Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Strategi, Strategi dan Strategi (Bagian Ketiga)

Selasa, 28 Mei 2019 11:35:40
3577 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sejujurnya sejak awal tim Piala Sudirman 2019 ini dibentuk, saya tidak menaruh ekspektasi tinggi pada wakil-wakil kita sama seperti apa yang saya lakukan 2 tahun sebelumnya. Harapan akan juara tentu ada, namun saya juga harus menyadari dan membuka mata akan seberapa besar kekuatan kita untuk berbicara di turnamen bulutangkis beregu terbesar ini. Kekecewaan pasti ada, kesedihan itu sudah tak terkira. Namun apapun itu saya tetap apresiasi atas semua yang sudah dilakukan oleh pemain-pemain kita. Setidaknya kita patut bersyukur bahwa kita bisa kembali menjejakkan kaki di babak semifinal setelah terakhir kita merasakannya di tahun 2011.

Strategi tim lagi-lagi menjadi kelemahan bagi tim kita. Meski kita memiliki cukup banyak pemain yang bertengger di 10 besar dunia, namun itu bukan berarti menunjukkan bahwa secara kemampuan fisik, teknik dan mental mereka bisa dikatakan luar biasa. Bahkan untuk pemain sekelas Kevin/Gideon yang begitu digdaya di perseorangan selama 2 tahun terakhir bisa menjadi inkonsisten di setiap penampilan mereka di event-event beregu sebelumnya. So, peringkat tetap tidak bisa dijadikan acuan bahwa komposisi tim kita lebih unggul dari tim lawan.

Jika sebelumnya masalah di bulutangkis kita lebih kepada masih kurangnya talenta yang ada, terutama di sektor putri. Kini ditambah lagi dengan kurangnya amunisi untuk bisa menjalankan berbagai strategi. Minimnya pemain yang fleksibel secara permainan atau rangkap sedikit banyak membawa dampak pada kegagalan kita menembus babak final Piala Sudirman 2019. Entah sadar ataupun tidak, kita seolah seperti dipermainkan lawan ketika mereka memiliki pemain yang bisa dirangkapkan karena memang ketika salah satu tim merangkapkan pemain maka pilihan Order of Play (OOP) akan mengikuti kebutuhan tim tersebut. Sayangnya, kejadian seperti ini seringkali merugikan tim kita karena dan dengan strategi seperti itu maka usaha mereka untuk membuat kemenangan selangkah lebih jauh dari kita akhirnya berhasil.


Jika kita punya skuad mumpuni seperti yang dimiliki tim Cina dan Jepang, maka apapun order of play-nya tidak akan menjadi masalah yang begitu besar karena mereka punya kekuatan yang hampir merata di semua sektor. Sedangkan pada kenyataannya kita masih punya amunisi yang terbatas meski punya jumlah pemain yang cukup banyak. Dalam ilmu keteknikan, jika kita memiliki keterbatasan ruang sementara kita membutuhkan banyak alat untuk melakukan berbagai pekerjaan, maka solusinya adalah mengadakan (membuat atau membeli) peralatan yang memiliki kemampuan multifungsi demi menghemat penggunaan ruang yang banyak sehingga sisi ruang yang lain bisa dipergunakan untuk hal-hal lain dan juga bisa menghemat pengeluaran.

Saya rasa prinsip yang sama bisa diterapkan di dunia bulutangkis. Memang kerugiannya pasti ada. Seperti sebuah printer multifungsi yang jika mengalami satu gangguan maka ia bisa menggagalkan fungsi lainnya sehingga kita tidak bisa menggunakannya sebelum printer tersebut diperbaiki dengan benar. Pada bulutangkis, jika si pemain rangkap ini terkena cedera dan kebetulan ia adalah pemain yang diandalkan di kedua sektor, maka memang akan menjadi sebuah kerugian. Namun dalam pertarungan event beregu seperti Piala Sudirman, justru pemain ini akan menjadi kartu as yang bisa jadi ada kemungkinan untuk membalikkan keadaan. Dari yang awalnya kita coba dipermainkan lawan lewat order of play, bisa menjadi bumerang tersendiri bagi lawan. Namun itu akan bisa terwujud bila si pemain rangkap yang kita punya ini memiliki kemampuan yang benar-benar mumpuni.

