Bulutangkis.com - Dahaga gelar juara Sony Dwi Kuncoro terpenuhi sudah. Setelah berpuasa selama dua tahun dan 12 hari, pemain asal Surabaya itu membuktikan dirinya pantas diperhitungkan setelah memenangi turnamen Grand Prix Gold Taiwan Terbuka, yang berakhir Minggu (23/9).
Pada partai final di Taipei County Shinjuang Stadium, yang memanggungkan sesama pemain Indonesia, Sony menekuk rekannya, Taufik Hidayat, dalam pertarungan tiga gim. Berkat keyakinan tinggi, pemain berusia 23 tahun itu menang 18-21, 21-6, 21-13 atas Taufik.
Sony terakhir merebut mahkota juara pada Kejuaraan Asia 2005 di Hyderabad, India. Kala itu di final yang berlangsung pada 11 September, dia mengalahkan Kuan Beng Hong (Malaysia) dengan 15-10, 15-6. Setelah itu, dia lama mengalami puasa gelar hingga memenangi kejuaraan berhadiah total 170 ribu dolar AS tersebut.
Sebenarnya, Sony berharap dapat meraih mahkota juara dunia di Kuala Lumpur Agustus silam. Tetapi, harapannya juga tidak terkabul. Di final, Sony dijegal sang juara bertahan, Lin Dan (Cina). Kendati begitu, secara penampilan, Sony telah memperlihatkan peningkatan.
''Yang penting dari permainan tadi adalah saya yakin dengan pukulan dan tidak ragu-ragu. Saya selalu agresif, tetapi tetap tenang,'' sebut Sony dalam pesan singkat yang dikirim dari Taiwan.
''Sony lebih konsisten dalam serangan maupun bertahan,'' sebut Aryono Miranat, pelatih ganda yang menjadi manajer tim Indonesia.
Sebelumnya, di semifinal Sony menundukkan rekan yang lain, Simon Santoso, juga lewat pertandingan ketat, 23-25, 21-19, 21-15.
Lolosnya tiga tunggal putra Cipayung ke semifinal itu tentu sangat menggembirakan. Maklum, peristiwa ini termasuk langka. Meskipun hal itu belum mampu menyamai prestasi Ardy B. Wiranata, Alan Budikusuma, Hermawan Susanto, Joko Suprianto, dan Hariyanto Arbi pada 1990-an.
Tiga Gelar
Dari turnamen yang berlangsung 18-23 September itu, kubu Indonesia berbinar-binar. Senyum mengembang ada di mana-mana. Pasalnya skuad Cipayung berhasil memboyong tiga gelar juara dari empat nomor final. Ini tentu hasil yang membanggakan.
Selain Sony, gelar lain dipersembahkan Markis Kido/Hendra Setiawan di ganda putra dan Flandy Limpele/Vita Marissa (ganda campuran). Sayang, Nova Widianto/Lilyana Natsir gagal menciptakan final sesama Indonesia setelah langkahnya terhenti di semifinal oleh Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (Denmark).
Satu nomor final lagi di ganda putri, juara Cina Super Series, Vita/Lilyana Natsir terhenti di partai puncak oleh ganda tuan rumah. Vita/Lilyana harus menyerah kepada Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing dalam duel tiga gim, sebelum akhirnya menyerah 21-15, 17-21, 21-18.
Kido/Hendra sepertinya makin lapar gelar. Setelah bertahan sampai semifinal Jepang Super Series pekan lalu, mereka kembali mendulang kemenangan. Di final, mereka mengatasi Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Denmark) 21-17, 21-12. Di semifinal, Kido/Hendra mengalahkan kompatriotnya, Hendra Aprida Gunawan/Joko Riyadi. Kemenangan ini pun menambah gelar juara dunia yang direbutnya di Kuala Lumpur silam.
''Hasil ini tentu sangat bagus. Kita meraih tiga gelar dari empat nomor final. Apalagi, di beberapa turnamen belakangan ini prestasi pemain kita juga makin meningkat. Semoga hal ini bisa bertahan terus,'' harap Aryono.
HASIL FINAL
Tunggal Putra:
Sony Dwi Kuncoro (Ina) vs Taufik Hidayat (Ina) 18-21, 21-6, 21-13
Tunggal Putri:
Wang Chen (Hkg) vs Pi Hongyan (Pra) 21-18, 14-21, 26-24
Ganda Putra:
Markis Kido/Hendra Setiawan (Ina) vs Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Den) 21-17, 21-12
Ganda Putri:
Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing (Tpe) vs Lilyana Natsir/Vita Marissa (Ina) 21-15, 17-21, 21-18
Ganda Campuran:
Flandy Limpele/Vita Marissa (Ina) vs Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (Den) 21-18, 25-23
(Broto Happy W./Bolanews.com)
|