Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Diplomasi Bulutangkis Ala KBRI Moskow di Rusia

Sabtu, 07 Oktober 2017 08:24:08
964 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Tim KBRI Moskow & Veteran Bulutangkis Rusia

  • Dubes Rusia Wahid (kaos putih) buka turnamen

  • Dubes Rusia M. Wahid Supriyadi

  • Dubes Rusia M. Wahid Supriyadi

Diplomasi bulutangkis terus dilancarkan oleh KBRI Moskow di Rusia. Salah satunya adalah keikutsertaan KBRI Moskow pada kejuaraan bulutangkis internasional ke-18 untuk veteran di Sochi, Rusia tanggal 2-8 Oktober 2017.

Kejuaraan bulutangkis ini diikuti lebih dari 200 peserta pria dan wanita dari kelompok usia 35 tahun hingga 80+. Para peserta berasal dari 58 kota di Rusia dan 5 negara lainnya, yaitu Belarus, Moldova, Pakistan, Ukraina dan Indonesia. Peserta dari Indonesia adalah Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M. Wahid Supriyadi, staf KBRI Moskow Dasep Mulyadi, Kepala Sekolah Indonesia Moskow Sudirham, dan pengajar Sekolah Indonesia Moskow Chotibul Umama yang selama ini menggemari badminton.

“Saya menyambut baik adanya turnamen ini untuk menjalin persahabatan. Partisipasi aktif KBRI Moskow seperti tahun lalu sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di Rusia,” kata Dubes Wahid yang didaulat untuk membuka turnamen tersebut oleh penyelenggara.

Presiden Persaudaraan Veteran Bulutangkis Rusia, Igor Isakov menyampaikan apresiasi atas dukungan dan partisipasi KBRI Moskow pada turnamen ini.

“Keikutsertaan Dubes RI dan staf KBRI Moskow menambah gairah para veteran bulutangkis untuk bergabung dalam turnamen ini yang terbukti dari jumlah peserta yang semakin meningkat sejak dua tahun terakhir,” kata Igor.

Para peserta yang sudah lanjut usia bermain dengan penuh semangat dan seperti tidak terlihat lelah. Pukulan-pukulan keras pun sekali-kali masih dapat mereka lakukan dan bermain seakan-akan ketika masih muda, seperti Olga Dolina dari Sochi yang menjadi juara kategori wanita usia 60+.

Peserta wanita paling tua adalah Valentina Ivanovna berusia 78 tahun dari Ural. Sedangkan peserta pria tertua adalah Vasiliy Galiulov dari Samara berusia hampir genap 90 tahun. Vasiliy memiliki kenangan sendiri tentang bulutangkis. Ketertarikan pada olahraga tersebut dimulai ketika usia 20 tahun setelah melihat seorang mahasiswi cantik menenteng raket yang aneh karena ukurannya lebih kecil dari raket tennis.

“Ketika saya tanya gadis itu, jawabnya adalah raket untuk olahraga badminton dan sejak itu saya memutuskan untuk bermain bulutangkis sambil melakukan pendekatan kepada gadis tersebut,” kenang Vasiliy yang berkarir selama 39 tahun sebagai pelatih bulutangkis di sebuah SMA di Samara.

Namun, ketika ditanya Dubes Wahid mengenai kelanjutan pendekatan dengan gadis itu, Vasiliy enggan menjawab dan hanya tersenyum.

Partisipasi Dubes Wahid dan Tim KBRI Moskow pada turnamen yang akan berakhir tanggal 8 Oktober ini juga untuk lebih mempromosikan produk Indonesia, yaitu kopi dan perlengkapan olahraga, seperti pakaian, sepatu dan shuttlecock.

Dalam beberapa tahun terakhir olahraga bulutangkis digalakkan di Rusia, bahkan menjadi salah satu jenis olahraga wajib di sejumlah sekolah. Menurut penelitan Moscow Helmholtzh Reseach Institute of Eye Diseases, olahraga bulutangkis sangat baik untuk kesehatan mata.

Indonesia dikenal masyarakat Rusia antara lain olahraga bulutangkisnya karena Indonesia pernah berjaya di cabang olahraga tersebut pada tingkat dunia. Untuk memajukan bulutangkis di Rusia, Federasi Bulutangkis Rusia menggandeng Indonesia dan pernah mendatangkan pelatih dari Indonesia, seperti Atik Jauhari. Presiden Federasi Bulutangkis Rusia, Sergey Shakhrai juga sering berkunjung ke Indonesia untuk menjalin kerja sama.

Upaya ini membuahkan hasil karena Vladimir Ivanov dan Ivan Sozonov dari negara yang tidak dikenal sebagai pebulu tangkis, berhasil meraih juara All England 2016. Bahkan Vladimir Ivanov pernah bergabung dengan Club Musica Flypower pada kejuaraan Djarum Super Liga tahun 2014 dan 2015. (das)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya