Berita > Artikel > Sosok

Tan Joe Hok, Tenar setelah Mengalahkan Kiem Bie

Kamis, 31 Mei 2007 21:48:50
5062 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Sukses Njoo Kiem Bie dkk merebut Piala Thomas 1958 adalah tonggak bersejarah bagi dunia bulutangkis tanah air. Sejak saat itu Indonesia menjadi negara yang diperhitungkan dalam persaingan bulutangkis dunia.

Kiem Bie memang bukan satu-satunya superstar tim Indonesia kala itu. Tan Joe Hok yang pada saat itu masih berusia 21 tahun, menjadi rising star bulutangkis tanah air. Dia adalah salah satu punggawa tim Piala Thomas Indonesia 1958.

Joe Hok adalah anak seorang pedagang yang gemar bermain sepak bola dari Bandung. Ketika usianya menjadi 12 tahun, ayahnya membangun lapangan bulutangkis untuk Joe Hok. Dia makin menunjukkan bakatnya setelah bergabung dengan klub Blue White, yang dilatih oleh Lie Tjuk Kong.

Joe Hok mengkuti kejuaraan nasional di Surabaya ketika usianya 17 tahun. Namanya pada saat itu mulai dikenal ketika dia berhasil mengalahkan Kiem Bie yang pada saat itu sangat tenar. Apalagi, kejuaran diselenggarakan di Surabaya yang merupakan kandang bagi Kiem Bie.

Dua tahun berikutnya pada 1956, Joe Hok kembali mengalahkan pebulutangkis tenar Eddy Jusuf. Rentetan sukses yang membuatnya masuk tim Piala Thomas Indonesia 1958. Kiem Bie dan Joe Hok adalah sepenggal kisah kebesaran bulutangkis Indonesia. Dalam kejuaraan dalam negeri mereka saling mengalahkan. Namun, mereka bersatu padu ketika membela Merah Putih.

Sebagai keturunan Tionghoa, keduanya juga pernah merasakan getirnya sebagai warga keturunan. Meski mendapatkan penghargaan pahlawan kebudayaan, mereka pernah merasakan diskriminasi dalam hak-hak sebagai warga negara.

Era Kiem Bie dan Joe Hok sangat berbeda dengan saat ini. Kalau dulu pemain belum terganggu telepon seluler, setiap pemain bulutangkis dari Tiongkok sekali pun tidak bisa lepas dari barang tersebut. Perlakuan terhadap pemain jaman dulu, tidak bisa disamakan dengan sekarang.

Namun, semangat yang ditunjukkan Kiem Bie dkk seharusnya bisa diteladani. Baik pemain, pelatih, maupun pengurus PB PBSI. Mereka harus bekerja keras untuk menemukan pemain terbaik. Pengurus tidak berpuas diri ketika sudah memiliki juara agar regenerasi tidak terputus. Sehingga fenomena Kiem Bie dan Joe Hok bisa kembali terjadi.(ang/indopos.co.id)

Berita Sosok Lainnya