligus, PBSI tidak punya hak untuk melarang si pemain untuk menekuni dua-duanya kecuali si pemain itu sendiri yang memintanya. Dengan catatan, sudah ada prestasi di event besar yang diraihnya.

Tidak hanya soal bermain rangkap, perombakan susunan pemain juga sangat perlu dilakukan. Ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) memang menjadi salah satu alat untuk penyeleksian pemain yang layak masuk ke pelatnas. Tapi mengingat tidak sedikitnya pemenang Sirnas yang berasal dari kalangan “mantan pelatnas” membuat tim pelatih harus ekstra super duper jeli dalam menyeleksi pemain. Di dalam pelatnas sendiri juga harusnya dibuat batasan yang jelas. Jika dalam batas umur tertentu masih belum memiliki (menunjukkan) kemampuan yang mumpuni dan sudah tidak mampu lagi bersaing di level tertinggi, jangan lagi ada rasa segan untuk mendepak pemain tersebut agar bisa memberikan kesempatan kepada pemain yang lebih muda yang memang memiliki kemampuan yang lebih baik untuk naik kelas dan mencoba.

Selain soal perombakan pemain dan bermain rangkap, pemasangan dengan pola “SenJu” (Senior – Junior) juga tidak boleh dikesampingkan begitu saja, terutama untuk mematangkan pemain-pemain muda. Sudah terlalu banyak contoh nyata keberhasilan yang cukup berkesan dan tahan lama yang dihasilkan dari proyek SenJu ini. Beberapa contoh yang paling dekat adalah Liliyana Natsir, Marcus Fernaldi Gideon, Tontowi Ahmad. Terlepas dari alasan memang mereka berbakat, mereka adalah hasil dari proyek SenJu. Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan dibimbing oleh orang yang lebih senior bisa meningkatkan pemahaman akan permainan serta pengalaman mereka.

Namun dalam melaksanakan proyek SenJu ini, kita memiliki kendala dimana tidak begitu banyak senior yang bisa ditandemkan pada pemain-pemain muda. Liliyana masih berkutat dengan penyembuhan cedera, sementara Ahsan sedang dalam masa adaptasi dan transisi dengan Rian yang secara mengejutkan menunjukkan hasil yang baik di BWF World Championships 2017, lalu Greysia yang justru kembali bermasalah dengan kemampuan teknisnya (servis) dan Nitya yang masih belum bisa turun gunung karena penyembuhan cedera. Kalo udah begini, kata ‘andai’ akan langsung muncul di pikiran. Andai Koh Hendra masih mau bertahan di pelatnas. Andai Kido dulu juga tidak buru-buru keluar dari pelatnas. Andai Ci Vita nggak cepat-cepat jadi pelatih. Dan masih banyak pengandaian lainnya yang akhirnya terlihat seperti orang yang tidak bisa move on.

Sekarang sudah terpampang nyata keadan yang sebenarnya seperti apa. Perlu tindakan ekstrim untuk membenahinya jika menginginkan hasil yang maksimal pula. Menurut saya, yang harus dibenahi serta menjadi syarat utama dan mutlak dimiliki oleh semua atlet bulutangkis penghuni pelatnas pertama kali adalah bagian psikologis pemain yang menyangkut mental dan mindset. Jika ada pemain yang lemah di sisi ini, harus segera diberikan kartu kuning pertama. Walaupun si pemain memiliki skill tingkat dewa tapi kalo mental dan mindsetnya tidak meningkat dan tidak dijaga, maka akan sia-sialah semua kemampuan spektakuler mereka. Dua hal ini memang hanya merupakan faktor non-teknis yang jumlahnya tidak begitu besar, tapi jika 2 hal ini tidak ada maka akan lebih sangat terasa efek negatifnya dibanding hanya memiliki kemampuan biasa-biasa saja tapi punya mental dan mindset yang bagus. Dari mental dan mindset yang baguslah maka segala hal yang ada di dalam diri, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, akan bergerak, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.

Yang kedua adalah semangat untuk berusaha, berjuang dan bekerja keras. Meski mental dan mindset adalah hal yang paling utama yang harus dimiliki tapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Walaupun pada awalnya mereka belum memiliki mental dan mindset yang baik, selama mereka mau terus berusaha, berjuang dan bekerja keras, secara perlahan mereka bisa mendapatkannya. Hanya yang bersemangat untuk berusaha, berjuang dan bekerja keraslah yang bisa memperolehnya. Kekuatan yang sebenarnya tidak akan datang pada orang yang lemah dan loyo semangatnya serta kecil kerja kerasnya. Ia akan datang bersama dengan orang yang bersemangat untuk berusaha, berjuang dan bekerja keras. Bahkan skill se-dewa apapun kalo nggak punya semangat juga nggak ada gunanya. Yang ada justru skill yang dimiliki akan terbuang sia-sia. Kalau hal-hal seperti ini juga tidak terlihat pada diri si atlet bulutangkis, rasanya si atlet bulutangkis sudah bisa di kartu kuning untuk kali kedua. Bahkan jika dalam perjalanannya, sudah diberikan waktu yang cukup, 2 syarat di atas tidak juga muncul di dalam si atlet bulutangkis, maka si atlet bulutangkis sudah bisa dikartumerahkan dan diizinkan keluar dari pelatnas terlepas dari se-dewa apapun kemampuannya.

Kemudian jangan lupakan juga soal ketahanan fisik yang menempati urutan ketiga. Bagaimanapun bagusnya kemampuan seseorang kalau tidak ditunjang dengan ketahanan fisik yang bagus maka kemampuan tersebut tidak akan keluar dengan maksimal. Berpikir saja membutuhkan energi yang tidak sedikit, apalagi jika ditambah dengan menggunakan fisik untuk mengerakkan tubuh melakukan segala hal yang dipikirkan. Maka energi yang dibutuhkan tentu juga harus besar. Bermain bulutangkis tidak hanya butuh kecepatan dalam bergerak, tapi juga membutuhkan kecepatan dalam berpikir agar bisa mengarahkan bola ke tempat yang tepat dan menghasilkan poin. Makanya ketahanan fisik tidak bisa menjadi hal yang bisa disingkirkan. Apalagi dengan persaingan di dunia bulutangkis level elite yang semakin ketat, sangat dibutuhkan fisik yang prima agar bisa menjaga konsistensi dan penampilan agar terus tetap kokoh dan tangguh.

Lalu dimanakah posisi kemampuan teknis para atlet? Ia bisa diletakkan di posisi keempat. Kenapa? Karena yang namanya sesuatu yang teknis adalah sesuatu yang terhitung, terukur dan bisa dipelajari. Apalagi dengan adanya Sport Science, semua hal-hal teknis sudah bisa lebih mudah untuk dipahami. Lain halnya dengan apa yang disebut dengan bakat alam. Tapi walaupun begitu, baik itu bagi mereka yang berkemampuan biasa saja ataupun yang bakat alamnya luar biasa kalau tidak bisa memenuhi 3 syarat yang disebutkan di atas, akan sulit untuk berhasil dan menggapai kesuksesan. Semaju apapun perkembangan zaman, secanggih apapun teknologi yang dibuat kalau tidak ada 3 syarat di atas, maka kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya. Ingat! Masih ada faktor Tuhan yang tidak boleh ditinggalkan. Tuhan hanya memberi kesuksesan yang tahan lama hanya pada orang yang mau berusaha dan berdoa, bukan pada orang yang bermalas-malasan dan tidak mengandalkanNya. (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya