Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Catatan Lily Dian, Indonesia vs Denmark

Rabu, 22 Mei 2019 01:01:06
861 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Menghadapi tim Denmark harus punya modal lebih dari sekedar skill dan teknik. Negara-negara barat lebih mengedepankan sisi mindset dan strategi dalam bertempur ketimbang adu fisik atau senjata.

So, saya sangat berharap bahwa kali ini tim Indonesia tidak boleh lagi menganggap remeh atau merasa berada di atas angin dengan terjadinya kekalahan tim Denmark atas Inggris. Melakukan persiapan dengan menurunkan tim dengan komposisi pemain yang memang dalam kondisi terbaik hari ini adalah hal yang mutlak harus dilakukan jika tidak ingin dipermalukan untuk kedua kalinya secara beruntun dan kembali ke tanah air lalu menyapa masyarakat pecinta bulutangkis Indonesia dengan wajah tertunduk.

Tidak hanya 3 sektor saja, semua sektor punya peluang untuk menuai kekalahan jika tim pelatih dan ofisial tidak benar-benar teliti dan berhitung dengan baik karena saya yakin lawan juga akan tidak segan-segan untuk mengutak atik strategi mencari formula yang tepat untuk bisa membuat peluang kemenangan yang di atas kertas terlihat kecil menjadi sebuah keajaiban yang besar. Kali ini saya berharap tidak lagi hanya menurunkan (mengandalkan) pemain yang hanya mengandalkan kekayaan senjata dalam permainan, yang tak kalah penting adalah ketangguhan mental baja yang harus ditunjukkan.

Tim Inggris sudah memberikan kita pelajaran bahwa meski mengalami kekalahan di pertandingan pertama, meski head to head di atas kertas materi pemain mereka masih kalah saing dengan tim Denmark, meski statistik sangat tidak menguntungkan mereka. Mereka tidak sedikitpun gentar. Mereka tidak sedikitpun merasa kecil nyali. Mereka justru menunjukkan bahwa usaha, kerja keras dan semangat pantang menyerah harus ditunjukkan terlebih dahulu terlepas dari apapun hasil akhirnya karena bagaimanapun juga mereka ingin merasa bangga selama menjalani pertandingan di Sudirman Cup kali ini karena telah berjuang dengan sekuat tenaga.

Dua hari yang lalu, kita sudah mengalahkan tim Inggris. Oleh karena itu, saya harap kita jangan sampai kalah semangat dan daya juang dari tim yang sudah kita kalahkan sebelumnya. Bayang-bayang masa lalu pasti selalu ada. Kebetulan juga di masa lalu kita juga menghadapi Denmark di pertandingan kedua yang juga menjadi pertandingan penentuan hasil akhir klasemen grup. Kali ini kesempatan yang sama datang kembali. Tuhan tidak menciptakan kejadian kebetulan ini dengan tanpa tujuan. (Mungkin) ini adalah suatu sinyal dan juga kesempatan dari Tuhan bagi tim Indonesia dengan cara memberikan cobaan yang sama persis dengan sebelumnya agar tim Indonesia bisa naik kelas ke level berikutnya. Saya sangat berharap bahwa tim Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan segera enyah dari masa lalu kelam yang pernah tercipta sebelumnya.

Saya memang tidak punya hal yang spesifik terkait siapa pemain yang layak diturunkan pada pertandingan nanti karena buat saya semua pemain yang dimiliki Indonesia memiliki kans kalah dan menang yang sama. Di sektor ganda putra, meski Kevin/Gideon menempati peringkat No. 1 dunia namun penampilan mereka sepanjang tahun ini masih belum konsisten. Mengandalkan Hendra/Ahsan juga tidak sepenuhnya menjamin keamanan dalam meraih poin karena meski mereka memiliki kekayaan pola permainan namun tidak bisa dipungkiri faktor usia membuat mereka memiliki kemungkinan yang rentan pada stamina dan kecepatan. Menurunkan Fajar/Rian juga tidak mengurangi kekhawatiran. Meski berusia muda yang berdampak pada kuatnya tenaga dan stamina, namun penampilan labil mereka juga menjadi kekhawatiran tersendiri.

Meski di sektor ini, komposisi pemain lawan tak lagi setangguh dulu, Boe yang sudah di semakin menua, Conrad/Petersen yang masih belum kembali tajinya dan Kim/Anders yang masih labil permainannya, namun tetap saja mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Pengalaman Boe masih bisa jadi senjata tersendiri, kecerdikan Conrad/Petersen bisa jadi senjata tersembunyi dan status underdog Kim/Anders punya kans untuk menjadi pelecut motivasi. Belum lagi taktik dan strategi permainan yang akan disiapkan oleh tim pelatih mereka. Dengan segudang pengalaman dan jam terbang, Boe dan Conrad/Petersen menjadi pemain yang sangat fleksibel bila diturunkan, entah itu kedua-duanya ataupun hanya salah satunya. Jika tim pelatih Denmark berani mengambil resiko memecah Kim/Anders yang merupakan ganda putra mereka dengan peringkat paling tinggi, maka dugaan saya Anders akan dipertahankan mengingat determinasinya di setiap pertandingan demi untuk menjaga daya gedor mereka. Jika Anders akan dipasangkan dengan salah satu diantara Boe dan Conrad/Petersen, maka tim Indonesia harus mulai bersiap dan waspada.

