Berita > Artikel

Eropa Beraroma Indonesia

Selasa, 02 Agustus 2005 08:38:25
1827 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

GANDA PUTRI - Nomor ganda putri hingga beberapa tahun ke depan diramalkan masih didominasi pemain Cina. Penampilan pemain ganda putri dalam kejuaraan junior belum lama berselang, yang akhirnya kalah dari tim Cina.

MESKIPUN bertanding dengan bendera negara-negara Eropa, kulit dan wajah beberapa pemain muda yang tampil pada kejuaraan bulutangkis Milo Junior Indonesia Open 2005 di GOR Tembau, Denpasar, Bali, akhir Juli lalu, tidak seperti kebanyakan orang benua itu. Mereka tidak berkulit putih, juga tidak berambut pirang layaknya orang bule.

Bila para pemain itu tidak diperkenalkan sebagai pemain luar Indonesia, mungkin penonton kejuaraan itu akan mengira mereka pemain lokal. Memang itulah yang terjadi.

Beberapa pemain asing, seperti pemain Belanda dan pemain Belgia yang tampil dalam kejuaraan berhadiah 11.000 dolar AS itu berdarah Indonesia. Dua andalan Belanda, Lisa Malaiholo dan Yvonne Ilona Sie, bernenek-moyang dari Indonesia. Dua pemain dari Belgia, kakak beradik Tan Yuhan dan Tan Lianne, beribu asli Belgia dan berayah asal Bandung.

Lisa berdarah Ambon. Ayahnya, Patrick Malaiholo, sepupu dari penyanyi Harvey Malaiholo. Ibu Lisa, Ciska, adalah Belanda keturunan Suriname. Yang benar-benar asli Indonesia, adalah Yvonne. Ayahnya Sie Sien Tjiang berasal dari Kediri, sedangkan ibunya The Eng Lian dari Surabaya.

Keluarga Tan sudah mengikuti kejuaraan Milo Open ini untuk ketiga kalinya. Tan bersaudara tampil untuk pertama kalinya di Yogyakarta pada 2003, dan di Medan pada tahun lalu.

Penampilan Tan Yuhan tidak mengecewakan. Dia bisa masuk babak 16 besar sebelum akhirnya harus mengakui kehebatan pemain Pelatnas Sakti Kusuma. Bekas pemain Pelatnas yang kini melatih Jaya Raya Bambang Supriyanto pun memuji permainan Tan Yuhan.


Berlatih Keras

Meskipun bukan menjadi bahasa utama, bahasa Indonesia tetap menjadi salah satu alat komunikasi bagi keluarga-keluarga di atas. Yuhan dan Lianne sangat fasih berbahasa Indonesia, sedangkan Lisa dan Yvonne mengerti dan bisa menyambung bila diajak omong bahasa Indonesia.

Lucunya, karena kedua orangtuanya sering menggunakan bahasa Jawa, Yvonne juga mengerti beberapa kosa kata bahasa Jawa. Cuma kadang-kadang dia tidak bisa membedakan antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, kata ayahnya, yang telah puluhan tahun bermukim di Belanda itu.

Baik Lisa maupun Yvonne, sama-sama mengidolakan Mia Audina, pemain Indonesia yang kemudian hijrah ke Belanda. Mereka berlatih keras agar bisa seperti Mia, yang telah mengoleksi banyak gelar juara. Menjadi juara dunia merupakan keinginan setiap pemain. Itu juga keinginan mereka. Saya juga ingin medali emas Olimpiade dan membela Belanda di Piala Uber, kata Yvonne, gadis mungil cantik yang lahir 5 November 1988.

Lisa, gadis kelahiran 9 Juli 1987 itu merupakan peringkat delapan junior di negaranya. Prestasinya masih sedikit kalah dibanding Yvonne. Atlet dari Tilburg itu pernah merebut gelar juara ganda, namun belum pernah meraih gelar juara di nomor tunggal.

Yvonne pernah menjadi yang terbaik di kejuaraan U-19. Padahal, waktu itu usia pemain dari Almere itu masih 15 tahun. Lisa maupun Yvonne juga pernah berpasangan dan menjadi juara di turnamen U-17.

Meskipun sering mengikuti kejuaraan dan cukup berprestasi, mereka belum menjadikan bulutangkis sebagai pegangan hidup. Sekolah tetap menjadi prioritas. Bandingkan dengan para pemain Pelatnas Junior di Indonesia. Aktivitas sekolah hampir tidak ada karena hari-hari mereka diisi dari latihan dan latihan, pagi dan sore hari.

Kedua anggota remaja Belanda itu disibukkan dengan sekolah yang harus dijalani dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Mereka baru bisa berlatih bulutangkis dari pukul enam hingga delapan malam. Dalam sehari, Yvonne, hanya berlatih dua jam, dan itu ia lakukan lima hari dalam seminggu. Dua hari lainnya ia manfaatkan untuk mengikuti turnamen yang digelar di berbagai kota. Mungkin kalau tenis harus memilih antara sekolah atau tenis. Bulutangkis belum bisa, kata ibu Yvonne.

Yvonne sendiri saat ini sedang belajar di sekolah lanjutan tingkat atas, semacam SMEA (sekolah menengah ekonomi atas). Sekolahnya mendukung penuh anak didiknya bermain bulutangkis.


Sparing Partner

Bila mereka masih setengah-setengah antara sekolah dan bermain, lain lagi dengan Tan Yuhan. Tekadnya untuk menjadi pemain besar sudah bulat. Sebagai orangtua saya mendukung penuh keinginan anak, kata Henk, ayah Yuhan yang memperkenalkan bulutangkis kepada anak-anaknya.

Yuhan rela meninggalkan bangku sekolah. Padahal, ia sudah diterima di fakultas kedokteran di Belanda.

Yuhan dilahirkan dari keluarga dokter. Ayahnya dokter gigi sedangkan ibunya dokter anak. Henk memperkenalkan bulutangkis kepada tiga anaknya sejak kecil. Satu lagi anaknya, si sulung lebih memilih kuliah.

Hanya saja, ada ganjalan untuk menjadi pemain besar. Susah mendapatkan sparing partner di Belgia. Saya harus sering ke Luxemburg bila ingin mendapatkan lawan seimbang. Lumayan bisa mendapatkan teman berlatih yang tangguh. Kalau di Belgia mendingan saya berlatih bersama ayah dari pada di pelatnas. Sebab, pemainnya kurang begitu bagus, kata Yuhan, yang juga mengerti bahasa Sunda itu.

Di Luxemburg, ia bisa berlatih dengan beberapa mantan pemain Indonesia, seperti Hargiyono. Di Belgia, ia susah mendapatkan pemain sepadan. Rata-rata kualitasnya di bawahnya. Penampilannya yang terus membaik membuat Yonex tertarik untuk mengontraknya. *

sumber:www.suarapembaruan.com

Berita Artikel Lainnya