Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Main Rangkap Demi Utak-Atik Order of Play

Jumat, 24 Mei 2019 21:11:50
1927 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ketika berbicara tentang topik order of play, pemain rangkap dan dadakan membuat saya secara tidak sengaja teringat pada idola saya, Liliyana Natsir. Tiba-tiba saya jadi penasaran tentang apa yang seorang Liliyana pikirkan saat ini melihat sektor ganda campuran yang dulu jadi harapan namun sekarang terancam menjadi sebuah kenangan.

Sejak tahun 2005 Liliyana sudah menjadi tulang punggung Indonesia di sektor ganda campuran. Sepanjang karir Liliyana harus absen dua kali dari ajang Piala Sudirman yaitu tahun 2011 (meski namanya tetap masuk dalam daftar pemain resmi) dan 2017. Di tahun 2011, kita praktis hanya mengandalkan Fran Kurniawan/ Pia Zebadiah Bernadet yang menurut saya sudah berhasil mengemban tugasnya dengan baik sebagai tulang punggung Indonesia. Mereka menunjukkan permainan yang apik dan pantang menyerah sesuai dengan predikat mereka sebagai penghuni ganda csmpuran 10 besar dunia saat itu. 

Sementara pada tahun 2017, sektor ganda campuran benar-benar goyah bahkan seorang Tontowi Ahmad pun tak mampu mempersembahkan kemenangan di pertandingan perdananya. Beruntung Praveen Jordan/ Debby Susanto sedikit mampu menyelamatkan muka dengan mengalahkan Joachim Fischer Nielsen dan Christinna Pedersen  yang saat itu memang sudah mengalami penurunan performa karena faktor usia Joachim yang tak lagi muda. Lalu lihatlah sekarang, satu kemenangan pun belum mampu diraih oleh sektor ini (catatan sepanjang babak penyisihan grup Piala Sudirman 2019). Itu hanya sebuah flashback saja. Memang sudah bukan saatnya lagi mengaitkan Liliyana dalam hal ini.

Bicara tentang pasangan dadakan, terutama untuk sektor ganda campuran, memang agak susah-susah gampang dan membuat perasaan seperti benci-benci rindu. Memang bermain rangkap menjadi sedikit kerugian manakala jumlah punggawa yang diandalkan menjadi lebih sedikit. Namun ketika tiba dalam kondisi seperti saat ini, event kejuaraan beregu Piala Sudirman, keengganan bermain rangkap menjadi sebuah kesulitan tersendiri karena akan membuat tim pelatih lebih memutar otak untuk mencari strategi dan taktik yang tepat demi memuluskan jalan tim meraih kemenangan. 

Kesulitannya menurut saya lebih kepada faktor ‘terbiasa’ atau ‘membiasakan’ diri. Jika ingin seperti negara-negara lain, contohnya China atau Jepang yang memang memiliki sejumlah pemain yang mumpuni, maka tidak merangkapkan pemainnya pun bukan suatu masalah yang besar karena pemain-pemain mereka di semua lini, apalagi di ganda putra dan ganda putri, juga tangguh. Sementara kita, memiliki kenyataan yang jauh berbeda.

Lalu kita coba bandingkan lagi dengan negara lain, contohnya Denmark dan Inggris yang memiliki keterbatasan pemain lebih sedikit dari kita. Mereka mampu memanfaatkan keterbatasan mereka menjadi sebuah kelebihan ketika bertanding pada event beregu seperti Piala Sudirman ini. Matias Christiansen/Sara Thygesen sebenarnya adalah pasangan lama yang sudah lama tidak bersama. Namun lihatlah penampilan mereka di dua pertandingan kemarin, sungguh tidak terlihat kecanggungan akibat berpisah cukup lama diantara satu sama lain. 

Contoh lain ada pada Marcus Ellis. Totalitasnya bermain rangkap berbuah manis, meski harus merasakan rasa sakit namun ia berhasil mempersembahkan 2 poin untuk timnya sehingga berhasil meraih kemenangan atas tim Denmark. Nah sekarang pertanyaannya jika nanti akan diputuskan menciptakan pasangan dadakan demi alasan strategi, entah itu pasangan lama kembali lagi ataukah pasangan dadakan yang benar-benar baru, yang kemudian harus mengorbankan satu pemain untuk bermain rangkap. Apakah mereka bersedia menyingkirkan segala kecanggungan di antara mereka dan kelelahan serta rasa sakit yang menerpa di lapangan nanti demi negara?. Disinilah peran mental dan pikiran sesungguhnya bermain. Mereka sudah membuktikannya. Sekarang giliran kita, Indonesia.

Banyak teman-teman forum diskusi (fordis) Bulutangkis.com ingin melihat kembali duet Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Greysia Polii yang sempat menjadi fenomena di masanya. Merangkapkan Kevin bersama dengan Greysia memang terlihat sangat riskan. Selain mereka sangat diandalkan di sektornya masing-masing, juga karena usia Greysia yang berpengaruh pada kondisi fisiknya yang akan rentan bermain rangkap, belum lagi Kevin yang juga harus menjaga kondisi bahunya yang sebenarnya juga masih terus mendapatkan perawatan rutin demi kesehatannya. Greysia memang pernah berpasangan dengan Tontowi di masa lalu dan hasilnya juga tidak jelek-jelek amat namun balik lagi dengan kondisi Greysia yang kini tak lagi muda. Mengedepankan Apriyani Rahayu untuk bermain rangkap juga merupakan hal yang masih menjadi pertanyaan mengingat kini Apriyani sudah cukup terbiasa menjadi penggebuk dan sedikit berkurang dalam hal area permainan depan. 

Akhirnya ujung-ujungnya kembali lagi kepada pelatih dan pemain itu sendiri, bersediakah mengorbankan sesuatu dan membiasakan diri demi sebuah strategi? Sekedar mengingatkan bahwa di tahun 2013, di babak perempat final melawan tim China, Liliyana bersedia dimainkan rangkap di ganda campuran bersama Tontowi, dan di ganda putri, dadakan bersama Nitya. Kala itu, ganda campuran berhasil mengambil poin, namun ganda putri harus rela kalah sehingga menyebabkan tim Indonesia gagal ke babak semifinal dengan skor 2-3.

Namun apa yang terjadi setelah itu, tidak banyak yang menghujat tim kita karena memang itulah strategi, taktik dan formasi terbaik yang bisa kita turunkan untuk memperbesar peluang lolos ke babak selanjutnya. Semua pertandingan dilakoni dengan laga super ketat dan penuh perjuangan bagi kedua tim.

So, poinnya adalah maukah berusaha sekuat tenaga? Lalu bersediakah untuk mendobrak segala norma yang ada? (Lily Dian)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya