Berita > Artikel

Hari Gini Bicara Loyalitas

Rabu, 29 Maret 2006 13:04:58
1658 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Ignatius Sunito

Pekan Olahraga Nasional, sebuah ajang titik tertinggi pembinaan olahraga nasional setiap empat tahun sekali. Berlangsung tanpa putus sejak 1948 dari kota Solo dan terakhir PON XVI/2004 di Palembang. Hanya sekali tertunda tahun 1966 di Bandung, Jabar, karena suasana negara tidak kondusif dengan dampak peristiwa Gerakan Tiga Puluh September, G-30-S, di mana kebenaran sejarah tragedi itu sampai sekarang masih simpang siur. Tergantung dari mana cara kita memandang?

PON XVII/2008 yang menurut rencana diselenggarakan di Kaltim, meski masih jauh-jauh hari, kini sudah diramaikan dengan perpindahan atlet-atlet. Siapa maecenas di bidang olahraga? Tak pelak lagi adalah Kaltim sendiri, yang PADnya, Pendapatan Asli Daerah tiap tahunnya sekitar Rp 3 trilyun, dari hasil tambang, selain batubara, minyak, gas bumi, belum sektor pajaknya.

Ingat Kaltim, ingat kota Tenggarong, Ibu Kota Kabupaten Kutai Kartanegara. Ingat pula kepada juara dunia tinju kelas bulu WBC, Christian John. Dua kali pagelaran Chris mempertahankan gelarnya berlangsung di kota ini, terakhir awal bulan Maret 2006 ini. Chris mendapatkan promotor dari daerah ini melalui M. Arsyad, staf pimpinan Pemda Kutai Kartanegara. Pasti bayarannya pun pantas, dengan terakhir Chris mengantongi Rp 1,2 miliar belum dipotong 30 persennya untuk lawannya, Marques, petinju Meksiko. Sementara biaya keseluruhan pertandingan adalah tiga miliar rupiah.

Menyongsong PON 2008, Kaltim sudah menyiapkan pembangunan sarana olahraga. Wajar-wajar saja sudah mengeluarkan uang banyak, kenapa tidak sekaligus membeli kebanggaan berupa medali-medali PON. Dan medali itu harus diraih tidak seperti sim salabim. Harus ada orang-orang atau atlet-atletnya untuk menyabet kepingan-kepingan logam emas, perak, dan perunggu itu.

Maka jurus yang dipakai Kaltim untuk menggaet atlet, ya, sudah berlaku umum. Contoh terakhir di PON XVI/2004 Palembang, misalnya pejudo Kresna Bayu, yang pernah mewakili Jateng, Jabar, digaet begitu saja ke Sumsel. Pasti dengan imbalan suka sama suka, meski di kelasnya, sebenarnya Bayu sudah tidak mempunyai lawan tanding lagi yang seimbang. Maka tak heran, atlet-atlet Indonesia lebih mengharapkan bertanding di PON dari pada di SEA Games. Bonusnya lebih besar dan pasti merebut medali emas, dengan lawan-lawan relatif tidak menguras keringat.

Kaltim berasalasan, sebagai daerah terpencil dan semula bukan daerah otonom, wajar kalau tak punya pengalaman apapun dari SDM, sumber daya manusia. Olahraga merupakan cakrawala yang dibidik, untuk memperluas wawasan maupun kekuatan daerah untuk promosi. Jalan untuk ke sana harus melalui “ transaksi “ yang pengawasnya adalah KONI. Tak heran pula, lobi Kaltim di Raparnas KONI di Bali bulan Februari lalu, sukses besar.

Peraturan perpindahan atlet dari daerah ke daerah lain, semula harus 2,5 tahun sebelum PON, bisa dirubah dalam Raparnas tersebut menjadi 1,5 tahun. Hitung-hitung, kini daerah itu sudah berhasil menggaet 108 atlet yang siap menjadi atlet “ nasional Kaltim “, dengan memakai kostum kontingen Tanah Dayak di Timur ini. Biaya transfer dari Rp 100 sampai dengan Rp 150 juta, plus imbalan pekerjaan sebagai PNS, pegawai negeri sipil. Maka tak heran lagi, atlet-atlet prestasi dari daerah minus seperti NTT tak keberatan hijrah. NTT adalah daerah “ gudang “ nya pembinaan cabang atletik. Selain atlet-atlet cabang wushu DKI Jakarta.

Seandainya tujuan Kaltim ini untuk menyediakan khasanah SDM, terutama di bidang olahraga, untuk kemudian selesai PON XVII, mereka diarahkan sebagai pembina guna mencetak bibit-bibit baru. Pantas kita dukung. Namun sebuah kebiasaan yang serba gampang, karena sumber keuangan yang tak pernah kering, jangan-jangan semua nanti hanya bersifat instant saja? Karena pameo, mengapa harus bekerja keras, kalau membeli bisa langsung milih barang yang terbagus? Dan sarana untuk membeli itu ada!

Kaltim bak alam Indonesia, yang katanya, begitu makmur, Namun 60 tahun lebih menikmati kemerdekaan, rakyatnya tak kunjung sejahtera dan sumber alamnya semakin habis. Kaltim baru saja menghirup udara otonomisasi daerah. Begitu leluasa untuk menggunakan PADnya. Sah-sah saja kalau digunakan untuk promosi daerah, terlebih-lebih melalui olahraga. Dari cabang tinju, siapa kini di Indonesia yang tak kenal dengan Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara?

Perlu mengambil contoh negara-negara moderat Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, misalnya. Sumber daya alam yang berupa minyak begitu melimpah ruah dan dikelola bersama dengan negara-negara maju. SDM asing berdatangan, kerjasama, dan kemudian dimanfaatkan dengan alih teknologi. Hasilnya? Dari negara tak terpandang, menjadi negara yang kini sampai bingung memanfaatkan uangnya untuk investasi apa?

Saking bingungnya, seperti Uni Emirat Arab, sampai pangerannya dari keluarga Al Hamzah, penguasa negeri itu, ikut bermain di dunia otomotif. Menjadi sponsor GP A1 sebagai pesaing GP Formula 1. Meski investasinya untuk ukuran Indonesia bisa membuat mata melotot, namun bagi negara itu ibarat “ tai gigi “. Kemudian Bahrain membuat sirkuit F1 sebagai mata rangkaian kejuaraan dunia F1.

Bayangkan juga dari Uni Emirat Arab, mengatasi negara adi daya AS, bertindak cerdas. Diam-diam modal UEA masuk ke daratan AS dengan menjadi pengelola pelabuhan-pelabuhan terpenting di AS. Siapa yang tak kenal DPW, Dubai Ports World, yang kabarnya akan mengambil alih pengelolaan pelabuhan New York, Philadelphia, Baltimore, dan New Orleans. Bandingkan di sini, di Indonesia, Kedutaan Besar AS di Jakarta, malah dirusak. Padahal AS tak tahu apa-apa akibat policy hantam kromo ganyang kafir.

Lho, dari Kaltim, kok, terus ke AS dan DPW? Angan-angan saya sebenarnya sederhana saja. Bisakah Kaltim menjadi daerah percontohan, atau potret Indonesia yang maju di tengah iklim yang acakadut dan amburadul ini?

Bisa saja, kalau ada kemauan! Begitu, kan, Pak Syaukani? Kepala Daerah Kutai Kartanegara.

(sumber: bolanews.com)

Berita Artikel Lainnya