Berita > Berita

Susy Ingatkan Pemain Pelapis Tidak Terlena Di Zona Nyaman

Sabtu, 06 Juli 2019 10:44:14
4409 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Torehan prestasi tunggal putri Indonesia masih belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Melihat peringkat dunia (BWF World Ranking) yang dirilis pekan ini (Selasa, 2/7), ada empat tunggal putri bercokol di 50 besar dunia. Mereka adalah Gregoria Mariska Tunjung (13), Fitriani (30), Ruselli Hartawan (38) dan Lyanny Allesandra Mainaky (44). Kecuali Lyanny, tiga pemilik peringkat teratas merupakan andalan Pelatnas Cipayung.

Di tengah minimnya prestasi, sektor tunggal putri masih terus berlatih keras untuk mendongkrak peringkat dan meraih gelar juara. Demikian disebutkan Susy Susanti, Kabid Binpres PP PBSI, menilai capaian sektor tunggal putri.

Tak hanya itu, Rionny Mainaky yang selama ini melatih di Jepang, telah dipanggil pulang untuk membenahi Gregoria dan kawan-kawan di Pelatnas Cipayung. Rionny yang mengemban tugas sebagai kepala pelatih di sektor tunggal putri pelatnas, masih melakukan adaptasi program latihan dengan para atlet.

"Memang masih adaptasi, mungkin sebelumnya programnya belum pas, misalnya dengan program lama, Fitriani bisa juara di turnamen super 300, ya mungkin bisa dikombinasikan programnya. Saat ini belum berjalan smooth, ada yang bagus, ada yang kurang. Yang bagus kita ambil, yang kurang, kita mix dan sesuaikan dengan program sebelumnya yang memang bisa masuk ke atletnya," jelas Susy, mengutip di laman resmi PBSI.

Tentunya kehadiran Rionny di Pelatnas tidaklah seperti membalikkan telapak tangan, sektor tunggal putri langsung bisa meraih hasil menggembirakan. Rionny dan Minarti Timur sebagai asisten pelatih tunggal putri masih membutuhkan waktu untuk bisa memaksimalkan prestasi. Namun Susy menuturkan bahwa para pemain senior mesti bersiap disusul oleh pemain-pemain yang lebih muda.

Selain Gregoria, Fitriani dan Ruselli, ada tiga lagi nama yang mengisi pelatnas utama tunggal putri. Mereka adalah Aurum Oktavia Winata, Choirunnisa dan Bening Sri Rahayu. Sementara di pelatnas pratama ada tiga pemain yaitu Putri Kusuma Wardhani, Staphanie Widjaja dan Yasnita Enggira Setyawan.

Sementara itu, ada tiga pemain muda yang berstatus pemain magang, mereka adalah Alifia Intan Nurrokhim, Aisha Galuh Maheswari dan Aisyah Sativa Fatetani.

"Pemain-pemain muda, kalau bisa naik lebih cepat kenapa tidak? Siapa yang mau dulu deh, yang punya kemauan dulu. Kita lihat seperti Akane (Yamaguchi), yang penting tahan lama, kuat, kalau pemain putri nggak perlu buru-buru cepat matiin (lawan)," ungkap Susy.

"Yang sudah tidak muda lagi, dimaksimalkan, permainan dan mindset-nya kan sudah terbentuk, untuk diubah itu kan butuh proses. Nah yang pemain-pemain muda ini hantam saja, kejar saja, kita kan ketinggalan jauh, larinya harus sprint, kalau jogging saja ya nggak keuber," tambah Susy.

"Justru saya agak kencengin yang muda-muda. Kalau yang utama kan tinggal dimatangkan, yang muda mengejar, nah yang tengah-tengah ini, yang pelapis kalau tidak bisa, maaf-maaf saja, pemain mudanya ya lewati saja," sebutnya.

Pemain junior tak hanya disemangati Susy untuk melewati prestasi pemain pelapis yang setingkat di atas mereka, tapi bahkan pemain utama. Para pemain muda dinilai memiliki masa prestasi yang lebih panjang.

"Saya sering bilang sama KW (Putri Kusuma Wardhani), KW, kamu bisa? Jadi tunggal putri nomer satu Indonesia? Masuk, silahkan, cici akan kasih kesempatan, nggak ada nunggu-nunggu giliran. Kalau ada kesempatan dan bisa manfaatkan ya ambil saja," kata Susy.

Susy juga mengingatkan para pemain pelapis agar tidak terlena di zona nyaman. Jika pemain muda memiliki karakter yang kuat, fighting spirit dan kemauan, bukan tak mungkin mereka akan menggeser kedudukan pemain yang lebih senior. (*)

Berita Berita Lainnya