| Ranking PBSI |
 |
| BWF |
 |
| Join MBI |
 |
| www.Taufik-Hidayat.com |
 |
| Solidarity and Badminton |
 |
| Badminton Game |
 |
|
|
 |
 |
|
| Berita /
Berita |
|
| Teknologi Hawk Eye Merambah Bulutangkis | | By admin |
| Selasa, 05-Februari-2008, 23:00:18 |
988 klik |
 |
 |
|
|
|
|
| Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) tengah mengkaji dengan serius kasus yang terjadi pada final tunggal putra turnamen Korea Super Series yang berlangsung di Seoul, 27 Januari. Pada final itu, Lin Dan (Cina) bersitegang dengan pelatih Korsel asal Cina, Li Mao. Bahkan, Lin Dan sampai melempar raket ke arah Li Mao. |
|
|
|
|
Bulutangkis.com - Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) tengah mengkaji dengan serius kasus yang terjadi pada final tunggal putra turnamen Korea Super Series yang berlangsung di Seoul, 27 Januari. Pada final itu, Lin Dan (Cina) bersitegang dengan pelatih Korsel asal Cina, Li Mao. Bahkan, Lin Dan sampai melempar raket ke arah Li Mao.
Inilah drama paling buruk dalam dunia bulutangkis. Super Dan juga memprotes keputusan-keputusan aneh hakim garis, meski sering dikoreksi umpire, yang membuat pemain tuan rumah, Lee Hyun-ill, menjadi juara.
Buntut dari kejadian itu pun direspons positif oleh BWF. Ketua Komite Olahraga BWF, Anne Smillie, mengatakan akan melakukan investigasi serius mengenai hal itu. ''Semua pelaku bulutangkis harus memperhatikan kode etik di lapangan. Semua keputusan berdasarkan peraturan yang ada, bukan siapa yang berteriak paling kencang,'' ungkap Smillie.
Menurut Smillie, bukan tidak mungkin bulutangkis akan menggunakan kemajuan teknologi sebagai pembanding atas keputusan wasit. BWF mulai berpikir untuk menggunakan teknologi mata elang atau hawk eye yang telah digunakan di kancah turnamen grand slam tenis dunia. Di tenis, keputusan penjaga garis bisa di-overruled jika ternyata tayangan ulang pertandingan menunjukkan hal sebaliknya.
Dengan teknologi ini, pemain diberi kesempatan untuk melihat tayangan ulang jatuhnya shuttlecock (kok) jika keputusan hakim garis diragukan pemain.
Demikian juga di basket NBA yang sudah menggunakan video sebagai penentu sah tidaknya bola masuk ke keranjang pada detik-detik akhir pertandingan.
Kasus Lama
Selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa turnamen yang berlangsung di Korea selalu diwarnai keputusan yang menguntungkan pemain tuan rumah. Banyak hakim garis yang membuat keputusan keliru demi memenangkan pemainnya. Meski kini sudah ada usaha-usaha BWF untuk mengeliminasi keputusan miring tersebut, tidak jarang pemain tamu merasa dikerjai habis.
Bahkan, pada turnamen Korea Terbuka 2002, pemain-pemain Cina melakukan boikot dengan tidak datang. Aksi ini sebagai balas dendam terhadap perlakuan buruk yang diterima pemain Cina dalam cabang bulutangkis Asian Games 2002 Busan.
Yang terakhir dirasakan pemain Indonesia pada turnamen Korea Super Series, pekan lalu. Nova Widianto/Lilyana Natsir merasakan pahitnya diperlakukan tidak adil oleh hakim garis saat bertemu pasangan tuan rumah, Lee Yong-dae/Lee Hyo-jung. Kendati keputusan keliru itu sudah dikoreksi umpire, pasangan Indonesia itu sudah kehilangan konsentrasi.
Untuk mengurangi keputusan yang tidak adil itu, BWF pun harus cepat mengambil keputusan. Apalagi, Olimpiade Beijing, Agustus nanti, kalau tidak dicermati bisa menjadi ajang balas dendam terhadap pemain-pemain tamu, terutama asal Korea.
''Pada Olimpiade di Beijing nanti, pasti para peserta menginginkan keputusan seadil mungkin. Kami tengah mempertimbangkan menggunakan teknologi sebagai jaminan rasa aman bagi para peserta,'' ungkap Datuk Punch Gunalan, Deputi Presiden BWF.
''Bulutangkis termasuk olahraga yang menggunakan bola cepat. Jadi, keputusan hakim garis bisa saja salah. Namun, dengan penggunaan teknologi, pasti banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Saya sangat sepakat dengan rencana penggunaan teknologi itu di bulutangkis,'' ujar Ketua Majlis Sukan Negara (MSN), Dato’ Zolkples Embong.
Rencananya, pada All England Super Series, Maret, nanti akan dibicarakan penggunaan teknologi itu. Selain itu juga akan diusulkan menggunakan hakim garis independen dalam pertandingan semifinal dan final.
Kalau demi perbaikan, kenapa tidak segera dicoba?
(Broto Happy W./Eko Widodo, dari Kuala Lumpur)
(bolanews.com) |
|
|
|
|
| Berita/Artikel Terakhir |
|
|
|
 |
| PB Djarum |
 |
| Badminton Shop Online |
 |
| PT. Victor Indonesia |
 VICTOR bersama dengan Tim Nasional Korea merebut Piala Uber untuk pertama kali |
| Dukung Komodo |
 |
| www.citraproperty.com |
 |
|
 |
|