Berita > Artikel

Opini Tim Piala Thomas Indonesia 2018

Rabu, 02 Mei 2018 10:22:32
6245 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tim Indonesia secara resmi mengumumkan tim yang akan berlaga pada kejuaraan bulutangkis Thomas dan Uber Cup 2018 di Bangkok. Baik Tim Thomas maupun Tim Uber mengalami perubahan dari tim yang sempat berlaga di Kejuaraan Beregu Asia beberapa waktu lalu.

Tim Piala Thomas Indonesia praktis hanya menggantikan pasangan Angga Pratama/ Rian Agung Saputro dengan pasangan muda dengan rangking terbaik kedua setelah “The Minions” yakni Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto. Sementara di Tim Uber, terdapat pergantian Hanna Ramadini oleh Dinar Ayustine serta adanya perubahan untuk ganda ketiga yang semula adalah pasangan Ni Ketut Mahadewi Istarani/ Anggia Shitta Awanda menjadi Ni Ketut Mahadewi Istarani/ Nitya Krishinda Maheswari.

Pro dan kontra ramai diperbincangkan oleh netizen, terutama mengenai Tim Piala Thomas yang digadang-gadang meneruskan sukses juara di Kejuaraan Beregu Asia lalu atau setidaknya menyamai prestasi menapaki partai final seperti dua tahun lalu. Dua issue utama adalah perihal regenerasi dan formasi tunggal ketiga.

Isu regenerasi sempat berhembus setelah pengumuman tim ke Kejuaraan Beregu Asia lalu dimana pasangan muda potensial Fajar/Rian tidak dimasukkan ke dalam tim. Netizen melihat bahwa kejuaraan tersebut merupakan kesempatan regenerasi. Pada kesempatan terpisah, pelatih ganda putra menyampaikan bahwa ketidakikutsertaan Fajar/Rian dikarenakan pasangan muda tersebut sedang dalam penampilan belum stabil. Apa yang disampaikan oleh pelatih ganda putra ini menurut saya tepat, karena untuk memenangkan sebuah kejuaraan dibutuhkan pemain yang siap. Perkara regenerasi sendiri seyogianya tidak tepat dibebankan dan dilaksanakan pada event besar karena regenerasi sendiri adalah sebuah proses. Pemain-pemain level senior tentunya sudah merasakan menjadi bagian dari tim beregu mulai dari level junior sampai dengan kejuaraan yang levelnya belum setinggi Piala Thomas maupun Kejuaraan Beregu Asia. Pelatih ganda putra konsisten dengan apa yang disampaikannya, bertepatan capaian Fajar/Rian Ardianto menjuarai kejuaraan setingkat superseries kesempatan bergabung diberikan untuk menggantikan Angga/Rian yang sedang tidak dalam kondisi prima.

Polemik kedua muncul saat tunggal ketiga dan keempat Pelatnas Cipayung tidak meraih hasil menjanjikan seusai tampil prima di Kejuaraan Asia. Beberapa masukan muncul termasuk dari tokoh bulutangkis berpengaruh untuk mempertimbangkan pemain non pelatnas masuk ke dalam tim sebagai setidaknya tunggal keempat demi menjaga asa juara. Memang benar bahwa tunggal ketiga adalah penentu apabila permainan sampai partai kelima namun apabila dibesar-besarkan issue ini bisa jadi kita kehilangan fokus utama. Kejuaraan beregu dengan memainkan 5 partai harus dilihat proposional bahwa setiap pemain yang turun harus bertanggung jawab untuk menyumbangkan poin. Antony Sinisuka Ginting sebagai tunggal utama masih punya peluang menang melawan Viktor Axelsen, Srikanth Kidambi, Son Wan Ho, Lee Chong Wei, Chen Long, Chou Tien Chen dan Kento Momota dengan track record dan bekal 2 kali juara di level superseries. Minons masih superior sebagai ganda utama dunia. Jonatan meskipun belum maksimal pasca Kejuaran Asia tidak kalah pamor dengan Shi Yuqi, Anders Antonsen, Hans-Kristian Vittinghus, Lin Dan, Wang Tzu Wei, Sai Praneeth Bhamidipati. Pengalaman dan senioritas Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan dalam poin krusial tentunya sangat diharapkan.

Nah, partai kelima baru dibutuhkan apabila hanya ada 2 kemenangan dari 4 partai awal. Pilihan pemain pelatnas untuk tunggal ketiga hanya Ihsan Maulana Mustofa dan Firman Abdul Kholik serta ada pemain profesional diluar pelatnas Tommy Sugiarto dan Sony Dwi Kuncoro. Selain, tentunya, lebih berpengalaman tolok ukur penampilan kedua pemain mungkin bisa dikatakan tidak jauh berbeda. Tommy memenangankan Thailand Super 300 namun tidak bertemu pemain Top 30. Di kejuaraan lain di tahun ini, Tommy belum bisa menang melawan pemain TOP 20. Ihsan memang tidak lebih baik, tahun ini masih kalah dengan pemain top 20. Firman mungkin yang paling mendapat sorotan, selain tampil heroik di semifinal Kejuraan Beregu Asia. Firman belum memberikan hasil maksimal. Tommy pernah mengalahkan Lin Dan pada tahun 2015, pun juga pada saat mengalahkan Jan O Jorgensen terjadi di tahun yang sama. Firman yang mungin paling lemah diantara ketiganya. Di lain sisi, Ihsan dan Firman sebagai pemain pelatnas lebih mudah terpantau kesiapannya, sementara Tommy sebagai konsekuensinya sulit terpantau kesiapannya dimana turnament terakhir yang diikutinya adalah All England, sekitar 2 bulan yang lalu.

Setidaknya ada dua saran. Pertama, mungkin saran ini bisa digunakan untuk ke depan karena sudah terlambat untuk dilakukan saat ini. Pemilihan pemain yang memiliki perbedaan tipis seperti ini bisa dilakukan dengan mengadakan seleksi terbuka. Selain bisa mengukur kesiapan pemain di luar pelatnas, hal ini juga sekaligus mengukur seberapa besar keinginan pemain tersebut berlaga di Piala Thomas

Kedua, saran ini mungkin bisa dipertimbangkan untuk saat ini di mana mau tidak mau tima Indonesia memiliki pemain tunggal ke-3 yang relatif lemah. Kondisi ini mengingatkan babak perempat final Piala Thomas 2014 di mana . China berhadapan dengan Jepang. Sama seperti tahun ini, Lin Dan ada di tunggal ke-3 atau lebih tepatnya tunggal ke-4 karena rangkingnya yang melorot tajam setelah cuti pasca Olimpiade London. Jepang mati-matian untuk menjaga supaya partai kelima jangan sampai terjadi. Di lain pihak China berharap pertandingan sampai ke partai ke-5 dengan harapan sempat mencuri 2 partai dari 4 partai awal. Kondisi ini menciptakan kondisi mental yang berlawanan 180 derajat. Jepang mati-matian untuk dapat memetik point 4 partai awal sementara dalam benak pemain-pemain China bisa jadi berfikir bahwa masih ada Lin Dan yang jaga gawang supaya tidak kalah. Hasilnya adalah Jepang menang telak 3-0. Dalam kondisi yang bisa dikatakan sama, kenapa tahun ini kita tidak bersemangat dan berfikir positif gara-gara tunggal ke-3? Karena bisa jadi pemain-pemain China, Denmark saat ini teracuni bahwa masih ada Lin Dan dan Jorgensen yang jaga gawang. (Pete Bakar)

Berita Artikel Lainnya