Berita > Artikel

Tom S. Saptaatmaja
Imlek dan Kontribusi Olahragawan Tionghoa

Jumat, 16 Februari 2007 22:48:44
2502 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Pada tahun 2000, inpres no.6/1967 tentang larangan segala hal yang berbau Cina dicabut Presiden Abdurrahman Wahid. Pada era Megawati, muncul keppres no.19/2002, yang menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu, suasana Cina kian melebur dalam kehidupan kita.

Harus diakui bahwa sejak lama pengaruh dan peran etnis Cina begitu kental dalam perjalanan Indonesia. Tak hanya di sektor ekonomi, sosial, budaya, dan juga politik, di bidang olahraga pun begitu. Berkaitan dengan tahun baru Imlek 2558, yang jatuh pada Minggu, 18 Februari, berikut opini Tom S. Saptaatmaja, teolog dan aktivis Tionghoa Surabaya, tentang kontribusi olahragawan Cina bagi pembangunan olahraga nasional.

****

''Di era Tiongkok kuno, Imlek atau Sin Tjia merupakan perayaan para petani menyambut awal musim semi. Imlek aslinya memang bukan hari raya keagamaan dan sudah ada sebelum lahirnya agama-agama besar dunia (David Kwa, 2004).

Nah, karena di Tiongkok kuno kemudian banyak yang memeluk Tao, Konghucu, atau Budha, Imlek akhirnya beraroma agama. Jadi Imlek lebih merupakan perayaan kultural bagi seluruh etnis Tionghoa, termasuk para atlet dan pembaca BOLA yang beretnis Tionghoa di Tanah Air.

Apa makna Imlek bagi dunia olahraga kita? Boleh jadi pada momentum Imlek kali ini, kita perlu berterima kasih serta mengakui bahwa dunia olahraga Indonesia sangat diperkaya oleh kontribusi olahragawan Tionghoa.

Sepakbola Indonesia misalnya. Kita dulu pernah disegani karena peran pesepakbola Tionghoa. Pada 1950-an, timnas kita diperkuat para pemain seperti Kwee Kiat Sek dan Tan Liong Houw, lalu berlanjut pada 1960 dan 1970-an dengan nama-nama Harry Tjong, Mulyadi, dan Surya Lesmana.

Namun, sejak akhir dekade 1970-an hingga kini, para pemuda keturunan Tionghoa seperti kehilangan minat pada sepakbola. Tidak aneh beberapa tokoh, seperti Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, mengharapkan kembali kehadiran mereka.

Di berbagai cabang olahraga di luar sepak bola, prestasi olahraga kita kian jeblok, mengingat kegagalan demi kegagalan terus berlanjut. Harapan Presiden SBY agar prestasi olahraga bisa terdongkrak tak kunjung terpenuhi hingga saat ini.

Tiru Cina

Memang sudah banyak pemikiran dari para ''pakar'' atau pemerhati olahraga soal cara mendongkrak prestasi olahraga. Sayang tak ada satu pun yang menulis untuk menengok ke Cina, seperti yang diamanatkan Nabi Muhammad.

Sang Nabi pernah memberi petuah ''Belajarlah sampai ke negeri Cina'' ketika beliau terkagum-kagum pada porselin dari Cina. Karena itu, bertepatan dengan momentum Imlek, rasanya pesan tersebut sungguh menemukan relevansinya.

Seperti telah kita ketahui, prestasi olahraga Cina kian berjaya. Jangankan di Asia, seperti di Asian Games Doha 2006 lalu, di level dunia pun, Cina sudah mulai mendominasi. Kali terakhir, di Olimpiade Athena 2004, Cina meraih 32 medali emas, hanya berselisih tiga keping emas dari juara umum, AS.

Medali emas yang diraih atlet Cina di Athena mencakup banyak cabang. Selain unggul di loncat indah, tenis meja, dan menembak, Cina telah mewujudkan terobosan di atletik, kano, dan tenis. Bisa diprediksi pada Olimpiade Beijing 2008, Cina akan bisa menggeser AS.

Melihat prestasi itu, bisa saja muncul pemikiran untuk melakukan studi banding, mengirimkan atlet dan pelatih ke Cina, atau bahkan mendatangkan mereka ke negeri kita.

Pemikiran itu mungkin baik, tapi mengapa kita tak mencoba untuk menengok atlet dan calon atlet muda dari etnis Tionghoa yang ada di negeri sendiri?

Selama ini, tanpa disuruh oleh negara sekalipun, cukup banyak atlet Tionghoa yang mengharumkan nama bangsa justru di tengah kuatnya prasangka rasial dan diskriminasi.

Sejarah olahraga dunia mencatat nama Rudy Hartono, pencetak rekor tujuh kali juara All England berturut-turut. Susi Susanti, peraih emas Olimpiade pertama bagi Indonesia di Barcelona 1992 bersama Alan Budikusuma adalah contoh lain. Jika olahragawan dari etnis Tionghoa diberi peran, ruang, dan perhatian lebih besar, penulis yakin nasib olahraga kita tidak akan seburuk ini.

Ukuran Prestasi

Lalu apa pemikiran seperti ini tidak bersifat rasial dan mengagungkan primordialisme? Tidak. Membuktikan seorang olahragawan bisa berprestasi atau tidak harus dilakukan di ajang kompetisi, baik resmi maupun tidak.

Jika olahragawan Tionghoa memang tidak bisa berprestasi, kesempatan harus diberikan pada atlet lain yang lebih berprestasi. Selama ini, olahraga kita kurang menjunjung profesionalisme, dan sportivitas. Persoalan birokrasi, administrasi, dan KKN masih begitu mendominasi dunia olahraga kita sehingga penulis masih mendengar olahragawan dari etnis Tionghoa disisihkan secara kurang fair.

Tak ada maksud untuk menomorsatukan olahragawan Tionghoa di sini. Yang kita mesti utamakan olahragawan berprestasi tanpa melihat etnisnya. Baik olahragawan dari Papua, Sunda, Jawa, Melayu, maupun Tionghoa, silakan saja asalkan bisa mendongkrak citra bangsa ini di mata dunia.

Yang juga tidak bisa diremehkan adalah perlunya kita lebih melibatkan peran pengusaha Tionghoa di negeri ini. Selama ini sebagian dari mereka mungkin sudah dirangkul untuk ikut memberi dana bagi kehidupan olehraga kita. Ada baiknya tidak hanya sekadar soal dana, kepercayaan untuk mengembangkan cabang olahraga tertentu pun mesti kita berikan.

Lihat klub-klub Ligina kita sebagai contohnya, yang mayoritas masih mengandalkan dana dari APBD. Mengapa klub-klub itu tidak dipercayakan saja pada pengusaha Tionghoa yang berminat pada sepakbola?

Jika klub-klub itu nantinya bisa dikelola para pengusaha Tionghoa secara lebih profesional, paling tidak kita akan melihat uang rakyat dalam APBD akan bisa dialokasikan untuk kepentingan rakyat. Bukan hanya pengusaha Tionghoa, pengusaha mana pun harus dilibatkan agar prestasi olahraga kita bisa terangkat.''(bolanews.com)

Berita Artikel Lainnya