Berita / Berita

Surat Dari Borneo
Kebutuhan Tengiri Meningkat Selama PON XVII

Minggu, 13 Juli 2008 08:27:01
1032 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Tak banyak yang mengetahui, jika amplang, penganan khas Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), dibuat dari bahan baku utama ikan tengiri. Ikan jenis lainnya tak bisa diproduksi untuk menghasilkan amplang. Berdasarkan pengalaman, jika jenis ikan lain dijadikan bahan baku, rasa amplang keras dan tidak sesedap tengiri. Apalagi untuk jenis ikan biji nangka, akan menyebabkan gatal-gatal. Jadi, tidak semua jenis ikan laut bisa dijadikan bahan baku utama amplang.

Sebelum tengiri, ikan pipih (belida) digunakan untuk amplang. Ikan yang banyak ditemui sepanjang Sungai Mahakam yang membelah Kota Samarinda, akhirnya menjadi langka, setelah di sekitar sungai mulai banyak berdiri bangunan. Karena itu, perajin memanfaatkan tengiri sampai sekarang.

Ikan tengiri tidak banyak dijumpai di kawasan Samarinda. Untuk produksi amplang harus didatangkan dari Kabupaten Grogot dan Balikpapan. Tingginya permintaan tengiri dari sekitar 50 perajin amplang, menyebabkan harga ikan itu terus naik. Dalam situasi normal harganya Rp 28.000, tetapi jika di laut terjadi gelombang besar, harga meningkat sampai Rp 35.000 per kilogram.

Permintaan tengiri yang terus meningkat, menjadi tolok ukur, permintaan pasar akan amplang juga terus naik. Apalagi saat berlangsungnya Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Samarinda, permintaan amplang dari atlet, pelatih, ofisial dan penggembira dari berbagai daerah di negeri ini melonjak drastis.

Salah seorang dari sekitar 50 perajin amplang di Samarinda, Haji Asraful Umam, didampingi istrinya Linawati kepada SP mengatakan, menjelang pelaksanaan PON, menyiapkan amplang dalam jumlah banyak. Mereka membeli dua ton tengiri, padahal sebelumnya rata-rata menghabiskan 500 kuintal tengiri per bulan. Hal yang sama dilakukan perajin lainnya.

Sulawesi Utara (Sulut), dikatakan Asraful, memesan untuk seluruh anggota kontingen. Perajin lainnya juga mendapatkan pesanan dari kontingen-kontingen yang atletnya berlaga dalam PON. Sementara pembelian amplang untuk oleh-oleh dari para penggembira dan pendukung juga terus mengalir. Dengan demikian salah satu tri sukses penyelanggaraan PON XVII Kaltim, pengembangan ekonomi kerakyatan berhasil.

Amplang merupakan jenis penganan yang menjadi buruan siapa saja ketika berkunjung ke Samarinda.

Turun Temurun

Sama seperti kebanyakan perajin lainnya, keluarga Asraful merupakan generasi ketiga, dan menjadi penerus usaha yang dilakukan keluarganya. Industri rumah tangga itu semula dibidani neneknya Hajah Bainah, dilanjutnya orang tua Hajah Linawati, bernama Hajah Aminah. Diteruskan anak-anaknya Hajah Fatimah dan Haji Yusron.

Titel haji dan hajah di depan nama keluarga ini, didapat mereka setelah menunaikan ibadah haji di tanah suci. Biaya untuk menunaikan haji diperolah dari home industri yang digeluti secara turun menurun.

Tidak diketahui pasti kapan dan siapa yang mula-mula menjadi pelopor pembuatan amplang. Tetapi masyarakat di tepian Sungai Mahakam, awalnya hanya membuat kerupuk ikan pipih. Setelah ikan pipih langka, mereka memproduksi amplang dan terus bertahan sampai sekarang. Harga amplang spesial kuku macan yang dikemas menggunakan plastik tebal berukuran panjang dan lebar 23 cm serta tinggi 5 cm sebesar Rp 30.000. Demikian juga untuk amplang kuku macan besar dan panjang harganya Rp 30.000. [SP/Teguh LR]

Sumber: Suarapembaruan.com

Berita Berita Lainnya