Berita > Artikel > Sosok

Jacob Rusdianto (Bagian II)
Tak Cocok Jadi Karyawan

Kamis, 29 Maret 2007 08:44:21
1608 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Jacob Rusdianto pernah tercatat sebagai karyawan di sebuah bank swasta di Surabaya. Itu terjadi berpuluh tahun yang lalu, tepatnya 1980. Jacob bisa bergabung dengan bank tersebut karena bulutangkis juga. ''Waktu itu saya melatih beberapa karyawan bank. Eh, kok lama-lama saya ditarik jadi karyawan,'' tutur Jacob.

Namun, pada 1983, Jacob merasa jenuh dengan pekerjaannya. Dia mengundurkan diri setelah tiga tahun menjadi karyawan. ''Sebagai pegawai bank, saya harus duduk di belakang meja setiap hari. Rupanya itu nggak cocok untuk saya,'' ungkap Jacob.

Selain itu, tentu saja besarnya penghasilan yang membuat Jacob tak puas. Sebagai karyawan, Jacob hanya bisa menunggu akhir bulan dengan gaji yang konstan. ''Kalau tiap bulan ada kekurangan, saya harus cari di mana. Padahal saya yang menjadi tulang punggung keluarga,'' ujar Jacob.

Tanpa ragu, Jacob muda pun memilih keluar meskipun dijanjikan bakal segera dipromosikan dengan jabatan yang lebih tinggi. Bersama sang kakak, Jacob memilih mendirikan pabrik arloji di daerah Brebek, Sidoarjo, hingga 1998. Sayang, goncangan ekonomi membuat perusahaan yang dibangunnya itu turut terimbas. Namun, bukannya patah semangat, Jacob memilih bidang usaha baru.''Ya sekadar trading-trading begini,'' ucapnya tanpa merinci bidang usahanya.

Menurutnya, wiraswasta lebih menantang untuk dilakoni. Sebab, di sana dia menemukan tantangan untuk terus berpikir dan berusaha mengembangkan usaha. Hasilnya, sebuah rumah di tepi jalan raya kawasan Jemursari telah ditinggalinya bersama keluarga. (vem/indopos.co.id)

Berita Sosok Lainnya