Berita > Artikel > Wawancara

Tine seperti Bermimpi

Selasa, 18 September 2007 17:59:49
2688 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Kejutan terbesar di Jepang Super Series tahun ini barangkali adalah keberhasilan gadis Denmark, Tine Rasmussen, menjuarai nomor tunggal putri. Pemain berusia 28 tahun ini membenamkan empat pemain Cina untuk menjadi kampiun, termasuk dua pemain terbaik dunia saat ini, Zhang Ning di perempatfinal serta Xie Xingfang di laga terakhir.

Dua pemain Cina lain yang turut menjadi korban Tine adalah pemain muda Jiang Yanjiao dan unggulan ketujuh, Lu Lan. Tine juga mengalahkan seorang lagi pemain kelahiran Cina tapi mewakili Jerman, Xu Huaiwen (unggulan keenam), di babak pertama

''Saya masih belum percaya,'' ujar Tine, yang menari-nari di lapangan seusai menundukkan Xie.

Kepada Irwandi dari BOLA, Tine mengungkapkan kegembiraan di area mixed zone Tokyo Metropolitan Gymnasium seusai menerima plakat dan cek juara senilai 13.800 dolar AS.

Tine, selamat. Bisa digambarkan perasaan Anda saat ini?
Entahlah, sulit digambarkan. Saya masih belum percaya. Sepertinya saya masih bermimpi. Berkali-kali saya yakinkan diri bahwa ini kenyataan. Saya menjadi kampiun di Tokyo. Ya, saya seorang juara sekarang (matanya sedikit berkaca-kaca lantaran gembira).

Ada firasat tertentu sebelum datang ke Tokyo?
Tidak mungkin saya berharap banyak. Saya tahu posisi saya di mana (Tine berada di ranking 14 dunia sekarang, Red). Mana mungkin saya memasang target tinggi. Saya bukan pemain papan atas dunia. Semua seperti mukjizat saja.

Anda menundukkan empat pemain Cina plus Xu Huaiwen dari Jerman dalam Minggu ini. Apa yang bisa disimpulkan?
Sekarang saya yakin tidak ada yang mustahil. Dengan kerja keras, pemain Cina pun bisa ditundukkan. Motivasi dan kepercayaan diri saya tentu akan meningkat setelah ini.

Apakah itu berarti para pemain Cina selalu jadi momok?
Saya rasa bukan buat saya saja, tapi juga bagi semua pemain non-Cina. Mereka kuat-kuat, terus datang ''rombongan'' dalam suatu turnamen, ha-ha…

Jadi, apa rahasianya?
Kesabaran. Kuncinya adalah saya harus sabar menghadapi mereka. Saya tidak buru-buru mematikan bola. Saya ajak bermain reli sambil berharap mereka membuat kesalahan. Hanya kalau saya sudah benar-benar yakin bisa memberi poin, baru saya akan membunuh.

Siapa pemain Cina yang paling berbahaya?
Zhang Ning dan Xie Xingfang. Menantang Zhang, saya main tiga gim yang ketat. Dia pemain ulet yang kaya pengalaman. Melawan Xie juga ramai karena ini partai final. Saya bermain lepas saja karena seandainya kalah saya akan tetap bangga bisa menapak ke final. Mungkin itu yang membuat Xie tertekan dan akhirnya membuat banyak kesalahan.

Apa untungnya menghadapi lawan dari negara yang sama di suatu turnamen?
Pola permainan mereka relatif sama. Saya mempelajari semua tunggal putri Cina lewat video. Mereka memiliki drop yang tajam serta sangat berbahaya kalau diajak bermain net. Tentu saja saya juga berlatih keras.

Anda menjadi tunggal putri Denmark kedua yang menjadi juara di sini setelah Camilla Martin pada 2003. Bisa digambarkan kekuatan putri Denmark saat ini?
Memang sejak Camilla pensiun kekuatan putri Denmark langsung turun drastis. Sejak tiga tahun dia pensiun, hampir tidak ada kejayaan besar yang diperoleh sektor tunggal putri. Kini saya nomor satu di negara saya, tapi jangan bandingkan dengan Camilla, ya (sambil tertawa). Mungkin juga karena Camilla pensiun saya bisa seperti hari ini.

(bolanews.com)

Berita Wawancara Lainnya