Berita / Artikel / Sosok

Candra Wijaya
Terpacu Prestasi sang Kakak

Kamis, 05 Juli 2007 09:06:32
4037 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Candra Wijaya kecil tak bisa hanya duduk diam melihat prestasi sang kakak, Indra Wijaya di kancah bulutangkis Indonesia. Indra yang berusia 1,5 tahun lebih tua daripada Candra memang lebih dahulu mencicipi persaingan di bulutangkis.

Torehan prestasinya pun tak mengecewakan. Puncaknya, saat Indra didapuk menjadi skuad Tim Thomas Indonesia 1996 dan 1998. ''Saya tak mau menjadi yang nomor dua di belakang Kak Indra. Maka, bagaimanapun caranya saya harus berhasil menunjukkan hasil yang lebih baik daripada dia ke dunia luar,'' kata Candra.

Maka, Candra kecil pun mulai berlatih dengan giat di bawah bimbingan sang ayah Hendra Wijaya sejak dia berusia 5 tahun. Setelah melihat perkenmbangan permainan Candra, sang ayah membawanya bergabung dengan klub Rajawali Cirebon. Keinginannya yang cukup keras untuk menggapai prestasi yang lebih tinggi membuatnya memilih bergabung dengan Pelita Jakarta sejak usia 14 tahun. ''Saya berangkat sendiri ke Jakarta, ternyata hidup sendiri jauh dari rumah tidaklah mudah. Itu pelajaran pertama yang saya dapatkan dari bulutangkis,'' kenangnya.

Dari klub tersebut prestasinya mulai mengilap sebagai pemain tunggal maupun ganda. Bahkan, hampir di semua kejuaraan yang diikutinya, Candra mampu meraih tiga medali emas sekaligus, di nomor tunggal, ganda pria, dan ganda campuran. Maka, 1991 dia berkesempatan menjadi penghuni pelatnas.

Candra masih terus bermain dalam tiga nomor tersebut. Sayang, kondisi fisiknya tak mampu mengimbangi semangatnya. Dia pun terkena penyakit lever pada 1993 dan harus istirahat total selama enam bulan. Nah, setelah kembali ke pelatnas dia disarankan untuk berkonsentrasi ke ganda pria.

Seperti banyak perusahaan besar tanah air, 1997 menjadi masa sulit untuk menyalurkan dana. Termasuk Pelita yang didanai Bakrie pun terimbas krisis moneter tersebut. Maka, Candra pun memilih pindah ke Jaya Raya mulai 1998. Namun, sebelum meninggalkan Pelita, Candra menahbiskan diri menjadi juara dunia 1997 bersama Sigit Budiarto.

Sayang, Sigit tak mampu mempertahankan performanya pada 1998. Dia dituduh menggunakan doping dan diganjar skorsing setahun tak boleh mengikuti kejuaraan-kejuaraan bulutangkis. Maka, Tony Gunawan dipilih menjadi pengganti Sigit. Berbagai kejuaraan internasional diikuti oleh keduanya, puncaknya adalah emas pada Olimpiade 2000 di Sydney, Australia.

Pencapaian tertinggi bagi seorang atlet itu membuatnya ingin mengakhiri masa lajang. Adalah Caroline yang dipacarinya selama 14 tahun yang menjadi pilihannya. ''Saya pikir, tak ada lagi level kejuaraan yang lebih tinggi dari olimpiade dan kejuaraan dunia. Itu sudah puncak prestasi saya di bulutangkis. Sepertinya sudah sangat tepat jika saya meminangnya,'' tutur Candra.

21 Januari 2001 dipilih sebagai hari bahagia keduanya. Tak berapa lama, lahirlah putra pertamanya, Wintan Wijaya, yang kini berusia lima tahun. Selang setahun kemudian keinginan Candra dan Caroline untuk memiliki seorang putri kesampaian juga. Setahun kemudian Tania Wijaya menyusul Wintan lahir ke dunia. Meski telah mencetak berbagai hasil manis, Candra tak ingin dirinya dielu-elukan seperti banyak pemain tenar lainnya. ''Bagi saya sudah cukup bisa mencetak sejarah dengan tinta emas,'' tukas Candra. (vem/indopos.co.id)

Berita Sosok Lainnya