Berita > Artikel

Kevin/Marcus vs Han/Zhou Dalam Catatan Lily Dian

Rabu, 31 Oktober 2018 12:02:10
1713 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Suasana forum kali ini begitu terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon mengalami kekalahan di babak final tahun 2018. Jujur saja, saya awalnya sempat merasa sangsi saat melihat siapa lawan mereka di final. Han Chengkai/ Zhou Haodon, pasangan muda yang meski labil namun punya kualitas yang bagus. Saya yakin saat ini mereka sedang menerima puja dan puji dari berbagai pihak karena berhasil mengalahkan pasangan yang tidak hanya terbaik di dunia tapi selalu dianggap sebagai pasangan yang nyaris sempurna.

Berawal dari hal teknis lalu merambat hingga ke psikologis. Memang sangat terlihat di pertandingan kemarin bahwa psikologis Gideon mendapat pukulan telak. Sudah sering disebutkan, terutama oleh Oma Gill dan partner baik itu Steen maupun Morten, bahwa Gideon selalu menjadi incaran bagi lawan untuk merusak permainan pasangan ini karena Gideon bukan merupakan tipe pemain yang kreatif dan penuh inovasi dalam bermain. Di satu sisi, Gideon tidak bisa serta merta kita salahkan karena siapapun yang berada di posisinya juga akan mengalami hal yang sama. Kecewa, kesel dan gemes karena keadaan tak kunjung membaik sepanjang pertandingan. Belum selesai atau baru 90% move on. Eh, sudah dihantam lagi. Akhirnya segalanya langsung jatuh lagi semakin jauh dan semakin dalam. Menurut saya hal ini adalah manusiawi karena semua manusia bisa mengalaminya.

Segala pilihan ada resikonya. Begitu juga bagi pasangan kita dengan permainan cepat yang menjadi andalannya. Kemarin di game ketiga mereka seperti mengambil resiko untuk tetap memainkan permainan andalan mereka meski kondisi dan situasi saat itu tidak mendukung untuk mereka. Shuttlecock bertipe berat dan cenderung lambat, venue, serta lawan yang memiliki power dan kecepatan yang hampir setara dengan mereka, semua itu menjadi hal yang menghadang mereka. Mau main bertahan dengan kondisi shuttlecock seperti itu dan lawan yang memiliki power, mereka akan tertekan. Namun jika mereka memaksa untuk tetap menyerang, kondisi fisik mereka akan terkuras yang akan berdampak pada fokus dan konsentrasi yang menurun.

Dalam sebuah permainan ganda dengan tipe cepat yang menjadi ciri khas pasangan kita, memang sangat sulit untuk berpikir ataupun mempertimbangkan hal-hal lain di lapangan dalam waktu yang super sangat singkat. Dalam permainan cepat sangat dibutuhkan kesiapan dalam segala hal. Sesuatu yang berhubungan dengan kecepatan akan selalu terkait erat dengan hal-hal yang namanya kontrol diri (tidak tenang, buru-buru, ingin menyegerakan). Lalu jika kontrol diri mulai hilang, maka permainan akan menjadi kacau lalu psikologis mulai terganggu yang kemudian berdampak pada pukulan-pukulan yang mereka lakukan.

Mungkin bagi beberapa orang, Kevin di beberapa kesempatan terlihat seperti ‘egois’ dalam bermain. Namun sebenarnya itu adalah cara Kevin untuk melindungi Gideon agar sang partner tidak terus ditekan lawan serta juga berusaha untuk menciptakan sebuah peluang agar bisa menghasilkan poin bagi mereka. Hanya saja itu bisa menjadi sebuah bumerang, terutama di pertandingan kemarin. Memang harus diakui bahwa Han/Zhou sangat memegang kendali permainan di depan. Menurut saya itu kunci kemenangan mereka kemarin. Sementara Kevin sudah mulai kewalahan karena harus menjalan 2 tugas berat sekaligus, mengendalikan permainan sekaligus menjaga Gideon dari ancaman serangan pemain lawan.

Kevin adalah pemain yang sangat kreatif dan inovatif. Memaksa seorang pemain kreatif untuk bermain sesuai textbook maka hanya akan menghambat kemampuan dan potensinya. Pemain dengan tipe seperti Kevin memang tidak seharusnya dibatasi dalam melakukan apapun karena pada dasarnya tipe manusia seperti ini adalah manusia yang cerdas. Sementara Gideon adalah seorang pekerja keras sejati. Gideon memang tidak punya bakat alam yang ‘wah’ seperti Kevin, tapi Gideon selalu punya semangat dan dedikasi. Itulah yang membuatnya bisa menjadi seperti sekarang dan itu pula yang menjadikannya sebagai pemain yang cukup stabil dalam permainan serta selalu bisa menutupi kekurangan pasangannya.

Saya tidak ingin menyoroti masalah teknis (skill) karena kita semua juga sudah tau bahwa secara skill mereka sudah hampir bisa dikatakan komplit untuk sebuah permainan ganda putra. Bahkan akhir2 ini Gideon seringkali dipuji akan kualitas permainan depan netnya yang semakin menawan yang tidak kalah dengan sang partner. Yang mereka butuhkan adalah kontrol diri, yang dalam hal ini adalah ketenangan. Tenang dalam mengambil setiap keputusan di atas lapangan. Jika mereka bisa lebih tenang, maka akan sulit menghentikan mereka.

Bicara tentang shuttlecock, venue, dll, ini adalah masalah teknis yang saya rasa bukan kali ini saja mereka hadapi. Itu adalah masalah yang sama bagi semua pemain di belahan dunia manapun. Namun seorang juara dan legenda adalah seorang yang bisa menaklukkan keadaan dengan apapun kondisi dirinya. Semoga dengan pengalaman bertanding di Jepang, Denmark dan Prancis bisa membuat mereka semakin belajar untuk bisa memperkaya permainan dengan berbagai kondisi yang dihadapi agar menjadi pemain yang lebih tangguh lagi.

Meski terasa sedih dan kecewa, namun banyak hal positif yang bisa kita pelajari dari kekalahan ini. Kekalahan ini akan membuka mata banyak pihak, baik itu untuk diri sendiri, kawan ataupun lawan. Dari komentar mereka tentang kekalahan ini sudah tergambar jelas bahwa mereka sudah menyadari kekurangan mereka dimana dan sudah bersyukur dengan pencapaian mereka hingga detik ini. Kekalahan ini juga adalah cara Tuhan menyayangi dan melindungi mereka agar mereka tidak menjadi orang yang jumawa. Bagi pihak lawan, kekalahan ini seperti menjadi pembelajaran bagi mereka bagaimana untuk bisa mengalahkan pasangan kita. Saya yakin kekalahan ini bukan pertanda kemerosotan mereka. Seperti trampoline yang semakin turun ke bawah maka loncatan akan semakin tinggi. Mungkin mereka sedang sedikit di bawah kali ini, tapi saya percaya bahwa mereka akan meloncat lebih tinggi lagi nanti di turnamen-turnamen berikutnya. (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya