Berita / Artikel / Sosok

Sony Dwi Kuncoro
Harapan ''Baru'' Tunggal Pria Indonesia

Kamis, 23 Agustus 2007 12:57:27
8803 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Runner-up Kejuaraan Dunia 2007 dengan Balutan Cedera
Sony Dwi Kuncoro beberapa tahun lamanya digadang-gadang menjadi penerus kehabatan Taufik Hidayat. Namun, sekian lama itu pula Sony memicu kekhawatiran PB PBSI dengan prestasinya yang labil. Sukses Sony menjadi runner-up Kejuaraan Dunia 2007, seolah melahirkan harapan baru pada pebulutangkis asal Surabaya tersebut.

Tunggal pria adalah nomor paling bergengsi dari lima nomor yang dipertandingan di cabang bulutangkis. Hadiah dalam kejuaraan terbuka, porsi terbesar besar akan dialokasikan untuk nomor tunggal pria.

Indonesia sebagai salah satu kiblat bulutangkis dunia, memiliki sejarah yang bagus dalam nomor tunggal pria. Rudy Hartono menjadi pemain paling sukses dalam sejarah turnamen paling bergengsi, All England. Pemain asal Surabaya itu merebut delapan gelar, tujuh diantaranya direbut secara beruntun.

Alan Budikusuma adalah nama besar lainnya. Pemain yang juga berasal dari Surabaya itu mempersembahkan medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona. Taufik Hidayat adalah penerus generasi emas tersebut. Wonder boy, demikian Taufik dijuluki, berhasil merebut emas Oliampiade 2004 sekaligus gelar juara dunia tahuan berikutnya.

Usai Kejuaraan Dunia 2005, Taufik mengalami penurunan prestasi. Prestasi terbaiknya setelah itu adalah emas Asian Games 2006. Setelah itu, pada Indonesia Open 2007 dia tersingkir di semifinal. Faktor usia menggerogoti permainan cantik wonder boy.

Nah, Sony Dwi Kuncoro seharusnya bisa tampil kompetitif ketika Taufik sedang mengalami tren negatif. Masuk pelatnas pada 2001, dia adalah tunggal pria kedua Indonesia di atas Simon Santoso.

Pada awal masuk pelatnas, prestasi Sony cukup bagus hingga mampu merebut perunggu Olimpiade 2004 Athena. Namun, sejak medio 2006 beberapa ujian berupa cedera kerap menghampiri Sony. Kenangan terburuk dialami Sony saat dia harus absen di Indonesia Terbuka 2006 yang digelar di kandangnya, GOR Kertajaya, Surabaya.

''Pelatih saya ketika itu Joko Suprianto benar-benar memotivasi saya agar tak mudah menyerah. Setelah sekitar tiga bulan absen, saya pun mampu menemukan performa terbaik walaupun hanya sampai kuarter final Hongkong Terbuka. Itu menjadi momen bangkit saya selama 2006 bersama Joko hingga dia mengundurkan diri,'' kenang Sony.

Masa transisi pelatih dari Joko ke Hendrawan pun tak terlalu sulit buat Sony untuk beradaptasi. Baginya, dua juara dunia itu mempunyai karakter berbeda yang saling melengkapi.

''Saya ambil kelebihan mereka untuk menyempurnakan permainan saya. Walaupun belum pernah juara bersama Hendrawan, saya merasakan permainan saya masih bisa ditingkatkan,'' lanjut Sony.

Sebelum keberangkatannya ke Kejuaraan Dunia 2007, Sony sempat dihantam cedera punggung di final Filipina Terbuka. Berbeda dengan ketika masih ditangani Joko, Sony mampu melewati ujian tersebut. Dia tetap tamppil di kejuaraan dunia meski berbalut cedera. Hasilnya luar biasa, dia menembus final Kejuaraan Dunia 2007. dia kalah dari tunggal pria nomor satu dunia asal Tiongkok Lin Dan.

Sukses tersebut membuat kepercayaan diri PB PBSI pada Sony meninggi. ''Di Olimpiade, Taufik akan tetap menjadi andalan tunggal pria, Sony pelapisnya. Namun, bukan tidak mungkin Sony meraih prestasi terbaik,'' kata Ketua Umum PB PBSI Sutiyoso.

Menurut Hendrawan, kelemahan Sony adalah staminanya yang kurang tangguh. Itu yang membuatnya mudah cedera. Dampak berikutnya, tren permainannya terganggu. ''Sukses menjadi finalis Kejuaraan Dunia 2007 akan menjadi motivasi yang baik baginya,'' tandas juara dunia 2001 tersebut.

Sony pun kini bertekad untuk bersaing di Olimpiade 2008 Beijing. Dia pun siap membangun jalan menuju ke sana dengan merebut poin sebanyak mungkin untuk mendapatkan rangking yang baik. ''Target paling dekat saya lolos final super series akhir tahun nanti. Kalau lolos berarti rangking saya juga cukup baik,'' pungkasnya. (suryo eko prasetyo/indopos.co.id)

Berita Sosok Lainnya