Di sektor tunggal putra juga sama. Jojo, Ginting dan Vito memiliki peluang kemenangan dan kekalahan yang tidak jauh berbeda terhadap tim Denmark yang kemungkinan besar akan menurunkan Vikton Axelsen yang kini sedang berada di posisi lebih unggul dari mereka bertiga meski mereka pernah saling mengalahkan antara satu sama lain. Begitupun juga di sektor tunggal putri yang punya kondisi yang tak jauh berbeda dengan Jorji yang masih belum kembali ke performa terbaiknya pada saat sebelum cedera dan Fitriani yang juga masih belum bisa mempertahankan performa apiknya pasca kemenangannya di Thailand awal tahun ini. Terlepas dari siapapun lawan yang mereka hadapi, entah itu Mia ataupun Line, sektor ini menjadi sektor yang benar-benar tidak bisa diprediksi.

Apalagi di ganda putri yang praktis hanya mengandalkan 3 pemain saja. Menarik memang melihat bagaimana seorang Eng Hian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pelatih ganda putri kita sebelumnya. Di mata saya, ini merupakan sebuah indikasi dan juga penunjukan sikap yang cukup tegas dari sang pelatih bahwa selain dari 3 pemain yang dibawanya (yang bisa juga berubah menjadi 4 apabila memasukkan Tania), ia masih belum memiliki kepercayaan penuh kepada pemain lainnya. Padahal di luar 3 pemain yang terdaftar juga ada sejumlah pemain yang sudah punya pengalaman di turnamen beregu baik di level junior ataupun senior. Jika saya menjadi pemain yang tidak dibawa oleh sang pelatih, maka saya akan menjadikan kejadian ini sebagai cambuk yang sangat besar bagi saya agar saya ''wajib'' meningkatkan kemampuan saya dan memperlihatkan sebuah improvement yang berkesan untuk pelatih saya.

Sementara di sektor ganda campuran, lagi-lagi ketiadaan Liliyana meninggalkan lubang yang sangat besar. 3 ganda campuran yang dibawa masih tidak dalam kondisi ‘aman’. Yang satu, penuh kemewahan skill yang memikat namun masih lemah dalam hal mental dan nonteknis lainnya. Sementara rekan sejawatnya meski penampilan mereka cenderung stabil namun mereka tidak memiliki hal-hal yang menakutkan lawan di lapangan. Sementara yang satu lagi masih dalam masa penjajakan yang masih belum teruji ketangguhannya, terutama jika berlaga di pertandingan beregu sebesar Sudirman Cup meski memiliki seorang pemain yang sangat berpengalaman.

Meski Christinna/Kamilla sudah tidak lagi bermain, namun bukan berarti sektor ganda campuran dan ganda putri Denmark tidak bergigi. Sara Thygesen menjadi 'ace' mereka di sektor ini. Apalagi jika tim pelatih Denmark memainkannya dalam 2 partai (ganda campuran dan ganda putri), maka otomatis sektor ganda campuran akan dikedepankan. Ditambah lagi mengingat secara head to head ganda campuran mereka memiliki sedikit keunggulan dibanding ganda campuran kita meski secara teknik dan skill, ganda campuran kita jauh lebih unggul. Jika ini benar-benar terjadi nanti, maka Richard Mainaky harus benar-benar jeli dan teliti untuk memutuskan siapa pemain yang akan diturunkan. Secara pribadi saya menunggu ‘magis’ Richard selaku pelatih kepala ganda campuran dalam mengatasi ketiadaan Liliyana dan Debby yang sudah pensiun. Saya berharap ia bisa membuktikan bahwa keberhasilannya selama ini di sektor ganda campuran bukan hanya karena faktor si golden player Liliyana Natsir tetapi juga karena ia juga bisa seperti rekan sejawatnya Herry IP yang selalu punya daya Midas dalam menciptakan pasangan ganda kelas dunia.

Melihat komposisi seluruh pemain tim Denmark, terlihat bahwa tim Denmark mengandalkan tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran untuk meraih poin. Saya punya firasat yang kuat jika strategi ini akan mereka mainkan karena susunan pertandingan yang akan terjadi nanti sangat menguntungkan buat tim Denmark, yaitu mengambil kemenangan sebanyak mungkin dari tiga pertandingan pertama.

Dari penilaian yang saya kemukakan di atas, terlihat bahwa sebenarnya kita tidak begitu tangguh secara kekuatan. Masih banyak terdapat kerapuhan yang bisa dimanfaatkan lawan untuk digedor dan diruntuhkan. Meski lawan juga memiliki masalah yang tak jauh berbeda, itu bukan berarti kita bisa sedikit melonggarkan fokus kita.

So, kita masih belum bisa bernafas laga, kawan. Kita tetap harus mengencangkan sabuk pengaman, jika ingin tiba di tempat tujuan dengan aman dan selamat, terutama dari hujatan para pecinta bulutangkis Indonesia. Saya sebagai salah pecinta bulutangkis Indonesia akan berusaha untuk tetap ada disamping mereka dan bersama mereka lewat doa. Saya harap tim Indonesia bisa mengakhiri pertandingan esok hari dengan senyuman bahagia. Amin. Fighting!!! (Lily Dian)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya