Berita > Berita > Asian Games

Wawancara Eksklusif Hendry Saputra, Pelatih Jojo dan Ginting

Kamis, 30 Agustus 2018 07:09:06
2796 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting mendapat banyak pujian dari berbagai pihak saat menyaksikan penampilan keduanya yang heroik di ajang Asian Games 2018. Aksi mereka di pesta olahraga terbesar di kawasan Asia ini begitu mengagumkan dan mengejutkan.

Tak hanya kejutan medali emas dari Jojo, sapaan akrab Jonatan, penampilan Ginting, panggilan populer Anthony pun begitu baik. Ia mengalahkan Juara Dunia 2018 asal Jepang, Kento Momota peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Chen Long, serta pemain terbaik India, Srikanth Kidambi.

Bagaimana persiapan tim tunggal putra Indonesia jelang Asian Games dan apa tanggapan sang pelatih, Hendry Saputra, atas capaian ini? Berikut petikan kami kutip wawancara Badmintonindonesia.org bersama Coach Hendry.

Selamat, Coach! Apa rahasianya tim tunggal putra bisa tampil baik di Asian Games 2018?
Latihan seperti biasa di pelatnas, latihan teknik dan ada peningkatan latihan fisik. Di pelatnas sudah latihan main dengan durasi diatas 85 menit. Kalau durasi latihan secara umum sekitar empat sampai lima jam sehari. Pagi tiga jam, sore dua jam. Kalau dibilang terlalu sebentar, buat kami yang penting itu kualitas. Percuma kalau lama tapi tidak ada kualitasnya.

Ada latihan khusus?
Yang paling berat itu mempersiapkan pikiran mereka. Jonatan dan Anthony kalau mengembalikan bola dan mati itu bukan karena tekniknya jelek, tapi pikirannya. Mau cepat menang, kurang sabar, kurang teliti, itu terus berpacu di alam pikiran mereka.

Apa ada keluhan soal latihan yang berat dari pemain?
Menurut saya, tunggal putra di PBSI itu latihannya oke kok. Disiplin oke. Kalau ngeluh ya saya nggak kirim (ke pertandingan). Habis bagaimana, kalau kalah kan saya yang tanggungjawab? Fair nggak?

Apa komentar Coach Hendry tentang keberhasilan Jonatan?
Saya lihat dari peringkat, kalau dari main pertama saja dia bisa melewati pemain peringkat di atasnya, saya yakin pemain ranking satu sampai 14 dia bisa handle. Jonatan sekarang ada di peringkat 15. Tapi peringkat yang di bawahnya juga harus diwaspadai.

Kalau saya lihat begini, saya nilai dia naik satu tingkat.

Apa yang coach sampaikan kepada Jonatan di laga final yang menegangkan?
Saat itu saya tidak bisa mempengaruhi terlau banyak, karena dia sudah fokus untuk menang. Cuma satu yang saya bilang, kamu mesti sabar, ulet, tunggu kesempatn untuk juara. Banyak saya lihat pemain dunia yang cepat-cepat mau mematikan dan dia kalah, nah ini jangan terjadi kali ini.

Bagaimana dengan kabar Anthony? Apakah dia kecewa dengan hasil akhirnya?
Anthony dibilang down ya iya, semua orang kalah pasti down. Saya bilang sama dia, kamu melakukan kesalahan, kamu nggak boleh kecewa. Kecuali kamu kalah karena tidak melakukan kesalahan. Bukan kamu main jelek lho, tapi kamu melakukan kesalahan di saat kritis itu.

Ada pesan khusus kepada Jonatan sebelum menghadapi Chou Tien Chen yang telah mengalahkan Anthony?
Saya pesan, jangan lihat menang kalahnya dulu. Kalau bisa you balas kejadian ini (kekalahan Anthony). Kita tuan rumah, kesempatan ini jangan disia-siakan. Tapi kalau kamu tidak bisa menguasai pikiran dan cara mainnya ya saya rasa kamu akan mengalami hal yang sama dengan Anthony. Nanti match point bisa tidak bisa menguasai. Ya kamu main bagus dulu deh.

Tapi saya lihat dia mainnya oke, tapi masih belum lepas. Kalau menurut saya, Jonatan tampil underperform, tapi Chou lebih tidak di perform lagi. Kalau Anthony, dia main di performanya dia, tapi Chou lebih perform lagi. Dia juga lebih beruntung, saya mesti jujur bilang.

Apa yang harus diperbaiki dari Anthony dan Jonatan?
Dari pikiran dan mental mereka, bagaimana cara berpikir. Contohnya, selama di Asian Games, Anthony sudah lima atau enam kali match point nggak bisa menyelesaikan? masa mau buru-buru? kalau mau ambil gaji baru boleh buru-buru.

Nggak usah seperti itu. Kecuali kalau lagi adu cepat, ini kan bagaimana caranya memenangkan permainan. Tapi ya sekarang dapat perunggu, mudah-mudahan bisa di olimpiade, harus optimis.

Bagaimana Coach Hendry menanggapi komentar negatif tentang prestasi tunggal putra Indonesia selama ini?
Ini justru memotivasi saya, saya minta dukungan. Kalau atletnya down, logikanya harus didukung dong. Saya bilang ke atlet saya, kalau digituin ya kamu mesti fight back, tunjukan sama mereka dengan prestasi, mudah-mudahan Tuhan mengizinkan. Kalau kalah, kita belajar lagi.

Yang harus dijaga itu adalah atletnya, dia tidak boleh masuk dalam ranah itu, karena bisa stress dan trauma. Saya berdoa semoga Tuhan kasih petunjuk supaya ditunjukkan apa yang dinilai orang-orang itu salah, karena kami bekerja sungguh-sungguh. Atlet saya sudah berjuang untuk dirinya sendiri, untuk PBSI dan untuk negara. jadi kalau ada tekanan, harapan yang over atau perkataan yang tidak bagus, nah ini yang harus kita jaga.

Apa harapan tim tunggal putra selanjutnya?
Konsisten! Ini yang paling utama dan paling menantang. Konsisten dari segi prestasi dan bagaimana dia mengelola keadaan dirinya sendiri. Kalau suatu saat peringkat dia naik tapi dia tidak bisa jaga pikiran, jaga fisiknya, tekniknya, mainnya, otomatis akan drop juga. Nah itu tugas saya untuk membantu .

Ke depan ada tiga turnamen yang harus diikuti di Jepang, Tiongkok dan Korea. Dalam pekan ini kami akan recovery. Mereka sudah delapan kali tanding selama Asian Games, tidak pernah dilakukan Jonatan dan Ginting kalau tidak salah. Tiga kali main di beregu dan perorangan, berarti delapan kali. Kalau di turnamen world tour, sampai final hanya lima kali main, mereka sudah over tiga pertandingan.

Dengan catatan kita di beregu sudah ketemu India lho, itu partai neraka. Sampai rekor durasi tandingnya naik 75-90 menit itu delapam kali berturut-turut. Saya harus jujur mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan mereka butuh refreshing dulu, pikirannya, ototnya, sampai pulih baru saya coba fokus ke tiga turnamen itu. Target tiga-empat hari harus cepat balik kondisinya. Soal latihan, tetap ada, besok sudah mulai latihan lagi. Hanya disesuaikan dengan kondisi mereka. (*)

Berita Asian Games Lainnya