Mungkin tidak hanya saya, teman-teman disini juga sangat ingat bahwa PBSI melalui Bu Susy pernah berwacana akan merangkapkan para pemain. Hingga kini wacana tersebut hanya terealisasi pada level junior saja, sama seperti sebelumnya, terutama itu terjadi kebanyakan ketika mereka berada di luar pelatnas. Sedangkan di level yang sedikit lebih di atasnya, wacana tersebut hampir tidak ada. Meskipun ada beberapa yang sempat dirangkapkan namun itu tidak berlangsung lama dan memberikan kesan kurangnya kesungguhan di dalamnya.

Saya merasa pelatnas perlu membentuk (menciptakan) pasangan ganda campuran (XD) yang salah satu pemainnya bermain rangkap di sektor ganda sejenis, entah itu ganda putri (WD) ataupun ganda putra (MD). Saya rasa tidak perlu banyak-banyak, cukup 2 pasangan saja untuk awalannya. Namun 2 pasangan ini harus benar-benar dilatih dengan baik mulai dari fisik, mental dan tekniknya. Membentuk 2 pasangan tersebut dari pemain di garis terdepan sektor MD dan WD, rasanya mungkin akan sangat riskan dan beresiko, terutama untuk saat ini dimana sekarang adalah masa pengumpulan poin untuk olimpiade. Tim pelatih pelatnas bisa memulainya dari pemain lapis kedua seperti dari angkatan Siti Fadia, dkk. Mungkin hasilnya tidak bisa dalam waktu yang cepat, namun minimal untuk beberapa tahun kemudian jika ini dilakukan dengan sungguh-sungguh saya yakin bahwa hasilnya akan positif untuk ke depannya.

Seperti yang disebutkan oleh bung @kopipanas di forum diskusi Bulutanvkis.com, saya juga merasakan hal yang sama. Mungkin saat itu Bu Susy ataupun ofisial tim secara keseluruhan masih memiliki rasa percaya yang cukup besar bahwa skuad yang ada sudah cukup untuk membuat tim melangkah ke babak final. Apalagi mengingat cukup banyak pemain Indonesia yang bertengger di peringkat 10 besar dunia, kecuali di sektor tunggal putri (WS), hingga akhirnya mereka lupa bahwa sesuatu bernama order of play bisa melemahkan kekuatan kita. Meski para pemain yang berada di level tersebut biasanya memang bisa dianggap setara secara skill dan teknik, jangan lupakan bahwa tidak banyak dari pemain-pemain kita yang dibekali ketahanan, baik itu fisik maupun mental, yang luar biasa dalam mengatasi tekanan. Namun jika PBSI masih kuat meladeni permainan tarik ulur order of play dari tim lawan dengan masih percaya diri dengan apa yang mereka pegang saat ini, ya saya tidak bisa berkata apa – apa selain silahkan saja jika mereka masih sanggup melakukannya.

Untuk sektor WS, sepertinya adik-adik saya disana harus lebih banyak membaca (menonton) banyak jenis pertandingan bulutangkis, terutama pertandingan – pertandingan yang dilakoni oleh para pemain 10 besar dunia terutama di final pertandingan-pertandingan besar seperti Olimpiade. Ada sebuah kata-kata bijak mengatakan ‘jika kamu ingin mengenal dunia, maka bacalah’. So, jika adik-adik WS ingin bisa merangkak naik ke persaingan level atas dan menempati peringkat no. 1 dunia, maka banyak-banyaklah membaca (menonton). Kalo perlu setiap hari tonton satu pertandingan klasik nan bagus sebelum kalian tidur. Dengan menonton maka otakmu akan mengingatnya dan otak jugalah yang merupakan sentral yang akan menggerakkan tubuhmu di lapangan.

Perhatikan segala hal yang ada pada mereka. Bukan hanya soal teknis, skill maupun strategi, tapi juga tentang bagaimana cara mereka menggerakkan tubuh, mengatur pikiran, mengelola hati, mengatasi tekanan-tekanan yang ada. Lihatlah itu semua, dek. Mereka yang menang adalah mereka yang selalu meringankan langkah kakinya. Mereka yang juara adalah mereka yang selalu bersedia dan tak lelah mengejar kemana saja. Bahkan mereka yang disebut legenda adalah mereka yang selalu meluruskan bahu dan menegakkan badannya. Kenapa? Karena jika kamu ingin berdiri di podium yang tinggi kamu tidak boleh terlalu ‘berat’, lemah dan oleng. Mereka yang berada di posisi tertinggi adalah mereka yang kuat dan mampu berdiri dengan seimbang meski apapun yang menerpanya.

Sementara itu untuk tunggal putra (MS), kali ini memang punggawa sektor ini tampil di bawah penampilan terbaik mereka. Terlepas dari adanya faktor nonteknis yang tidak mendukung mereka seperti gedung yang super lambat dan shuttlecock yang berat, Jojo dan Ginting memang masih belum mampu untuk mempertontonkan senjata andalan mereka sepanjang pertandingan di ajang Piala Sudirman kali ini. Pelajaran berharga bagi para punggawa MS lewat statement Jojo yang mungkin bisa jadi perhatian dan masukan bagi para pemain untuk ke depannya. Bahwa selain faktor gedung, angin dan berat shuttlecock, karakteristik shuttlecock di segala kondisi juga patut untuk diperhitungkan seperti bagaimana kecepatannya ketika dalam kondisi bagus atau tidak, juga diperhitungkan ketika faktor-faktor lain ikut bermain di dalamnya. Karena walau bagaimanapun juga ini akan sangat berpengaruh pada pemilihan pukulan, pengaturan stamina, juga taktik maupun strategi di lapangan nanti. Semoga dengan tipe shuttlecock yang sedikit berbeda dari biasanya menjadi pelajaran berharga bagi para pemain untuk menghadapi berbagai turnamen ke depan dalam mengatur strategi bertanding nanti.

Teruntuk para pemain MS, terutama Jojo dan Ginting, yang diproyeksikan menuju Olimpiade Tokyo tahun depan. Semua lawan sudah mengetahui bahwa kekuatan kalian ada pada netting dan sudah terlihat bahwa lawan sudah mulai mencoba menjauhkan kalian dari kekuatan kalian. Mereka akan menghindari atau bahkan berusaha meminimalisir permainan di depan net. Kalian harus segera mencari cara atau membuat strategi baru (cadangan) jika kekuatan utama kalian (netting) sedang dijauhkan dari jangkauan kalian. Perkuat bola-bola atas dan jangan lupa berlatih pukulan-pukulan menyilang karena kalian sering melakukan kesalahan di area itu.

Kemudian satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, terutama pada Ginting. Saya tidak tahu apakah Ginting sudah tahu hal ini atau belum, namun saya rasa saya tetap ingin memberitahunya. Ya, untuk berjaga-jaga mungkin saja kalo ia ternyata sempat lupa. Ginting, sebenarnya hampir semua pemain MS di dunia saat ini selalu was-was jika bertemu kamu di lapangan, karena mereka tahu kamu pemain yang berskill, berteknik dan berseni tinggi sehingga kamu punya banyak senjata yang bisa bikin mereka ketakutan, dek. Footwork-mu cepat, netting-mu jahanam, smesmu kencang, bola kedutmu indah yang selalu bisa bikin lawan salah langkah. Dengan hal itu saja sudah cukup bikin hati mereka ketar-ketir ketika melawanmu. Bahkan komentator sekelas Oma Gill, Opa Morten dan Om Steen saja selalu mengatakan bahwa kamu unggul banyak hal dari lawanmu. Mereka selalu memujimu setiap mereka mengomentari pertandinganmu. Mungkin sesekali kamu harus tonton pertandinganmu yang dikomentari oleh mereka supaya kamu tahu betapa luar biasanya kamu.

