Berita > Berita

PBSI Pertimbangkan Simulasi Menyusul Undurnya Turnamen Seri Asia

Rabu, 07 Oktober 2020 23:08:56
7961 klik
Oleh : admin_2
Kirim ke teman   Versi Cetak



Masa pandemi yang tak kunjung mereda membuat Badminton World Federation (BWF) harus mengundurkan lagi beberapa turnamen, diantaranya penyelenggaraan turnamen seri Asia yang diundur ke bulan Januari 2021.

Sebelumnnya, turnamen seri Asia dijadwalkan pada November tahun ini. Thailand akan menjadi tuan rumah tiga turnamen yaitu Asia Open I dan Asia Open II yang merupakan turnamen level Super 1000, serta BWF World Tour Finals.

BWF bekerjasama dengan Asosiasi Bulutangkis Thailand dan pemerintah Thailand masih mempersiapkan turnamen dengan protokol Covid-19 serta bubble system yang komprehensif.

PBSI menghargai dan menghormati keputusan BWF mengenai hal ini, karena kesehatan dan keselamatan atlet dan seluruh pendukung turnamen adalah prioritas utama.

''Sebetulnya kami sangat menyayangkan keputusan ini, artinya setelah All England, tidak ada turnamen sama sekali untuk pemain Indonesia karena kami tidak ikut Denmark Open. Namun, kami menghargai dan menghormati keputusan BWF yang kelihatannya masih mempertimbangkan situasi dan kondisi Covid-19,'' ujar Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal PP PBSI, mengutip di laman resmi PBSI.

''Yang kami dengar, dari pemerintah Thailand belum ada lampu hijau secara detailnya mengenai pelaksanaan turnamen ini, jadi ini yang membuat BWF harus segera mengambil sikap. Tapi yang kami yakini BWF mempertimbangkan perkembangan Covid-19,'' lanjut Budiharto.

Dengan mundurnya turnamen seri Asia, maka para pebulutangkis Indonesia tidak akan mengikuti turnamen hingga akhir tahun ini. PBSI masih belum memutuskan apakah akan diadakan home tournament untuk ketiga kalinya sejak pandemi Covid-19. Sebelumnya PBSI telah melangsungkan home tournament perorangan dan simulasi Piala Thomas & Uber.

Budiharto memaparkan bahwa penampilan atlet di simulasi tentunya tidak akan sama dengan penampilan mereka di turnamen resmi.

''Kalau di pertandingan resmi, mereka akan ketemu dengan lawan-lawan yang membuat mereka ingin mengeluarkan semua kemampuan mereka, akan sangat berbeda dengan simulasi. Namanya simulasi, seserius apapun, pasti tidak semaksimal seperti mereka bertanding di turnamen resmi,'' jelas Budiharto.

PBSI akan mengkaji ulang wacana simulasi Piala Sudirman yang pernah diumumkan sebelumnya. Tim Pembinaan dan Prestasi akan berdiskusi kembali bersama tim pelatih untuk menyusun program mengembalikan performa atlet jelang tahun 2021 dan mempertimbangkan pengalaman selama ini bahwa latihan saja tidak cukup, atmosfer pertandingan tetap dibutuhkan oleh atlet.

Sementara itu, nasib turnamen Indonesia Masters yang biasanya diadakan di awal tahun pun masih belum bisa dipastikan. Jika mengacu pada skema turnamen beruntun di satu negara yang diterapkan BWF pada turnamen seri Eropa dan seri Asia, kemungkinan besar Indonesia Masters tidak bisa dilangsungkan sesuai jadwal.

''Sekali lagi, kebijakan BWF sekarang mengusahakan satu turnamen back to back di satu negara, artinya kalau turnamen seri Asia di Thailand pada Januari, maka perkiraan saya Indonesia Masters tidak akan ada, mungkin saja akan digabung dengan Indonesia Open, supaya sekali jalan,'' ungkap Budiharto.

Beberapa negara menerapkan prosedur karantina, sehingga penyelenggaraan turnamen di banyak negara dinilai tidak efektif karena banyak waktu terbuang. (*)

Berita Berita Lainnya