Berita > Berita

Victor China Open 2019, Berburu Hadiah dan Poin

Rabu, 18 September 2019 01:13:56
3152 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Melewati hari pertama (Selasa, 17/9) Victor China Open 2019 yang berlangsung di Olympic Sports Center Gymnasium, tiga wakil Indonesia harus terhenti di babak satu. Dua wakil di sektor tunggal, Gregoria Mariska Tunjung dan Jonatan Christie. Dan satunya Praveen Jordan/ Melati Daeva Oktavianti dari sektor ganda campuran.

Langkah Gregoria dihentikan tunggal putri andalan Amerika Serikat, Zhang Beiwen setelah bertarung tiga game dalam waktu 41 menit dengan skor akhir 21-14, 19-21 dan 16-21.

Bagi Zhang, ini merupakan revans atas satu kekalahan sebelumnya dari Gregoria pada ajang yang sama tahun lalu. Kala itu Zhang dikalahkan Gregoria dengan skor 21-23 dan 20-22.

Sementara itu, Jojo yang merupakan unggulan empat secara mengejutkan dikalahkan rekannya berlatih di Pelatnas, Shesar Hiren Rhustavito, usai laga tiga game selama 1jam dengan skor 21-23, 21-18 dan 10-21. Vito yang kini berada di peringkat 28 dunia ini pun akhirnya memperbaiki dua kekalahan tanpa balas dari Jojo.

Langkah Praveen/Melati dihentikan pasangan India, Satwiksairaj Rankireddy/ Ashwini Ponnappa, usai laga tiga game dengan skor 22-20, 17-21 dan 21-17.

Selain Vito, ada empat wakil Indonesia yang berhasil melangkah ke babak dua turnamen seri HSBC BWF World Tour Super 1000. Mereka adalah Tommy Sugiarto, Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto, Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon dan Rinov Rivaldy/ Pitha Haningtyas Mentari.

Turnamen seri Super 1000 di Changzhou ini menawarkan hadiah yang cukup tinggi sebesar US$ 1 juta. Selain itu, poin yang tersedia juga cukup tinggi.

Hal ini pun diingatkan Susy Susanti, selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti kepada para pemain elit untuk terus fokus berburu poin jelang Olimpiade Tokyo 2020.

Selain dari nomor ganda putra, Susy menyebutkan bahwa peluang gelar sebetulnya ada di nomor ganda campuran dan tunggal putra, namun penampilan para pemain di sektor ini masih belum stabil.

"Saat ini yang paling stabil memang ganda putra, tapi ada beberapa sektor yang punya kesempatan yaitu ganda campuran dan tunggal putra. Pada tahun lalu di China Open Super 1000 tahun lalu, di Asian Games 2018, kita kan juga bisa dapat gelar dari tunggal putra," kata Susy, kepada Badmintonindonesia.org, sebelum keberangkatan ke Changzhou.

"Ganda campuran pun waktu itu bisa mengalahkan yang juara. Tapi kalau ketemu yang nggak juara, masih kalah juga. Jadi masih belum konsisten, belum yakin. Sebetulnya kematangan pemain itu bisa tertempa dari pertandingan demi pertandingan, banyak pengalaman dan pembelajaran," sambungnya.

Susy menambahkan bahwa di turnamen China Open 2019 ini, para atlet bisa memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin dan membaca peluang dalam menghadapi lawan. Saat ini penghitungan poin ke Olimpiade Tokyo 2020 semakin sempit dan akan berhenti di kejuaraan Badminton Asia Championships 2020 di bulan April mendatang. (*)

Berita Berita Lainnya