Hanya saja hal yang membuat mereka bisa menang dari kamu, selain karena mereka lebih siap, juga adalah karena kamu begitu ‘dermawan’ mengeluarkan kesalaha-kesalahanmu. Sebenarnya mereka senjatanya tidak lebih mengerikan dari senjatamu loh. Malahan Oma Gill, Opa Morten dan Om Steen saja selalu ingin menjagokanmu sebagai pemenang andai saja kamu bisa menurunkan kadar kesalahanmu. So, kamu tidak perlu takut dengan lawan-lawanmu. Entah itu Kento Momota, Shi Yuqi, Viktor Axelsen, atau siapapun namanya. Cukup hanya dengan menjaga akurasi pukulanmu, itu saja. Saya tahu bahwa ketika di atas lapangan itu tidak mudah, namun saya tahu kamu pasti bisa, dek.

Sektor ganda menjadi sektor yang bagi saya sudah menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya, terutama untuk sektor WD dan MD. Kalo sektor XD, memang masih menyimpan banyak tanda tanya juga tanda ragu. Sektor ini benar-benar terasa tidak maksimal untuk sektor yang berisi 2 pasang XD berperingkat 10 besar dunia. Pemain putri menjadi sorotan utama di mata saya. Baik Melati maupun Gloria masih belum mampu menunjukkan perannya sebagai playmaker. Ini akan terasa berbahaya jika saat olimpiade tiba nanti mereka belum juga menunjukkan peningkatan. Tactic awareness menjadi hal yang paling krusial yang masih lemah ditunjukkan oleh pemain putri XD. Tactic awareness menjadi titik awal dalam menciptakan sebuah peluang untuk menekan lawan. Tidak hanya kemampuan membaca permainan, namun juga pada defense. Kalian mau tidak mau harus kuat bertahan jika ingin eksis di sektor ini. Jika kalian masih belum mampu mematikan lawan dengan smes keras kalian, setidaknya jangan sampai mati sendiri akibat kerapuhan pertahanan kalian.

Dari beberapa pemain yang saya tahu, ada Gao Ling, Lee Hyojung, Ma Jin, Zhao Yunlei, dan bahkan Liliyana Natsir menjadi pemain yang begitu digdaya pada masanya bukan hanya sekedar mengandalkan kemampuan tactic awareness saja namun juga pertahanan yang kuat yang selalu bikin lawan frustasi menghadapi mereka yang akhirnya bikin para lelaki pendamping mereka kelihatan lemahnya. Jika kalian ingin menjadi pemain XD yang berprestasi, kalian harus exceptionally strong bahkan kalau perlu kalian harus lebih kuat dari partner kalian. Jika tidak, mungkin kalian hanya akan jadi butiran debu, yang bahkan mungkin nama kalian tidak akan banyak dikenang orang.

Sektor WD menjadi sektor yang paling bekerja keras selama perhelatan Sudirman Cup kali ini. Greysia/Apriani memang sudah maksimal meski pada pertandingan terakhir gagal memperpanjang nafas tim kita. Praktis hanya mengandalkan satu pasang saja, sampai akhir mereka tidak sedikitpun menunjukkan bahwa mereka lelah dan kalah mental. Bahkan dengan kondisi tangan Greysia yang belum fit 100%, ia masih mampu tampil enerjik di tengah kesulitannya. Hal seperti ini yang patut dicontoh oleh junior-juniornya. Seperti yang pernah saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya, bagi para pemain yang belum terpilih oleh Coach Eng Hian di ajang Piala Sudirman kali ini mulai sadarlah bahwa pelatih kalian ternyata belum punya kepercayaan penuh terhadap kalian meski kemampuan kalian bagus. Sepanjang kepelatihannya di pelatnas, Coach Eng Hian menjadi pelatih yang paling dinamis dalam mengutak – atik susunan dan pasangan anak buahnya. Itu menjadi pertanda bahwa nasib kalian ke depan memang sangat tidak bisa dipastikan.

Jika kalian tidak ingin nasib kalian ditentukan oleh orang lain, dalam hal ini pelatih kalian, maka berlatih lagi dengan lebih keras. Ambil hati dan kepercayaan pelatih dengan kesungguhan kalian melakukan improvement ke depan. Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil akhir. Jika kalian bekerja keras, maka prestasi, kepercayaan, kebanggaan, pujian, bahkan sebuah kehormatan pun akan bisa menjadi milik kalian. Senior kalian, Greysia Polii, berada di posisi sekarang bukan tanpa kerja keras. Ia bahkan sempat di-bully karena dianggap banyak gaya, ia juga pernah dikecam di dunia internasional di olimpiade pertamanya, namun ia tidak pernah menyerah. Ia raih kembali hati dan kepercayaan, tidak hanya pelatih namun juga publik, lewat kerja kerasnya.

Akhirnya sektor MD menjadi satu-satunya sektor dengan hasil yang paling memuaskan yang selalu menjadi penyumbang poin rutin di ajang Piala Sudirman kali ini. Hendra/Ahsan sudah tampil sesuai dengan ekspektasi. Kalo Kokoh/Babah mungkin tidak akan banyak yang bisa dibahas karena memang mereka tampil sudah sesuai standarnya. Melawan Boe/Astrup yang keduanya bertangan kidal, sama-sama seorang playmaker, punya kekuatan di bola-bola depan dan defense, mereka berdua berhasil tampil maksimal. Bahkan dengan kondisi shuttlecock yang berat dan hall yang lambat, mereka tetap bisa tampil menekan sepanjang pertandingan. Angkat 2 jempol buat mereka.

Namun penampilan Kevin/Gideon di ajang Piala Sudirman kali ini menjadi yang paling mengejutkan saya. Mungkin bukan hanya saya saja, tetapi juga bagi siapa saja yang melihatnya. Sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di pertandingan beregu, baru kali ini mereka tampil begitu prima dan konsisten. Saya bisa merasakan mereka tampil sungguh-sungguh dan begitu serius terhadap pertandingan seperti saat mereka menjuarai All England 3 tahun yang lalu. Tidak lagi terlihat gestur meremehkan, santai dan setengah-setengah dari mereka. Mungkin penampilan mereka yang selalu tidak maksimal setiap event beregu ataupun inkonsistensi mereka sepanjang tahun ini menjadi cambuk buat mereka untuk menunjukkan bahwa they are still not dead yet.

Jika masih ada yang ingat tentang surat ‘cinta’ pertama saya sebagai fans bulutangkis yang terposting di situs Bulutangkis.com ini yang saya tujukan pada The Minions beberapa waktu yang lalu, kini saya bisa merasa sedikit bahagia karena tulisan yang berisi masukan, harapan serta doa saya untuk mereka mulai terwujud. Gideon benar-benar mengalami improvement yang bagus. Ia sudah tidak lagi tampil sebagaimana ia biasanya. Penampilannya tidak lagi monoton dengan selalu hanya mengandalkan smes-smes keras dan dengan pace yang sama. Kini penampilannya sudah mulai terasa ada yang berbeda, terasa begitu dinamis dengan mulai menambahkan variasi pada permainannya baik itu dalam hal serangan maupun dalam hal pertahanan. Tidak hanya saya yang merasakannya, Oma Gill dan Om Steen pun ikut berkomentar dengan hampir serupa. Begitu bahagia rasanya ketika mendengar mereka berdua memuji improvement yang dilakukan oleh Gideon. You must watch the video of your match, Nyo. Lalu dengarkanlah betapa mereka mengapresiasi perubahan positifmu. Keep up the good work. Pertahankan dan terus tingkatkan perubahan positifmu.

