Berita > Artikel

Bagaimana Seharusnya Atlet Tunggal Menyiasati Tinggi Badan?

Rabu, 19 Juni 2019 08:56:17
4539 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ada catatan kecil usai menyaksikan laga final tunggal putra sesama andalan Indonesia pada ajang Australia Open 2019 pekan lalu. Laga antara Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting lalu berujung satu kesimpulan bahwa postur tubuh pada akhirnya bisa membuat Jonatan tampil lebih dominan untuk jadi juara dibanding Ginting.

Catatan kecil ini tidak bermaksud mengecilkan arti perjuangan Ginting, jika dirinya menjadi contoh pengamatan kami. Tapi catatan kecil ini bisa menjadi bahan diskusi dan masukan bagi para atlet tunggal untuk menyiasati pertandingan menghadapi lawan-lawan dengan postur yang tinggi.

Tak bisa disangkal, dengan postur yang lebih menjulang, jangkauan tangan dan kaki yang lebih panjang membuat Jojo lebih efektif dan taktis dalam menyerang. Jojo lebih leluasa mengarahkan smash, dropshot atau chop bola dengan memanfaatkan tinggi badan dan jangkauan tangannya. Dengan tinggi badan yang ideal Jojo lebih berani untuk memotong bola lob untuk membuka serangan lebih dahulu. Hal ini berbanding terbalik dengan Ginting karena tinggi badan yang lebih pendek membuat dia tidak bisa bermain lebih taktis dan efisien dibanding Jojo. Dengan jangkauan yang lebih pendek otomatis membuat Ginting harus ekstra keras untuk mengolah bola demi mendapat posisi bola yan enak dan pas untuk membuka serangan, Sehingga Ginting tidak bisa mencolong serangan dengan memotong bola lob. Kualitas lob Ginting (melihat laga final tersebut) terlihat kurang dalam, kurang naik sehingga gampang dipotong oleh Jojo. Secara kualitas netting mereka seimbang.

Tinggi badan dan postur tubuh pula yang pada akhirnya menghabisi stamina Ginting. Untuk mendapatkan posisi bola yang enak diserang otomatis Ginting harus mengolah bola lebih lama. Untuk melakukan smash pun Ginting harus mengeluarkan power ekstra dengan jumping-nya, karena hanya dengan jumping inilah sudut smashnya bisa lebih tajam dan mematikan. Smash jumping yang masif jelas menghabiskan stamina yang lebih banyak. Sementara Jojo dengan tingginya bisa lebih hemat tenaga dan stamina dalam melakukan serangan. Bola-bola yang enak dengan postur dan jangkauan yang lebih jauh dan tinggi bisa diarahkan dengan banyak variasi. Bisa smash, dropshot atau chop bola tentu saja dengan stamina yang lebih efisien.

Jadi satu-satunya jalan bagi Ginting adalah meningkatkan stamina dia untuk bermain dengan style dia yang sekarang atau dengan memperkaya variasi pembukaan serangan seperti Jojo. Tidak melulu dengan jumping smash yang akan menghabisi stamina dia sendiri.

Tinggi dan postur badan jelas sangat berpengaruh terhadap gaya, pola dan karakter bermain. Jojo baru setahun terakhir mengembangkan gaya dan pola permainan dia yang sekarang. Dia menyadari dan memanfaatkan kelebihan postur dia untuk bermain lebih efektif dgn mencolong serangan lebih awal dengan memotong bola lob. Pola ini jelas tidak cocok atau tidak sesuai untuk dimainkan oleh Ginting karena pasti akan lebih boros stamina kalau memaksakan untuk bermain dengan pola Jojo karena harus mengeluarkan stamina ekstra untuk melompat mendapatkan posisi bola yang pas.

Insting menyerang Ginting sebenarnya bisa dilihat saat China Open 2018 lalu, yang dengan pola pancing netting dan masif dengan smash lompatnya. Tetapi kembali lagi dengan pola bermain Ginting yang seperi itu jelas akan boros tenaga karena untuk jumping smash butuh tenaga ekstra. Dan setelah China Open 2018 kalau tidak salah Ginting sempat cedera, artinya memang pola bermain Ginting sangat rentan cedera. Kalau saja postur Ginting seperti Jojo maka tidak akan ada kendala bagi dia untuk mengembangkan dan mempertahankan pola dan gaya bermain saat menjadi Giant Killer di China Open 2018 kala itu. Tetapi semakin ke sini Ginting sepertinya makin berhati-hati mainnya karena takut cedera menghantuinya sehingga agak mempengaruhi pola mainnya.

Contoh lain lagi, dengan postur yang berbeda maka gaya dan pola permainan Akane Yamaguchi dan Carolina Marin sangat berbeda. Marin lebih leluasa mengembangkan pola permainan menyerang karena ditunjang oleh postur yang memadai untuk melakukan serangan-serangan karena jangkauan tangannya lebih tinggi untuk melakukan smash lebih baik. Sementara Akane dengann postur mini tidak akan memungkinkan untuk memakai pola menyerang ala Marin karena memang terbatas di postur. Untuk melakukan smash Akane terkadang harus melompat. Karena dengan itu Akane lebih mengembangkan pola permainan ke yang ulet dan rally, akan menyerang kalau benar-benar dapat bola yang pas. Sementara Marin dengan postur yang lebih ideal lebih gampang untuk menjalankan pola permainan menyerang dan smash-smash karena lebih tinggi jangkauan bolanya.

Mari kita lihat data statistik tinggi badan pemain top tunggal putra,
1. Victor Axselsen 1.94
2. Chen Long 1.87
3. Srikanth Kidambi 1.76
4. Chou Tien Chen 1.80
5. Jonatan Christie 1.79
6. Shi Yuqi 1.84
7. Son Wan-ho 1.77
8. Lin Dan 1.78
9. Kento Momota 1.75
10. Lew Chong Wei 1.72
11. Taufik Hidayat 1.75
12. Anthony Sinisuka Ginting 1.70

Di antara elit tunggal putra saat ini dari era Taufik Hidayat, Lee Chong Wei dan Lin Dan, jelas Ginting yang paling rendah, artinya memang Ginting butuh usaha ekstra, tenaga ekstra untuk menjaga lapangan, menyerang dan bertahan jika melawan pemain-pemain elit saat ini.

Dengan jangkauan, footwork yang bisa dikatakan agak kurang dibanding dengan elit tunggal putra yang lain, jelas Ginting memerlukan gaya dan pola permainan yang lebih efektif untuk menutupinya. Ginting sudah pernah mencoba pola fast, netting, smash masif, bergerak menjelajah semua sudut lapangan, eksplor luar biasa semua sisi lapangan yang dipakai saat China Open 2018, dan berhasil juara. Tapi pola dan tipe permainan itu ternyata ada resikonya yaitu rentan cedera. Karena memang dengan jangkauan yang lebih pendek dari elit lain artinya Ginting harus punya senjata lain yaitu kecepatan. Dengan memainkan tempo cepat artinya Ginting harus punya power ekstra, stamina lebih. Tapi ternyata Ginting belum bisa mencapai tingkat kebugaran fisik untuk tetap bertahan dengan pola yang ditampilkannya saat China Open kala itu. Ginting masih harus berjuang jeras untuk meningkatkan stamina, power dan speed-nya jika ingin tetap memakai pola bermain dan serangan seperti di China Open kala itu, karena dengan hanya pola seperti itu dia bisa menutupi kekurangan dari faktor tinggi badannya dan yang terpenting jauh dari cedera, harus benar-benar pintar membentuk badan seperti Lee Chong Wei.

Memang pada akhirnya postur dan tinggi badan akan mempengaruhi pola permainan dan gaya permainan yang dikembangkan seorang pemain. Dengan postur yang termasuk pendek dibanding tunggal putra elit lain, mau tak mau Ginting harus punya kecepatan extra untuk mengcover lapangan dan menyerang. Kecepatan extra menuntut menggunakan stamina dan fisik yang lebih. Artinya kalau Giting tetap mau mengembangkan pola yang dia pakai sekarang, sudah keharusan bagi Ginting untuk meningkatkan stamina dan fisik dia ke level Lee Chong Wei.

Semoga sisa waktu satu tahun sebelum Olimpiade Tokyo 2020 bisa benar-benar dimanfaatkan Ginting untuk upgrade fisiknya. (Ikra4433)

Berita Artikel Lainnya