Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Lava Tour Tebar Yogya Yang Istimewa

Senin, 16 April 2018 19:52:02
969 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Current
Pagi itu waktu masih menunjukkan pukul 03.30 WIB. Tapi sang alarm sudah berteriak kencang memekakkan telinga dan membuat mata yang berat dibuka ini terbelalak. Tak bisa dihindari, rupanya ini adalah waktu bangun yang disepakati untuk para peserta Lava Tour. Mau tak mau, suka tak suka para peserta beranjak dari dinginnya penyejuk ruangan yang menemani selama beristirahat melepas penat setelah mengikuti acara Tepok Bareng (Tebar) dari pagi hingga malam hari. Koordinasi panitia telihat begitu rapi. Para peserta yang tersebar di beberapa tempat penginapan, sudah diatur sedemikian rupa perihal penjemputan. Sehingga pada saatnya menuju titik kumpul, para peserta sudah siap.

Dinginnya kota Yogyakarta tak membuat surut minat para peserta untuk keluar dari rasa nyaman kehangatan selimut yang membungkus diri semalaman. Rasa ngantuk yang menggelayut dipaksa keluar dari mata. Jadilah seluruh peserta berburu mentari pagi di kawasan Gunung Merapi.

Sekitar pukul 05.00 WIB seluruh peserta Lava Tour sudah berkumpul di titik kumpul yang bertanda patung udang. Tak seberapa lama, pembagian peserta untuk menaiki mobil jeep langsung dibuat. Maksimal empat peserta yang dapat masuk dalam satu mobil jeep. Lepas pembagian, peserta langsung lompat ke dalam mobil jeep tanpa penutup. Tercatat total enam jeep yang digunakan oleh para peserta Lava Tour untuk menerabas pagi di kota yang terkenal dengan Gudegnya ini.

Dan, petualangan pun dimulai. Enam jeep konvoi beriringan menembus kabut tipis menuju gunung yang pada tahun 1990 memuntahkan lahar berikut angin panas atau yang disebut masyarakat setempat dengan sebutan Wedus Gembel. Laju mulus mobil jeep berubah menjadi aneka guncangan. Ini menandakan roda-roda mobil sudah mulai menyentuh bebatuan Gunung Merapi. Tantangan perjalanan seperti inilah yang ditunggu para peserta. Adrenalin peserta mulai berubah. Teriakan antara senang dan khawatir mulai berdatangan. Bagaimana tidak, para pengemudi yang sudah sangat mahir mengendarai mobil double gardan memacu kendaraannya sambil sesekali berbelok dengan mendadak. Para peserta pun dibuat berpegangan sangat kuat saat mobil dipaksa melaju dengan kemiringan hampir 70 derajat untuk bisa menelulsuri di tebing jalan yang dipenuhi dengan batu cadas dan koral.

Setelah peserta puas berputar-putar di tengah padang pasir, para peserta dibawa mendekat ke kaki Gunung Merapi. Tampak dengan jelas sang gunung seperti tertidur dengan balutan kabut putih tipis menutupi puncak merapi. Semburat cahaya matahari pagi yang hadir membuat lukisan alam menjadi semakin sempurna. Semua yang ada, tak menyianyiakan kesempatan ini. Berbagai jenis kamera dan telepon genggam langsung dikeluarkan untuk dengan segera mengabadikan sang fajar. Aneka gaya bertaburan menyambut datangnya matahari pagi.

Puas berfoto dengan alam, peserta diajak menuju bunker Kaliadem. Sambil menuturkan kisah tragis yang dialami oleh para korban saat tragedi Merapi, para guide lokal, mengajak peserta memasuki bunker untuk melihat isi dari bunker. Usai menjelajahi bunker, peserta memilih beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Sesi kedua dimulai menuju Batu Alien. Guide lokal pun menuturkan jika batu dengan relief wajah yang besarnya hampir sebesar gajah dewasa ini terpental saat Gunung Merapi meletus. Bisa dibayangkan begitu dahsyatnya kekuatan letusan Gunung Merapi. Rupanya tak mudah bagi peserta menembus sesi yang kedua. Salah satu mobil pengantar tidak bisa melewati celah bebatuan sempit. Sehingga beberapa mobil harus berputar arah membantu mobil yang terjepit. Untuk menarik wisatawan, di lokasi Batu Alien ditambah beberapa spot untuk berfoto ria. Selepas minum kopi, semua peserta didaulat untuk segera meninggalkan lokasi menuju lokasi ketiga.

Selidik punya selidik, rupanya lokasi ketiga merupakan klimaks dari petulangan Lava Tour. Semua peserta dibawa menuju aliran Kali Kuning, Kali Adem, Yogyakarta. Dari atas jalan, terlihat aliran air bening diantara tumpukan batu koral yang membentang luas. Menuruni jalan menuju landasan sungai masih belum terbayang seperti apa pertunjukkan yang akan disuguhkan. Semakin dekat dasar sungai, tanda-tandanya pun belum nampak. Barulah begitu mobil melaju dengan cepatnya saat menyentuh dasar sungai, para peserta terkaget-kaget karena kencangnya laju kendaraan memaksa air tersibak. Tingginya muncratan air membuat baju dan celana semua peserta basah. Anehnya hal ini tidak membuat marah para peserta, tetapi justru para peserta tertawa bahagia. Apakah hanya sampai disitu? Rupanya tidak, mobil-mobil tetap berputar berkeliling, berlomba seperti arena lomba balapan. Mobil-mobil saling berusaha mendahului mobil yang lain. Kejar mengejar mobil dengan kecepatan yang cukup membuat efek sibakan air menyirami semua penumpang di mobil lainnya. Begitu seterusnya, para pengendara saling berusaha membuat basah mobil berikut penumpang lainnya.

Basah kuyup menjadi pertanda selesainya wisata Lava Tour yang dijalani para peserta. Pergi berwisata tanpa sarapan sepotong kue pun membuat rasa lapar meradang. Penutup kegiatan Lava Tour diakhiri dengan menyantap soto, gudeg, pecel di restoran sekitar lokasi tour. (ar)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya