Berita > Artikel

Apa di Balik Calon Ketua KONI?

Jumat, 16 Februari 2007 22:36:36
1852 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Catatan Ringan: Ian Situmorang

Salut kepada para tokoh olahraga nasional. Di tengah kemerosotan prestasi yang kita alami, ternyata masih banyak yang bersedia menjadi nakhoda kapal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Untuk sementara, kita singkirkan dulu perdebatan antara penamaan KON atau KOI. Memang, idealnya adalah tidak menyimpang dari tuntutan Undang Undang No.3 tentang sistem Keolahragaan Nasional. Meskipun demikian, anggota yang punya hak suara boleh memilih langsung Ketua Umum KONI.

Agum Gumelar, yang baru menjalani tugas Ketua Umum KONI satu periode, sudah memastikan diri mundur. Jenderal berbintang empat ini membuka pintu kepada para pemilih untuk mencari ketua baru.

Sungguh mengejutkan, beberapa nama muncul dan secara terbuka menyatakan minat. Sebut saja nama Achmad Sutjipto, yang sebenarnya tengah memikul tanggung jawab besar sebagai komandan Satuan Tugas Pemusatan Latihan (Satgas Pelatnas).

Ketua Umum PODSI yang tahun lalu dipercaya sebagai Satgas Pelatnas Asian Games ini merasa penasaran. Berbekal pengalaman itulah Sutjipto optimistis akan mampu membawa olahraga Indonesia lebih baik. Sejauh ini, kemampuan menggalang dana di luar APBN belum terbukti.

Luhut Binsar Panjaitan, Ketua Umum PB Forki, kembali meramaikan pencalonan. Empat tahun lalu, walau tampil maksimal dengan konsep pembinaan yang cukup bagus, ternyata kalah suara dari Agum.

Mantan menteri perindustrian ini boleh dikategorikan berhasil meningkatkan prestasi atlet karate. Jaringannya yang luas di kalangan pebisnis dianggap menjadi kekuatan ekstra untuk mencari dana tambahan.

Djohar Arifin Husein memiliki pengalaman panjang sebagai pembina olahraga dan mantan deputi Menpora ini yakin pada kemampuannya secara teknis. Sejauh ini belum terlihat kemampuannya menggalang dana atau terobosan mengajak sponsor besar.

Helmy Sungkar boleh dikatakan sebagai calon independen. Bermodalkan semangat ingin berbuat yang terbaik demi kemajuan olahraga Indonesia. Memiliki pengalaman organisasi yang cukup lama di cabang otomotif, tapi soal penggalangan dana ia belum memberi bukti.

Andy Ghani Nena adalah kandidat mewakili kaum muda. Ikut menyemarakkan bursa calon ketua umum tanpa bersusah payah, apalagi ngotot mencari dukungan. Soal pengalaman, Andy tidak merasa hijau sebab hingga kini ia adalah pengurus KONI Pusat.

Pada tulisan minggu lalu, saya menyebut nama Rita Subowo memiliki peluang paling besar. Satu-satunya kandidat wanita, tapi bukan berarti isu untuk dikasihani. Pengalaman sebagai pengurus voli nasional hingga internasional merupakan bukti kemampuannya.

Bagaimana dari sisi kemampuan mengumpulkan dana? Dari perjalanan keterlibatan di olahraga dan hubungan luas, rasanya Rita punya kapasitas memadai. Tapi, apa pemilik suara yakin akan ketegasannya sebagai tokoh nomor satu?

Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta ini tak lagi berniat menjadi calon ketua. Belakangan namanya muncul lagi karena desakan beberapa induk organisasi olahraga. Ketegasan dan kukuh berpegang pada program menjadi satu poin plus bagi Ketua PBSI itu.

Satu hal lagi nilai tambah bagi Sutiyoso adalah kemampuan dalam menggalang dana. Tentu ini karena jaringannya sangat luas di kalangan pebisnis. Konon ia sangat diharapkan oleh presiden untuk mengangkat prestasi olahraga Indonesia.

Yang satu ini adalah tokoh kharismatik, Wismoyo Arismunandar. Semula saya tidak percaya pada rumor yang beredar bahwa ia menjadi salah satu kandidat. Suka atau tidak, masih sangat banyak pengurus olahraga yang mengharapkan Wismoyo kembali menjadi Ketua KONI seperti periode sebelum Agum.

***

Adanya para kandidat dari berbagai kalangan yang sangat berbeda itu sungguh mengejutkan. Beberapa pertanyaan pun muncul: apa sebenarnya daya tarik mengurus olahraga?

Nah, kalau soal ini, maka jawabannya pun menjadi sangat beragam dengan interpretasi berbeda. Memang, dari sisi materi, bisa jadi mengurus olahraga justru rugi.

Lalu, apa yang untung?

Yang paling dikedepankan tentulah jiwa patriotisme. Semangat untuk berbakti kepada Nusa dan Bangsa. Secara naluriah, setiap anggota masyarakat ingin memajukan negara!

Apa tidak mungkin ada agenda tersembunyi di dalamnya?

Tergantung siapa yang menilai. Mana mungkin berenang di kolam tapi tak setetes air pun tertelan? Mana mungkin orang berbuat sesuatu tanpa tujuan dan kepentingan bersifat personal?

Misalnya, seorang tokoh mau bekerja keras dan mendorong pencapaian prestasi atlet dengan harapan namanya juga tercatat sebagai anak bangsa yang baik. Biar bagaimana pun publikasi diri akan dengan sendirinya terikutkan.

Tidak salah juga bila ada yang menilai bahwa pengabdian itu sarat dengan kepentingan politis. Dengan meningkatkan prestasi atlet, pamor ketua akan harum di mata masyarakat dan kemudian suatu waktu ia pun ingin mendapat posisi yang lebih tinggi di tengah masyarakat.

Ah, setiap aksi pasti mengandung makna. Kita kembalikan kepada masing-masing tokoh apa yang tersimpan di sanubarinya.

Namun, sebelum mereka sampai di posisi ketua, masih ada satu proses yang mesti dilalui. Kali ini yang bicara adalah kata hati para pemilik suara.(bolanews.com)

Berita Artikel Lainnya