Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

MBI Goes To Sabah Episode II (Bagian Tiga)

Selasa, 19 Februari 2019 12:39:03
460 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Arief Rachman ©Bulutangkis.com

  • Arief Rachman ©Bulutangkis.com

  • Current
Umumnya, hari Minggu menjadi hari santai atau hari keluarga. Tapi tidak bagi kami. Hari Minggu (27/1) menjadi jadwal juga padat seperti hari lainnya selama kami di Sabah. Semuanya sudah teragenda dengan susunan jadwal yang padat. Tapi semua acara yang sudah terdaftar begitu menyenangkan. Apalagi pagi harinya kami sudah diajak oleh Datuk Arifin untuk mengikuti joging bersama di Tanjung Aru.

Seperti sebelumnya, kami berkumpul di lobby tepat pada pukul tujuh pagi. Kami pun sudah ditunggu jemputan yang akan membawa kami ke Tanjung Aru. Ada sebanyak lima mobil yang menjemput kami dan rombongan, termasuk Datuk Arifin. Tanjung Aru Joging Track menjadi salah satu tempat yang diminati tak hanya turis lokal tapi juga manca negara. Terbukti Tanjung Aru Joging Track muncul dalam Trip Advisor. Masuk area ini hanya satu ringgit saja atau sebanding dengan tiga ribu lima ratus rupiah. Tidak ada penambahan harga parkir untuk jam berikutnya. Harga yang sangat murah jika dibandingkan dengan fasilitas yang ditawarkan. Joging track terbagi menjadi dua bagian, yakni keras dan lunak. Kategori keras dan lunaknya terlihat dari landasan/lapisan jalan. Pengunjung bebas memilih jalur yang diiginkan. Memasuki Joging track kita akan disuguhi dengan pemandangan yang cantik. Di bagian tengah, terpampang danau yang luas. Aneka burung juga bebas terbang disini tanpa takut ditangkap oleh pengunjung, termasuk burung bangau yang sering mendekati bibir danau. Tak terlihat potongan sampah berserakan disini. Semuanya sudut joging track bersih dari sampah.

Bagi kami yang baru pertama kami berkunjung kesini, ini merupakan momen yang langka. Tak ayal kami pun menyempatkan diri untuk mengabadikan dalam bentuk foto atau video. Satu putaran sudah cukup bagi rombongan yang dipimpin oleh Datuk Arifin untuk berolahraga. Selanjutnya rombongan diboyong oleh Datuk untuk menikmati sarapan pagi. Menunya? sudah bisa ditebak. Hampir semuanya memesan roti telur atau roti Canai dengan kuah kare plus minuman Ki Cai Ping. Puas sarapan, kami kembali diantar menuju hotel.

Menu jalan-jalan kami berikutnya adalah mengunjungi pasar rakyat yang letaknya di tengah Kota Kinabalu. Nama pasar ini adalah Gaya Street. Disini banyak dijual hasil bumi dan kerajinan dan rakyat, mirip dengan pasar kaget seperti di Indonesia. Hanya saja, gaya street buka setiap hari Minggu sampai dengan pukul satu siang. Di pasar ini aneka jualan dijajakan disini. Mulai dari aneka minuman, makanan, kue jajangan pasar, buah-buahan, kaos bertuliskan “Sabah” sampai binatang seperti kucing atau anjing ada disini. Kami juga menemukan buah yang diberinama oleh orang-orang sabah dengan nama Tarap. Kulit buah ini mirip dengan nangka atau cempedak, hanya saja bentuknya lebih bulat. Buah ini tidak terlalu sulit untuk dibuka. Tinggal menekan dengan jari, maka bagian kulitnya langsung terbuka. Cara menikmatinya pun tidak terlalu sulit. Tinggal memakan isi buah-buahan yang berwarna putih. Rasanya? perpaduan antara manggis, nangka, durian dan cempedak. Konon, menurut cerita warga Sabah, buah ini tadinya tidak lazim dimakan oleh manusia. Buah ini lebih sering disantap oleh sebangsa kera.

Sampai tengah hari, perburuan oleh-oleh berubah. Sebagian peserta lelaki memutuskan untuk melihat-lihat mall di Kota Kinabalu, sementara kaum hawa tetap bersikukuh menjelajahi gaya street. Pilihan para pria adalah Mall Imago. Salah satu mall terbesar di Kota Kinabalu yang belum lama di buka. Mall Imago tak jauh berbeda dengan mall yang ada di jakarta. Sebagian besar pengisi toko juga ada di Indonesia. Para pria sengaja memilih Imago karena berniat mengunjungi beberapa toko olahraga yang katanya konon memiliki produk terbaru dengan harga yang sedikit lebih miring jika dibandingkan di Indonesia. Namun sayang, setelah keliling di beberapa toko olahraga, pilihan yang dicari tidak ada. Walhasil kami pun memilih makan siang di salah satu resto yang ada. Meeting point sore hari tetap di mall Imago. Kami pun tidak beranjak dari restauran sampai para ibu-ibu bergabung.

Malam hari kami kembali harus menjalani pertandingan persahabatan. Dengan lokasi lapangan sama persih dengan hari kedua, yakni di Sutra Harbour. Bagi kami yang rata-rata sudah berumur kepala empat, rasanya perlu waktu yang lebih lama untuk recovery untuk persiapang pertandingan panjang selama tiga hari berturut-turut. Ditambah acara yang sangat padat, tentunya menguras tenaga yang lebih banyak. Malam ini pun perlawanan dengan klub yang ada di Kinabalu dilakukna dengan tenaga apa adanya. Tetapi diam-diam friendly match malam ini rupanya dikunjungi oleh tamu spesial. Tak hanya Datuk Kadzim, pertandingan persahabatan antara MBI dengan Kota Kinabalu City Badminton Association (KKCBA) didatangi oleh wakil Mentri Belia Sukan Negeri Sabahm Bapak YB Arunansanin Bin Taib yang bermain membela tim MBI dan berpasangan dengan Pikki Aziz. Minimnya tenaga para wakil MBI membuat seluruh pertandingan tidak berjalan lama. Rasa lelah membuat hampir semua pemain MBI bisa bermain satu kali saja.

Seluruh pasukan dari Indonesia sekembalinya dari pertandingan langsung berkemas-kemas karena keesokan harinnya akan kembali pagi sampai tengah hari harus mengikuti serangkaian kegiatan yang padat dan sore harinya harus berangkat menuju daerah Bundu Tuhan. (Arief Rachman)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya