Berita > Artikel

Kolom Hendri Kustian
Menunggu Prestasi Vertikal dari Keluarga Emas Bulutangkis

Selasa, 13 November 2007 04:45:09
9911 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Oleh: Hendri Kustian

Turnamen Grand Prix Vietnam Open berakhir tanggal 11 November kemarin. Indonesia yang menurunkan pemain muda nya berhasil merebut dua gelar juara dinomor ganda putri dan ganda Campuran. Yulianti yang berpasangan dengan Nathalia Poluakan berhasil mengalahkan pasangan Hongkong Hoi Wah Chau / Wai Chee Louisa Koon dengan 21-19 21-15. Keberhasilan Yulianti berlanjut dinomor ganda campuran yang berpasangan dengan Ahmad Tantowi yang di final kembali mengalahkan pasangan Hongkong Hoi Wah Chau / Wai Ho Hui 21-11 21-13.

Sayangnya satu lagi wakil Indonesia di final yang bermain untuk klub Djarum, Andre Kurniawan gagal mereebut gelar Grand Prix keduanya tahun ini. Andre dikalahkan pemain gaek asal Malaysia, Roslin Hashim 12-21 21-23

Terlepas dari keberhasilan Indonesia merebut dua gelar juara, satu hal yang menarik untuk disimak dari pemain ganda putra Indonesia yang bertarung sampai babak perempat final vietnam Open ini yaitu pasangan Bona. S / M. Aksan dan Rendra. W / Frans. K. Dari kedua pasangan itu, tercatat dua nama yang merupakan adik kandung dari para Juara Dunia yaitu Rendra Wijaya yang merupakan adiknya juara dunia ganda putra 1997 Chandra Wijaya dan Bona Septano adik dari Markis Kidho yang merupakan juara dunia 10 tahun kemudian setelah Chandra Wijaya.

Selain mereka, kedua keluarga ini masih mempunyai anggota keluarga lain yang masih berkarir sebagai pemain tunggal putri. Dari keluarga Wijaya, masih ada Sandrawati Wijaya yang pada peringkat tunggal putri nasional terbaru berada di posisi ke-13, sedangkan si bungsu dari keluarga Markis Kidho adalah Pia Zebadiah yang merupakan andalan putri yunior Indonesia dan menempati peringkat nasional nomor enam.

Menyimak lebih dalam prestasi keluarga Wijaya memang cukup membanggakan bagi sang ayah Hendra Wijaya. Indra Wijaya yang merupakan kakaknya Chandra memulai prestasi keluarga mereka dengan menjadi anggota pelatnas dan sempat menjadi salah satu andalan Indonesia pada Piala Thomas tahun 1996 dan 1998. Prestasi Indra sebenarnya sempat menjadi harapan besar Indonesia ketika menjuarai Invitasi dunia junior tahun 1991. Namun karena ketatnya persaingan dinomor tunggal putra, prestasi terbaiknya selain menjadi anggota Thomas Cup adalah menjuarai Grand Prix Polandia terbuka tahun 1994. Setelah tidak memperkuat Indonesia, Indra pindah bermain ke negeri Jiran, Singapura.

Prestasi keluarga ini melambung setelah berbagai prestasi yang ditorehkan Chandra Wijaya. Semua gelar bergengsi berhasil di sabetnya mulai dari juara dunia, Olimpiade, All England, Japan Open, China Open, Indonesia Open dan banyak gelar juara lagi baik tingkat nasional maupun internasional. Saat usia yang sudah dianggap tua untuk seorang pebulutangkis, saat ini Chandra masih berprestasi sebagai pemain bulutangkis profesional. Hebatnya lagi seorang Chandra merebut berbagai gelar juara dengan banyak pasangan baik di ganda putra maupun Ganda Campuran. Pemain-pemain yang pernah mengecap gelar bersama Chandra adalah Ade Sutrisna, Sigit Budiarto, Tony Gunawan, Nova Widianto, Eliza Nathael dan Jo Novita. Seperti disebutkan diatas, Setelah Indra dan Chandra masih ada Rendra dan Sandrawati. Prestasi internasional terbaik Rendra adalah finalis Belanda terbuka bulan lalu sedangkan prestasinya Sandrawati masih dilevel nasional dan junior.

Prestasi keluarga Wijaya disaingi oleh keluarga Mainaky. Lima dari enam putra keluarga Mainaky berprofesi sebagai pemain bulutangkis. Mulai dari Richard Mainaky, Rexy Mainaky, Marleve Mainaky, Riony Mainaky dan Karel Mainaky. Tiga diantara mereka pernah mencatat prestasi bersamaan masuk semi final turnamen Indonesia Open 2001. Reony Mainaky yang berpasangan dengan pemain Jepang, Masafumi Hanada dan Karel Mainaky yang berpasangan dengan Davis Efraim menjadi semifinalis di nomor ganda. Sayangnya All Mainaky Final gagal terjadi karena Riony / Hanada harus kalah dari Chandra / Sigit sedangkan Karel / Davis tidak mampu menang dari Tony gunawan / Halim Haryanto.

Prestasi lebih baik dicatat oleh anggota keluarga Mainaky lainnya di nomor tunggal putra, Marleve Mainaky yang berhasil menjadi Juara setelah menundukkan andalan Malaysia Lee Tsuen Tseng. Prestasi yang dibuat marleve lainnya adalah juara Swiss terbuka 2002 dan menjadi tulang punggung tim Thomas Cup Indonesia yang menjadi juara tahun 2000 dan 2002. Prestasi yang paling fenomenal tentunya dibuat oleh Rexy Mainaky yang berpasangan dengan Ricky Subagja menjadi salah satu pasangan legendaris Indonesia. Mereka berhasil menjuarai turnamen-turnamen besar seperti yang dibuat Chandra Wijaya antara lain juara Olimpiade, juara dunia dan juara All England.

Setelah pensiun pun keluarga ini tetap berprestasi. Richard Mainaky sebagai pelatnas pelatih ganda campuran sukses membawa Nova Widianto / Lilyana Natsir menjadi juara dunia serta Flandy Limpele / Vita Marissa yang menjuarai beberapa gelar juara turnamen super series. Rexy Mainaky juga sukses menjadi pelatih di luar negeri. Saat melatih di Inggris, Rexy mengantarkan pasangan Nathan Robertson / Gail Emms menjadi juara dunia. Setelah pindah ke Malaysia juga sukses meracik pasangan Koo Kean Keat / Tan Boon Heong menjadi salah satu ganda putra nomor satu dunia. Kebangkitan tim ganda Inggris dan Malaysia secara keseluruhan tidak lepas dari tangan dingin Rexy.

Tiga bersaudara keluarga Arbi juga mencatat sejarah gemilang dalam sejarah perbulutangkisan Indonesia. Diawali oleh kiprah Hastomo Arbi yang di eluk-elukan publik saat menjadi pahlawan kemenangan Indonesia atas tim kuat China pada perebutan Piala Thomas tahun 1984. Gelar juara lainnya yang pernah dikecap Hastomo adalah juara PON (1981), Sea Games (1979) dan Thaiwan terbuka (1982). Adik Hastomo, Eddy Hartono yang dikenal dengan panggilan kempong juga mencatat prestasi mendunia di nomor ganda putra dan ganda campuran. Gelar juara beberapa turnamen internasional pernah ia raih termasuk juara ganda putra All England tahun 1992 bersama Rudy Gunawan. Masih bersama Rudy gunawan, Eddy Hartono juga menyumbangkan medali perak Olimpiade tahun 1992.

Pemain lain yang pernah menjadi juara berpasangan dengan Eddy Hartono adalah Liem Swie King, Verawati Pajrin dan Emma Sulistyaningsih. Prestasi terbaik keluarga Arbi dicatat oleh si bungsu Hariyanto Arbi yang tampil di nomor tunggal putra. Dengan julukan smash 100 watt-nya, Hariyanto merebut gelar juara All England (1993-1994), juara dunia (1995) dan berbagai turnamen internasional lainnya.

