Berita > Artikel > Sosok

Gregoria Dan Cheesecake Yang Gagal

Selasa, 12 Mei 2020 06:07:46
6762 klik
Oleh : admin_2
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tak melakukan aktivitas berlatih seperti biasanya tentunya bisa membuat kejenuhan dan kebosanan. Rasa jenuh yang dialami para atlet Pelatnas ini sebetulnya manusiawi, karena selama ini di masa normal, para atlet memiliki mobilitas yang tinggi, kini aktivitasnya sangat terbatas. Para atlet pun berusaha mencari aktivitas guna mengusir rasa jenuh.

Hal ini pun dialami Gregoria Mariska Tunjung. Jika selama masa normal, komunikasi telepon dengan orang tua tidak bisa berlama-lama karena padatnya jadwal latihan, kini dengan video call Gregoria bisa ngobrol dengan orang tua hingga sejaman untuk melepas rasa kangen.

Selama masa karantina, satu setengah bulan telah berlalu, rasa kangen Gregoria ke keluarga mulai membungkah. Perayaan Paskah juga harus dilaluinya tak bersama keluarga tercinta, karena tak bisa pulang kampung.

''Sebetulnya yang lalu-lalu juga nggak bisa ngerayain Paskah karena ada pertandingan. Kali ini nggak ada pertandingan, tapi tetap nggak bisa Paskah bareng keluarga. Kondisi begini bikin kangen sama orang-orang terdekat,'' ujar Gregoria, pemain kelahiran Wonogiri, 11 Agustus 1999.

Selama masa pandemi inipun menjadi kesempatan Gregoria untuk memuaskan diri melepas kerinduan dengan orang tua bervideo-call. Sesuatu yang amat jarang ia lakukan di masa normal.

''Sekarang jadi sering video call sama Bapak dan Ibu, durasinya bisa sampai sejam lebih, kalau dulu paling sebentar. Sekarang lagi makan, nonton film, semuanya sambil video call-an sama Bapak dan Ibu,'' ungkap pemain binaan klub Mutiara Cardinal Bandung ini saat obrol-obrol dengan jurnalis Badmintonindonesia.org.

Sebagai anak tunggal, Gregoria punya kekhawatiran akan keadaan orangtuanya di masa wabah Covid-19 ini. Gregoria sering mengingatkan orangtuanya untuk tetap berada di rumah dan tidak bepergian kemana-mana.

''Ada rasa khawatir sama orangtua, mereka kan anaknya cuma satu, saya aja, nggak ada lagi yang jagain, apalagi mereka tinggal di daerah dan jauh dari saya. Jadi sekarang lebih sering komunikasi dan memantau kondisi mereka,'' beber Gregoria.

Meskipun demikian, Gregoria mengatakan bahwa karantina tertutup ini membuatnya merasa lebih aman karena membatasi interaksi dengan banyak orang.

''Kalau rasa takut pasti ada, namanya wabah. Tapi di pelatnas ini interaksi kami sama orang luar sedikit sekali, jadi nggak setakut kalau beraktivitas normal, keluar masuk ketemu banyak orang seperti biasa. Kan kita nggak tahu orang itu dari mana saja, di pelatnas cuma ketemu teman yang mereka nggak boleh kemana-mana juga. Jadi seperti terisolasi,'' jelas Gregoria.

''Rasa jenuh pasti ada, emosi jadi nggak stabil, jadi gampang emosian, ha ha ha,'' lanjutnya.

Untuk menyiasati rasa jenuh akibat karantina tertutup, Gregoria melakukan berbagai aktivitas yang sudah lama ingin dicobanya. Diantaranya memasak, belajar alat musik dan nonton drama Korea.

''Sekarang jadi lebih sering ngulik apaan aja yang dulu nggak sempet. Misalnya nyoba masak yang gampang kayak churros, roti goreng dan nasi goreng. Pernah bikin cheesecake, tapi gagal, ha ha ha,'' cerita Gregoria.

Namun aktivitas masak memasak sudah tak lagi ia lanjutkan karena Gregoria enggan membereskan banyak peralatan masak yang dipakai untuk percobaan memasaknya. Ia pun beralih ke belajar alat musik seperti gitar dan piano bersama seniornya, Greysia Polii.

''Sudah belajar gitar dan piano sama kak Ge (Greysia), tapi tetap nggak bisa, sepertinya saya memang nggak bakat main alat musik,'' ujar peraih gelar Juara Dunia Junior tunggal putri tahun 2017 ini.

Gregoria juga bercerita mengenai sesi latihan khususnya selama karantina tertutup pelatnas di tengah wabah Covid-19. Porsi latihan fisik yang biasanya selang-seling dengan latihan teknik yang cukup intens, kali ini hanya berlangsung seminggu dua kali saja, dan hanya bertujuan untuk menjaga kebugaran. (*)

Berita Sosok Lainnya