Berita > Berita > Klub

55 Peserta Masuk Karantina PB Djarum

Sabtu, 23 November 2019 05:25:26
1012 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Berakhir sudah Final Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 yang diselenggarakan selama tiga hari yakni Rabu (20/11) hingga Jumat (22/11) di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah. Hasilnya, 55 pebulutangkis muda berhasil melaju ke babak selanjutnya, yakni Tahap Karantina yang digelar selama satu pekan hingga Jumat (29/11) di dua asrama PB Djarum di Jati dan Kaliputu.

Perjuangan para atlet muda untuk menembus Tahap Karantina tidaklah mudah. Sebanyak 133 peserta Final Audisi Umum 2019 yang merupakan peraih Super Tiket dari lima kota penyelenggaraan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019, yakni Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo Raya, dan Kudus, harus berjibaku dalam empat Tahap Eliminasi yang ditentukan oleh para pelatih tim PB Djarum.

Pada hari pertama Final Audisi Umum 2019, Rabu (20/11), Seluruh peserta diberi kesempatan bertanding dua kali dengan system full games atau 21 poin sampai selesai. Hasilnya, keseluruhan peserta lolos dalam Eliminasi I. Sementara pada Eliminasi II yang digelar Kamis (21/11) pagi, sebanyak 87 peserta dinyatakan lolos. Lalu di Eliminasi III pada Kamis (21/11) sore, 71 peserta berhak melaju ke hari terakhir Final Audisi Umum 2019.

Di hari terakhir inilah para peserta menjalani Eliminasi IV, dimulai dengan tes fisik yaitu beep test atau tes berlari terus-menerus di antara dua garis yang berjarak kurang lebih 20 meter, selama terdengar suara beep yang sudah direkam. Selanjutnya, mereka bertanding sekali lagi sebelum masuk ke Tahap Karantina.

Selama tiga hari pelaksanaan Final Audisi Umum 2019, pemantauan secara langsung terhadap atlet-atlet muda ini dipimpin langsung oleh Manager Tim PB Djarum Fung Permadi, bersama jajaran pelatih, Andreas Adityawarman, Reni, Nimas Rani Wijayanti, Engga Setiawan, Bandar Sigit, Fung Permadi, Ajib Kurniawan, Sulaiman, Ellen Angelina, Juniar Setioko Tenggono, Maria Elfira Christina, Ferry, Ali Yuli, Wahyu Hartanto, Rusmanto Djoko Semaun, dan Hastomo Arbi.

Fung menyatakan, Tahap Karantina merupakan kesempatan bagi para atlet muda untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta berbagai fasilitas olahraga milik PB Djarum di kawasan Jati maupun Kaliputu.

"Setelah masa orientasi tersebut, kita akan melakukan observasi seteliti mungkin, baik dari aspek skill, fisik, dan daya juang," kata pelatih yang telah belasan tahun melatih di klub bulutangkis asal Kota Kudus ini.

"Selama Tahap Karantina, banyak pertandingan yang akan kami gelar. Tapi penilaian pun tidak hanya dari hasil pertandingan apakah adik-adik ini kalah atau menang, namun juga mencakup kelebihan teknik yang dimiliki mereka," Fung, menambahkan.

Melalui Tahap Karantina ini, para pelatih juga lebih memiliki waktu lebih banyak untuk semakin selektif dalam memilih atlet-atlet yang akan dibinanya kelak, dengan bekal konsep pelatihan yang sesuai dengan standar PB Djarum, guna mencetak atlet-atlet muda ini ke level dunia.

"Saya menugaskan masing-masing pelatih di PB Djarum untuk menentukan pilihan dan berani memikul tanggungjawab dalam membina atlet-atlet hasil Audisi Umum pada tahun ini," tegasnya.

Melalui program Beasiswa Bulutangkis oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation ini, setiap peserta yang bergabung dengan PB Djarum tidak dikenakan biaya sepeserpun selama masa pembinaan. PB Djarum memfasilitasi seluruh kebutuhan atlet mulai dari asrama, pemenuhan gizi standar atlet, peralatan hingga perlengkapan bertanding. Para atlet juga diberikan kesempatan mengikuti kejuaraan bulutangkis di dalam dan luar negeri.

Dengan segudang fasilitas yang diterima para peraih Beasiswa Bulutangkis tersebut, Fung berpesan agar siapapun yang nantinya bergabung di PB Djarum untuk tidak berbesar hati.

“Lolos Audisi Umum merupakan langkah awal menuju tangga juara, Justru di PB Djarum mereka harus berlatih keras membuktikan kemampuan mereka, karena kami memiliki sistem evaluasi yang ketat bagi seluruh atlet,” demikian Fung. (*)

Berita Klub Lainnya