Apresiasi dan rasa bahagia yang sama juga ingin saya hadiahkan pada Kevin yang khususnya di pertandingan semifinal Piala Sudirman kali ini melawan Kamura/Sonoda, ia benar-benar menjadi pemain yang mampu ‘memeluk’ partnernya. Kesan saat saya menyaksikan pertandingan mereka di Asian Games lalu, akhirnya kembali saya rasakan di pertandingan kemarin. Mereka terasa menjadi satu. Saling mendukung, saling menunjang, saling menutupi dan saling menguatkan antara satu sama lain. ‘Pelukan’ hangatnya mampu membuat Gideon tampil dengan sinar yang sama dengannya. Jika biasanya Kevin selalu mencuri spotlight di lapangan, kini bersama Gideon mereka tampil saling menyempurnakan. Semoga hal positif ini segera bisa berbuah gelar untuk mereka, terutama gelar-gelar prestisius seperti juara dunia san medali emas olimpiade. Amin.

Dengan mayoritas turnamen menggunakan bola yang berat dan hall yang lambat, termasuk olimpiade nanti, semua pemain di seluruh sektor harus segera berbenah karena 2 faktor tersebut sangat tidak menguntungkan bagi karakteristik permainan bulutangkis Indonesia yang sangat mengandalkan skill dan teknik. Kekuatan fisik sangat dibutuhkan disini entah itu dalam melakoni permainan reli maupun dalam hal melakukan serangan secara bertubi-tubi. Tanpa kekuatan fisik yang mumpuni, jangan harap bisa muncul sebuah prestasi untuk saat ini. Mindset berawal dari aktivitas berpikir. Berpikir juga membutuhkan energi, belum lagi menggerakkan fisik. Maka energi yang dibutuhkan akan jauh lebih besar lagi. Para pemain wajib meningkatkan kualitas dan kuantitas kekuatan fisiknya kalau ingin berprestasi lebih tinggi lagi. Sekali kalian berpikir untuk lengah dalam latihan maka bersiaplah karena sebuah prestasi akan selangkah lebih jauh dari jangkauan kalian.

Kekurangan pasti ada karena pada dasarnya manusia bukan mahluk yang sempurna. Namun saya yakin adik-adik saya di pelatnas akan mampu memperbaikinya. Kembali saya ingin mengutip quote dari Liliyana Natsir, '‘Kekalahan bukanlah hal yang memalukan. Yang paling memalukan adalah menyerah'’. Seperti yang pernah saya utarakan pada tulisan saya sebelumnya, fighting spirit menjadi hal yang paling utama. Terlepas dari lawan yang memang tampil prima, daya juang yang tinggi juga perlu untuk lebih ditumbuhkan lagi. Mindset menjadi kunci untuk menumbuhkan faktor ini. Pikiran menjadi sentral dimana segala hal yang ada di dalam tubuh bisa digerakkan. Semoga dengan kekalahan ini menjadi pelajaran berharga buat pemain-pemain kita yang kemudian untuk segera men-setting kembali mindset mereka agar bisa menumbuhkan kembali semangat dan daya juang yang tinggi di pertandingan berikutnya. Amin.

Dan satu hal lagi yang ingin saya imbau kepada adik-adik saya di pelatnas. Kapanpun waktunya, dimanapun kalian berada dan apapun yang akan kalian lakukan, upayakan diri kalian untuk selalu rendah hati dalam segala hal baik itu dalam keseharian, latihan maupun saat pertandingan. Jangan pernah merasa bahwa kalian merasa sudah cukup dan puas dengan kemampuan kalian lalu kalian mulai lengah dengan sedikit berleha-leha baik itu ketika latihan maupun di dalam pertandingan karena nantinya kalian akan menghadapi kenyataannya di lapangan bahwa kalian akan ditunjukkan berbagai kekurangan oleh lawan kalian. Jangan pernah merasa bahwa kalian sudah cukup kuat karena nantinya kalian akan dibuat ngos – ngosan oleh lawan kalian di lapangan. Jangan pernah menganggap remeh, merendahkan dan tidak menghormati orang lain siapapun itu kalian karena perasaan itu akan membawa kalian pada keterpurukan.

Pemenang sejati bukanlah seseorang yang tidak pernah kalah karena pemenang sejati adalah seseorang yang tidak pernah menyerah meski hadangan datang dari berbagai arah.

Keep fighting, guys! (Lily Dian)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya