Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

MBI Goes To Sabah Episode II (Bagian Satu)

Sabtu, 09 Februari 2019 07:26:18
481 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Bagai mengulang kisah 2013 lalu, sejumlah penggila bulutangkis dari Indonesia terbang melanglang buana menuju Negeri Jiran, Malaysia. Penggemar bulutangkis yang tergabung dalam komunitas Masyarakat Bulutangkis Indonesia atau yang biasa disingkat dengan sebutan MBI bertandang ke lagi ke Malaysia. Ini kali kedua komunitas ini bermain bulutangkis sekaligus berdarma wisata dan juga bersilaturahmi dengan sesama saudara serumpun.

Tujuannya tetap sama seperti halnya yang pernah dijalani, yakni Sabah. Pasukan MBI yang ikut serta kurang lebih berjumlah 20 orang. Dipimpin oleh Ben Jufri beserta istri, anggota MBI beranggotakan Wahyu Agung Setiawan, Arief Rachman, Sinangun Untung Widjaja, Dedi Darmawan, Alan Darmawan, Sudarmanto, Milan Yulianto dan istri, Pikki Azis dan istri, Mohammad Firdaus Sollachudin dan istri, Muhammad Sholeh dan keluarga serta Kamal Fatony dan keluarga.

“Cape juga ya. Lama di pesawat,” ujar Dedi, setibanya di Bandar Udara Internasional kota Kinabalu, bandara kedua paling sibuk di Malaysia setelah Bandara Internasional Kuala Lumpur, Jumat, 25 Januari lalu.

Tim yang berasal dari Bogor seperti Ben Jufri dan Istri, Kamal dan keluarga serta Dedi Darmawan harus berangkat dini hari sekitar pukul 01.00 WIB menuju bandara Soekarno Hatta (Soeta) padahal jadwal keberangkatan masih padapukul 09.40 WIB. Rupanya mereka semua sepertinya tidak ingin kemacetan kota Jakarta menjadi penghambat keberangkatan.

“Mending jalan lebih cepat, dari pada kena macet,” tutur Ben Jufri selaku ketua rombongan MBI.

Muhammad Sholeh dan keluarga datang dari Yogyakarta dan Sinangun Untung Widjaja wakil dari Kalimantan, memilih menginap di sekitar Bandara untuk menghemat waktu. Rombongan keberangkatan sebenarnya terbagi menjadi dua kelompok. Ini merupakan rombongan pertama dengan jumlah yang besar. Secara kebetulan rombongan pertama memesan tiket dalam satu pesawat yang sama dan kelompok terbang kedua yang terdiri dari Milan dan istri serta Firdaus dan istri terbang dengan pesawat yang berbeda.

Pasukan MBI rombongan pertama harus berputar menuju Kuala Lumpur, Malaysia, terlebih dahulu, karena tak ada lagi penerbangan yang langsung menuju bandara Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Perjalanan langsung yang biasanya memakan waktu kurang dari tiga jam, kini harus ditempuh hampir mendekati 5 jam. Belum lagi masa tunggu transit di Kuala Lumpur. Lepas transit dari Kuala Lumpur, barulah rombongan bergerak menuju tujuan akhir, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia

Kota Kinabalu tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Kota ini terletak di pesisir pantai. Jadi tak heran jika sesampainya di kota Kinabalu hawa cukup panas langsung menerpa kulit. Beruntung cuaca waktu itu sedang turun hujan gerimis. Jadi tak banyak keringat keluar bercucuran.

Sesampainya di Bandara Kota Kinabalu, pasukan MBI disambut langsung oleh YB Datuk Arifin Arif dan rombongan serta Bapak Ajahar Abdul Latif selaku perwakilan dari Sabah. Spanduk bertuliskan “Selamat Datang” terpampang menyambut para wakil komunitas. Senyum ramah, pelukan hangat, sapaan akrab bertebaran dari seluruh penyambut.

“Ahlan Wa Sahlan,” ujar Datuk sambil tak lepas dengan senyumnya.

Lepas mengabadikan dalam foto bersama, semuanya langsung mengangkut barang menuju kendaraan. Datuk menyiapkan beberapa kendaraan untuk membawa rombongan menuju penginapan. Salah satu hal yang mengasyikkan saat menjelajahi kota Kinabalu adalah tanpa ada kemacetan di berbagai sudut kota. Hingga jarak antara bandara kota Kinabalu dengan hotel yang kami tempati tidak membutuhkan waktu sampai satu jam. Kurang lebih pukul lima waktu setempat semuanya selamat sampai penginapan.

Tak cukup banyak waktu untuk para pemain komunitas untuk beristirahat. Rasanya baru saja punggung ini bisa diluruskan, tau-tau pesan singkat by whatssap masenger sudah berbunyi meminta semuanya turun menuju loby hotel. Memang pukul tujuh malam waktu setempat semuanya diminta berkumpul di loby hotel karena mobil penjemput sudah tiba.

”Masih pengen rebahan padahal,” ungkap Sudarmanto, yang akrab dipanggil dengan sebutan Pa’e.

Gemericik air hujan, mengiringi sepanjang perjalanan kami menuju Gor pertama yang harus dikunjungi di Dewan Badminton Taman Nelly Inanam. Disini, pasukan MBI sudah ditunggu para sahabat untuk melaksanakan pertandingan persahabatan dengan Nelly Tangkis Badminton Club (NTBC).

Friendly Match menjadi lebih semarak dengan kehadiran Konsulat Jenderal Republik Indonesia Bapak Drs. Krishna Djaelani, MA. Kehadiran beliau membuat suasana semakin semarak. Sang Konjenpun didaulat untuk melakukan foto bersama dengan wakil-wakil dari Indonesia. Tak lupa, cindera mata pun dipersembahkan bagi beliau. Namun sayang beliau tidak dapat ikut bermain karena tidak membawa perlengkapan. Selain Bapak Krishna, teman-teman MBI juga kembali ditemani oleh YB Datuk Arifin Arif. Hasil akhir bukan lagi menjadi satu tujuan dari pertandingan persahabatan ini. Yang pasti, keluarga MBI kembali mendapat saudara baru dari negeri Sabah, Malaysia. (Arief Rachman)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya