Berita > Artikel > Sosok

Hendra: ''Pemain ganda mesti punya komunikasi yang baik''

Senin, 24 Juni 2019 12:09:25
12912 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Di usia yang kini tak muda lagi, Hendra Setiawan masih bisa menorehkan prestasi moncreng. Setelah berpisah dengan Markis Kido, duet ganda putra peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 ini masih menaruh asa untuk merebut tiket ke Olimpiade Tokyo 2020, bersama Mohammad Ahsan.

Selain medali emas olimpiade, bersama Kido pemain kelahiran 25 Agustus 1984, Pemalang, Jawa ini juga mengoleksi gelar juara dunia 2007 dan medali emas Asian Games 2010.

Usai berpisah dengan Kido di tahun 2012, Hendra berpasangan dengan Ahsan juga mencatat prestasi gemilang dengan mengoleksi dua gelar juara dunia (2013 dan 2015), juara All England 2014 dan medali Asian Games 2014.

Usai Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Hendra dan Ahsan pun berpisah. Namun di awal tahun 2019 kembali duet ini dipasangkan Herry IP, dan secara mengejutkan duet yang kerap dijuluki ''The Daddies'' ini menambah koleksi gelar juara dari turnamen bulutangkis tertua di dunia All England 2019. Satu gelar lagi tahun ini dikoleksi Hendra/Ahsan dari ajang New Zealand Open 2019. Jalan meraih tiket Olimpiade 2020 pun semakin terbuka bagi Hendra/Ahsan yang kini berada di peringkat 4 dunia.

Tak lagi tinggal di Pelatnas, Cipayung, pasangan ini tetap berada di bawah didikan pelatih bertangan dingin Koh Herry. Hendra yang cukup senior dan berpengalaman menjadi panutan bagi junior-juniornya. Saat skuat Merah Putih berlaga pada ajang Piala Sudirman Cup 2019 di Nanning, China, Hendra didapuk menjadi kapten tim Indonesia.

"Ya yang pasti saya senang bisa dipercaya lagi jadi kapten tim. Semoga saya bisa membimbing tim dan kalau perlu bisa kasih motivasi atau masukan juga," ujar Hendra saat itu sebelum berangkat ke Nanning, China.

Pengalaman memimpin tim Indonesia di ajang beregu bukanlah hal baru bagi Hendra. Sebelumnya, Hendra pebulutangkis jebolan klub PB Jaya Raya itu pernah mendapat kepercayaan sebagai kapten skuat Merah Putih pada ajang Thomas & Uber Cup 2018.

Segudang pengalaman, Hendra pun berbagi cerita mengenai pengalamannya selama menjadi salah satu pemain terbaik ganda putra Indonesia. Berbeda dengan pemain tunggal, pemain ganda harus bisa menjaga top performance secara bersama dengan pasangan. Diungkapkan Hendra, bahwa ada kalanya ia tak bisa bermain seperti biasanya dan tak dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya di lapangan. Menurutnya, itu adalah hal yang biasa dan pernah dialami semua pemain bulutangkis.

"Kalau ada yang bilang, mainnya lagi nggak enak, itu memang bisa saja dialami sama pemain, saya pun begitu. Kalau saya, main nggak enak itu kalau mau netting nyangkut, mau apa-apa nyangkut, mati sendiri," tutur Hendra, mengutip di laman resmi PBSI.

Hendra mengakui bahwa hal ini tidak dapat diprediksi kapan akan dialami seorang atlet. Bahkan ketika atlet tersebut telah melakukan persiapan sebaik mungkin, bisa saja menemui situasi yang tak diharapkan terjadi di lapangan.

"Kadang sudah prepare, tapi pas nggak enak mainnya, itu kadang nggak tahu faktor penyebabnya," kata Hendra.

Lebih lanjut, Hendra mengatakan bahwa pemain tak boleh membiarkan keadaan ini terus terjadi di lapangan, pemain mesti mengetahui bagaimana caranya menghadapi kendala tersebut. Setiap pemain memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengatasi permasalahan di lapangan.

"Kalau lagi nggak enak mainnya, harus bisa ngatasin, semua pemain punya cara masing-masing. Kalau saya, jadi mainnya drive dulu, asal masuk dulu, tapi kadang asal masuk pun nggak dapet feel-nya. Nggak gampang, kan?" ucap Hendra yang kini berpasangan dengan Mohammad Ahsan.

Di sektor ganda, tentunya performa seorang pemain akan mempengaruhi pasangan mainnya. Dituturkan Hendra, seorang pemain ganda mesti punya komunikasi yang baik dengan pasangan dan tak ragu mengakui jika sedang tidak dalam penampilan terbaik.

"Memang susah, pasti ada pengaruhnya ke partner, tapi kalau bisa nggak berpengaruh, itu baru bagus. Pernah juga kami dua-duanya sama-sama lagi nggak enak mainnya. Kami diskusikan berdua, mau bagaimana ini? Apa main defense dulu? Harus ngomong kalau saya lagi nggak enak nih mainnya," ungkap Hendra.

"Yang penting ngomong sama partner kalau mainnya lagi nggak enak, harus diomongin. Tidak ada rasa sungkan, harus mengakui, jangan gengsi. Sebenarnya semua pemain pasti merasa kalau partnernya mainnya lagi nggak enak, tapi kan akan lebih baik kalau bilang saja. Kalau partner lagi nggak enak, ya harus dimengerti, mungkin kita pernah dalam kondisi begitu dan partner kita bisa memaklumi. Saya juga pernah mati-mati sendiri kan. Pikir positif saja," tuturnya.

Kondisi seperti ini membuat Hendra dan Ahsan kadang bertukar peran di lapangan. Hendra yang biasanya bertugas di depan net, tak jarang berotasi ke area belakang lapangan dan Ahsan ke depan.

"Sebelum sama Ahsan, sama Kido pun begitu. Kalau sudah dapet feel-nya bisa balik lagi, tapi kalau sampai akhir pertandingan belum balik ya bisa sampai akhir ganti peran. Semua balik lagi tergantung kondisi di lapangan," ujar peraih medali emas ganda putra Olimpiade Beijing 2008 bersama Markis Kido ini.

Dikatakan Hendra, banyak faktor yang membuat pasangan ganda itu berotasi. Terkadang situasi di lapangan meleset dari apa yang mereka harapkan, sehingga mereka mesti putar otak untuk mengubah strategi permainan. Hal inilah yang dikatakan Hendra, harus dimiliki setiap pemain, kemampuan untuk mengatur dan mencari jalan keluar jika menghadapi situasi yang sulit di lapangan. (*)

Berita Sosok Lainnya