Berita > Artikel

Hendra dan Ahsan Dalam Catatan Ringan Lily Dian

Kamis, 14 Maret 2019 11:00:22
1061 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Salut. Keren. Luar Biasa. Habis itu saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Memang pantas Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan masuk sebagai legenda bulutangkis Indonesia. Tidak pernah mudah menjalani pertarungan di tengah kesakitan, namun adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa dan tiada tara ketika akhirnya semua itu terbayar dengan kemenangan.

Kokoh dan Babah, saya memanggil Hendra dan Ahsan, bukan sedang melawan pasangan muda Malaysia kemaren, tapi mereka sedang bertempur melawan diri mereka sendiri. Bagaimana mereka berjuang melawan rasa sakit, rasa lelah dan rasa ingin menyerah. Semua itu mereka lawan dengan gagah berani dan pastinya tanpa rasa takut.

Hendra dan Ahsan sudah memberikan contoh nyata bagaimana sebuah tekad bisa mengalahkan apa yang disebut mustahil. Seperti halnya sebuah kata-kata bijak yang berbunyi ‘'Tidak ada yang tidak mungkin selama kita bekerja keras dan berusaha untuk mencapainya’'. Kemenangan mereka menjadi bukti bahwa kehadiran Tuhan akan selalu ada bagi mereka yang tidak pernah lelah dan tidak pernah berhenti berusaha serta bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan. Hal ini sudah sepatutnya harus diteladani oleh junior-junior mereka, tanpa terkecuali.

Kemenangan Hendra dan Ahsan memang tidak lepas dari peran teknis dab strategi, namun sejatinya faktor penyumbang terbesar kemenangan mereka terletak pada hal non teknis. Sama seperti yang sudah disampaikan teman-teman di forum diskusi Bukutangkis.com, secara umum saya melihat kekalahan para punggawa kita lebih kepada persoalan non teknis daripada hal-hal teknis. Pemberian kartu merah oleh wasit, kesalahan servis, match point syndrome dan tentu saja kesalahan-kesalahan sendiri yang dilakukan yang akhirnya berujung pada terganggunya sisi non teknis pemain kita. Saya tidak ingin bersudzon atau berprasangka buruk, tapi alangkah baiknya jika kita mengantisipasi hal-hal buruk agar tidak mengganggu dan terjadi lagi di masa depan.

Saya baru-baru ini menonton kembali sebuah tayangan variety show asal Negeri Ginseng yang sudah lama tamat penayangannya, sebuah variety show bertemakan dunia olahraga Cool Kiz On The Block. Di salah satu episodenya yang bertemakan olahraga judo, legenda judo Korea Selatan peraih medali emas di Olimpiade Athena 2004 yang juga pelatih tim judo putri Korea Selatan, Lee Won Hee, mengatakan kepada member acara tersebut. '‘Berpikir terlalu banyak pada saat pertandingan tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya berpikir tentang mengeluarkan kemampuan (keahlian) yang kamu bisa gunakan. Hanya berpikir tentang apa yang bisa kamu lakukan'’. Ketika mendengarkan lagi kata-kata tersebut membuat saya langsung teringat dengan ajang All England kali ini, dan saya rasa kata-kata tersebut bisa menjadi alat atau motivasi bagi para punggawa kita ketika menghadapi situasi krusial dalam pertandingan.

Kegagalan The Minions mempertahankan gelar dan menciptakan hattrick memang sedikit mengecewakan. Banyaknya wakil Indonesia yang bertumbangan sebelum babak perempat final memang sangat mencemaskan. Gagalnya Praveen/Melati dan Fajar/Rian melangkah menuju final memang sangat disayangkan. Namun tetap ada hal-hal baik yang bisa kita petik dari semua perjalanan mereka di pentas All England kali ini. Seperti yang pernah saya utarakan di tulisan saya sebelumnya bahwa bahwa dengan segala hal yang sudah dicapai, tetap ada keharusan untuk rendah hati dalam menjalani kehidupan. Kokoh dan Babah sudah membuktikan di tengah segala prestasi besar yang sudah mereka torehkan, mereka tetap berusaha merendahkan hati mereka dengan terus haus akan kemenangan dan gelar juara seperti layaknya pemain muda yang masih menapak mencari prestasi saat mereka baru saja menjejakkan kaki di pentas bulutangkis dunia. Kekuatan mental, pikiran, rasa haus dan lapar. Inilah yang harus terus dijaga dan diperkuat oleh junior mereka.

Rhoma Irama berhipotesis dalam salah satu lagu legendarisnya, ‘'Darah muda darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah'’. Hendra dan Ahsan sebenarnya tidak lagi muda dan mereka juga tak lagi gagah, itu terbukti dengan cederanya Hendra di babak semifinal yang sebenarnya tidak bisa lepas dari sebuah andil yang namanya faktor usia. Namun lihatlah mereka kemaren, benar-benar ngotot dan terus berjuang hingga tidak mau sedikitpun mengalah pada pemain muda negeri tetangga.

Wahai adik-adikku yang ada di Pelatnas, masa kalian kalah sama Kokoh dan Babah. Buktikanlah bahwa hipotesis Sang Raja Dangdut tidak salah. Bahwa kalian masih gagah, masih kuat, masih perkasa hingga kalian tidak ingin mengalah kepada siapapun, bahkan jika itu kepada teman atau senior kalian sendiri. The Minions sudah membuktikannya selama dua tahun terakhir. Secara jujur saya tidak ingin memberikan tekanan, beban ataupun ekspektasi pada mereka berdua. Saya masih percaya bahwa mereka masih mampu membuktikannya, mungkin kemaren mereka sedang ‘terpeleset’ saja. Kini saya ingin menunggu bukti dari pemain-pemain yang lain yang bisa membuat hipotesis Rhoma Irama menjadi nyata adanya.

Saya tidak tahu seberapa besarkah tulisan-tulisan saya akan bisa mendatangkan hal-hal positif bagi para pemain kita. Bagi saya, tulisan-tulisan ini adalah sebuah harapan, motivasi, masukan dan doa buat mereka para pejuang tepok bulu Indonesia karena saya mencintai mereka dan olahraga ini dengan segenap hati saya.

Selamat buat Kokoh dab Babah atas kemenangannya yang luar biasa. Jaga Kesehatan ya, Bah. Get well soon, Koh. (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya