Berita > Artikel > Sportainment

SportTainment
Li Na, Awalnya Bulutangkis

Jumat, 09 Februari 2007 01:00:11
2365 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Di China, bulutangkis lebih membumi dibanding tenis. Buktinya, mereka kini menjadi negara raksasa bulutangkis. Pembinaan bulutangkis dilakukan dari desa hingga kota besar seperti Beijing. Para pemandu bakat melebarkan sayapnya hingga pelosok kampung di China untuk mendapatkan bibit tangguh.

Di sebuah daerah yang bernama Wuhan, Hubei, ada anak berumur enam tahun yang giat berlatih bulutangkis. Namun, dia hanya bertahan dua tahun sebelum tenis lebih menarik perhatiannya. Itulah Li Na, petenis nomor satu China yang kini bertengger di peringkat 17 dunia.

Petenis yang mempunyai hobi membaca ini terus tekun berlatih tenis. Petenis yang mempunyai idola Andre Agassi ini ingin menjadi petenis hebat dan terkenal. Atlet yang ibunya seorang akuntan ini kemudian dibimbing pelatih kenamaan Bjorn Hilberg selama beberapa tahun.

Li, yang gemar berenang itu mempunyai kenangan indah ketika pertama kali merebut gelar juara di Piala Asia Junior 1998 di Jepang. Pada 1999 dia terjun ke turnamen pro. Prestasi terbaiknya adalah juara di turnamen WTA di Guangzhou 2004. Sebelumnya, 19 gelar juara ITF telah direngkuh petenis kelahiran 26 Februari 1982 ini.

Petenis bertinggi badan 172 cm yang merupakan atlet tenis nomor satu China tersebut mempunyai bakat hebat. Namun sayang, seperti diungkap Asosiasi Tenis China (CTA), mental Li lemah. Itu yang membuat penampilannya labil. Tahun lalu, ketika mencapai babak perempat final Wimbledon, dia membuat kejutan dengan menumbangkan juara AS Terbuka, Svetlana Kuznetsova di babak ketiga. Di babak berikutnya, dia menyingkirkan petenis top lainnya, Nicole Vaidisova. Sayang, dia harus mengakui kehebatan Kim Clijsters di babak delapan besar 4-6, 5-7. Kalau saja mentalnya kuat, mungkin dia akan membuat sejarah lebih mengkilap. Li sempat unggul 5-2 dan memegang servis di set kedua. Satu game yang sudah di depan matanya lenyap. ''Li merupakan petenis berbakat di China namun mentalnya lemah sehingga mengganggu kariernya,'' kata Ketua CTA Sun Jinfang.

CTA tidak tinggal diam untuk mengatasi petenis andalannya itu. Maka suami Li, Jiang Shan yang juga bekas petenis dari Hubei, ditunjuk menangani Li. Jiang mungkin dianggap obat mujarab. Jiang jugalah yang membujuk Li, yang saat itu masih pacaran, untuk kembali menggeluti tenis setelah beberapa lama absen sekitar 2002.

Usaha Jiang memang tidak sia-sia. Berbagai gelar ITF direngkuh Li sehingga peringkat 277 yang dipegangnya di awal 2002, menjadi 80 dunia pada 2004. Pada 2006, Li berada di peringkat 21 dunia dan awal tahun ini 16. Kita tunggu saja apakah Jiang menjadi solusi bagi mental Li.
[W-11/suarapembaruan.com]

Berita Sportainment Lainnya