Berita > Artikel > Sportainment

Heri: ''Nganu, ya nganu''

Selasa, 30 Januari 2018 15:49:33
4633 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ajang Daihatsu Indonesia Masters 2018 lalu betul-betul menghapus dahaga para penggemar bulutangkis Indonesia, khususnya yang kerap menonton langsung ke Istora Senayan, Jakarta.

Setelah tahun lalu Istora tak bisa dijadikan perhelatan BCA Indonesia Open 2018. Ajang bulutangkis bergengsi level superseries premier itupun digeser ke Jakarta Convention Centre karena Istora sedang direnovasi untuk ajang Asian Games 2018.

Membuka tahun 2018, ajang Daihatsu Indonesia Masters 2018 yang kini telah naik kelas berkesempatan menjajal Istora Senayan sebagai turnamen pembuka Road To Asian Games 2018. Walau istora belum kelar 100%, namun pujian megahnya Istora Senayan peninggalan era Presiden Soekarno ini pun berdatangan dari berbagai pihak.

Begitu juga pujian diberikan Heriyanto, salah seorang penggemar fanatik bulutangkis asal Depok yang tak pernah melewatkan ajang Indonesia Open di Istora Senayan sejak 2011. Heriyanto yang lebih dikenal dengan nama Heri Van Mangkuprojo ini mengungkapkan kekagumannya.

"Renovasi cukup bagus, kemegahan peninggalan masa Bung Karno masih terlihat. Padahal ini gedung sudah lebih umurnya 50 tahun," ungkap Heri kepada Bulutangkis.com usai partai final hari Minggu (28/1) lalu di food court Istora.

"Istora sekarang keren dan nyaman, parkir aman dari pungutan liar, bersih dan nyaman," ungkap Heri yang hanya absen ke Istora si babak semifinal.

"Sayangnya, kursi-kursi gak pake nomor. Apalagi tiket VIP harus ada nomornya. Kalau kita ke toilet, bisa ditempati orang lain. Apa karena belum kelar renovasinya ya?" Heri menjawab sendiri keraguan di dalam hatinya.

"Sayang, gak bisa lihat babak semifinal, gara-gara ada acara yang tak bisa ditinggalkan," sebut Heri.

Sedari dulu Heri tak hanya sendiri menonton ke Istora, bersama isterinya dan ketiga anaknya Aziz Hermawan (17), Erina Agnes Ambarwati (14) dan si bontot Citra (11) selalu menemaninya.

"Citra kalau sudah ada Indonesia Open, pasti dia yang duluan ngajak kita nonton ke Istora. Mereka pada senang kalau sudah sorak-sorai di istora bergema," cerita Heri.

"Gak hanya nonton, jajanan kulinernya bikin mereka betah," sebut Heri pria berusia 43 tahun yang sehari-harinya berkarir sebagai notaris.

"Sejak 2011 saya dan keluarga gak pernah absen ke Istora. Hasil kali ini luar biasa, kita bisa ada 4 wakil di final. Sayang ganda putri kita kalah kelas dan mental juga ketenangan dari pasangan Jepang. Ginting luar biasa, Kevin Gideon juga sangat keren. Owi Butet kurang bisa mengatasi tekanan pasangan China yang main rapi dan tenang. Semoga di Indonesia Open nanti hasil begini bisa terulang lagi," ungkap Heri yang menjadi penggerak Komunitas NGOSS (Nganu Open Super Serius).

Komunitas NGOSS maen bareng secara rutin menggelar mabar turnamen di Hall Jaya Baru, Depok. Turnamen gendongan ini juga selalu diikuti mantan pemain nasional seperti Fran Kurniawan dan Markis Kido. Bahkan pemain ganda pelatnas Cipayung juga pernah meramaikan seperti Rian Agung Saputro.

"Nganu itu apa ya, kog jadi nama komunitas?" tanya kami.

"Nganu itu, ya nganu," jawabnya terkekeh.

"Komunitas kita ya cuma buat fun aja, senang maen bareng aja. Lebih seru karena ada mantan pemain nasionalnya buat ngeramein," tutur Heri yang juga masuk di kepengurusan Pengkot PBSI Kota Depok, Jawa Barat.

"Ikut di kepengurusan PBSI, apa nih kendala yang dihadapi dalam pembinaan atlet?"

"Klub di Depok yang terdaftar di SI PBSI baru satu. Sebenarnya ada beberapa klub lain, tapi gak tahu kenapa belum terdaftar, padahal antusias dan semangatnya lumayan juga," ungkap Heri. "Hanya mungkin kurangnya turnamen lokal jadinya belum bisa lihat perkembangannya," Heriyanto mengakhiri obrolan kami di Istora.

Gebyar Daihatsu Indonesia Masters 2018 usai sudah. Torehan dua gelar dipersembahkan skuad Indonesia di Istora Senayan, Jakarta, menjadi pemicu atlet lain untuk berprestasi lagi di masa mendatang. (fk)

Berita Sportainment Lainnya