Keluarga bulutangkis lainnya yang berprestasi adalah kakak-adik Rudy Hartono dan Utami Dewi. Rudy Hartono dengan prestasinya yang tercatat dalam Guinness Book of Record sebagai pemain tunggal putra yang menjuarai All England paling banyak yakni delapan kali. Sedangkan Utami Dewi pernah menjadi juara nasional dan juara PON. Juara Olimpiade 1992, Alan budi Kusuma juga meneruskan jejak atlet kepada adiknya Yohan Hadikusuma. Yohan sempat juara tunggal PON tahun 2000 yang kemudian bermain di nomor ganda setelah pindah ke Hongkong. Bersama pasangannya Albertus Njoto yang juga asal Indonesia, mereka menjuarai Grand Prix Philipina terbuka 2006.

Mengamati keluarga bulutangkis terlihat keluarga secara horizontal (kakak-adik) bukan secara vertikal (Orang tua-Anak). Hanya juara dunia 1983 Icuk Sugiarto yang mewariskan keahliannya kepada sang anak Tommy Sugiarto. Prestasi Tommy sendiri masih ditunggu apakah akan secemerlang ayahnya atau tidak. Padahal melihat banyaknya keluarga Indonesia yang berprestasi di bulutangkis seharusnya juga bisa diwariskan secara vertikal tidak sekedar horizontal. Sebuah pertanyaan menarik ''mengapa para juara dunia dari Indonesia lainnya tidak mengarahkan buah hati mereka di jalur bulutangkis?''

Jawaban yang paling mendasar bagi mereka karena tidak adanya jaminan masa depan mereka sebagai atlet di negeri ini setelah tidak berprestasi lagi. Berbeda dengan profesi lainnya seperti militer misalnya. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mungkin merasa masa depan di militer tetap cerah sehingga salah satu anaknya juga mengikuti jejak karir sang Ayah. Apalagi di dunia usaha, generasi-generasi konglomerat sudah berhasil mewariskan kepandaiannya kepada anaknya. Sebagai salah satu contoh Abu Rizal Bakrie yang bisnisnya diteruskan oleh Anindya Bakrie. Hal ini sangat berbeda dengan bulutangkis, generasi muda dari para juara dunia seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Tjun Tjun, Christian Hadinata, dan banyak lagi ternyata tidak ada yang mengikuti jejak sang ayah.

Pemerintah diharapkan mulai memikirkan kondisi ini dengan memberikan jaminan lebih baik buat seseorang yang akan menekuni dunia atlet khususnya bulutangkis. Salah satu solusinya seperti memberikan uang pensiun bagi atlet berprestasi. Misalnya seorang juara dunia yang sudah gantung raket diberikan pensiun setara PNS golongan IV, Juara tingkat Asia setara golongan III dan seterusnya. Disamping itu perlu dipikirkan sebuah solusi yang baik buat pemain-pemain yang sudah bertahun-tahun berlatih tapi gagal mencapai prestasi maksimal seperti membuat program pendidikan keahlian khusus sehingga menjadi atlet bukanlah menjadi suatu perjudian terutama bulutangkis yang nilai investasinya sangat tinggi.

Orang tua yang menginvestasikan anaknya di dunia bulutangkis dihadapkan akan dua pilihan yaitu menjadi kaya raya bila berhasil dan menjadi melarat seandainya gagal. Disinilah diperlukan solusi jalan tengah seperti pendidikan khusus tersebut buat yang gagal sehingga para orang tua tidak ragu menganjurkan anaknya menjadi atlet bulutangkis. Bagaimanapun juga para pendekar bulutangkis Indonesia itu menjadi panutan sebagian besar orang tua di Indonesia buat memilihkan karir buat anaknya. Seorang juara dunia saja enggan mengarahkan anaknya berkarir di bulutangkis, lalu bagaimana dengan orang tua - orang tua lainnya. Insan perbulutangkisan Indonesia diharapkan berpikiran ke depan untuk selalu menjaga stok generasi penerus yang mengharumkan nama bangsa nya di arena bulutangkis.

(badminton-indonesia@yahoogroups.com)

Berita Artikel Lainnya