Berita > Artikel

Bulutangkis, Media dan Pemerintah Menanti Wajah Baru PBSI

Kamis, 04 Februari 2010 00:54:21
4813 klik
Oleh : fildan
Kirim ke teman   Versi Cetak

Saat disinggung mengenai cabang olahraga andalan di Asian Games Guangzhou 2010 mendatang, Menpora Andi Mallarangeng masih menempatkan Bulutangkis sebagai salah satu cabang olahraga andalan untuk meraih medali emas.

Kutipan berita tersebut membuat saya tersenyum sekaligus meringis. Ucapan yang kurang lebih sama saat para wakil pemerintah terkait, ditanya tentang cabang apa yang paling potensial untuk tetap bisa menjaga nama bangsa di event olimpiade sampai dengan SEA Games. Tersenyum, karena bulutangkis masih menjadi cabang yang diandalkan di ajang perhelatan akbar kompetisi olahraga dunia. Meringis, karena sampai saat ini pemerintah yang secara lugas dan meyakinkan masih mengklaim bulutangkis sebagai cabang andalan bangsa, ternyata tidak/ kurang proaktif mensupport bulutangkis baik secara financial - yang merupakan kendala utama PBSI - maupun secara normatif-publik-. Dimana pemerintah seakan tidak memiliki ikatan historis karena membiarkan masyarakat penggemarnya tidak bisa mengulangi keharuan dan emosi yang sama seperti masa-masa Rudi Hartono, Liem Swie King King sampai dengan Susi Susanti. Hingga kini masih secara real di blow up langsung oleh media (nasional maupun swasta) dalam perjuangannya di event- dunia maupun ketika menjadi sorotan keharuan ribuan mata masyarakat Indonesia yang menyaksikan para pujaannya diarak keliling, beserta Piala hasil perjuangan mereka.

Betapa tidak, bulutangkis yang menjadi olahraga tradisi dan begitu familiar bagi masyarakat Indonesia –di bawah sepakbola- ternyata tidak memperoleh perhatian yang proporsional sebagai olahraga andalan. Saat gemuruh pasang surut prestasi para atlet bulutangkis Indonesia di berbagai turnamen internasional, banyak pihak terkait, pemerintah maupun media nasional seakan tidak perduli akan nasib cabang ini. Tidak ada perhatian khusus dalam bentuk visual di media elektronik/TV (seperti tayangan -tayangan kriminal) maupun dalam bentuk statemen dari pemerintah meskipun berupa krtitik, apalagi solusi kongkrit yang menunjukan bahwa bulutangkis masih mempunyai tempat di negeri ini.

Namun ketika para atlet bulutangkis kita sukses mendapat medali, banyak pihak angkat bicara, merasa bangga, seakan-akan ikut andil dengan keberhasilan tersebut. Hampir seluruh stasiun TV menayangkan momen dimana atlet-atlet kita menerima pengalungan medali. Muncul komentar-komentar seperti ini, ‘’Kami bangga bulutangkis masih bisa mempersembahkan medali bagi bangsa’’, ‘’Kami terharu menyaksikan sang saka merah putih ikut berkibar diantara negara lain di dunia’’ atau ‘’Semoga kita tetap bisa mempertahankan kesuksesan ini di event event selanjutnya’’, dan lain-lain tapi kenyataannya sungguh sangat kontradiktif.

BWF (Badminton World Federation) yang merupakan Badan Bulutangki Dunia, termasuk didalamnya PBSI pernah risau saat Komite Olimpiade Dunia bermaksud mengurangi beberapa cabang untuk di pertandingkan termasuk bulutangkis yang masuk dalam lingkaran degradasi. Situasi ini membuat semua pihak berusaha keras agar bulutangkis tetap menjadi cabang yang dipertandingkan. Melakukan tour-promo ke berbagai negara belahan dunia, berusaha memperkenalkan bulutangkis agar lebih populer.

Dengan argumen minimnya kesediaan dana, PBSI pernah mengeluarkan kebijakan mengembalikan seluruh atlet ke klubnya masing-masing untuk sementara waktu -dan ini, baru terjadi di era ini- serta melakukan perampingan atlet penghuni pelatnas. Selain itu , atlet-atlet pelatnas pratama tidak diberi kesempatan yang cukup untuk tampil di even internasional karena keterbatasan dana tersebut.

Pada saat yang sama, media elektronik televisi swasta kita, mulai menjaga jarak dengan olahraga ini. Kalau dulu masih sering kita liat adanya siaran-siaran langsung untuk even besar seperti olimpiade, All England, Kejuaraan Dunia, kejuaraan-kejuaraan Grandprix sampai SEA Games, saat ini liputan hasil pertandingan pun akan sulit kita dapatkan kecuali berupa teks berjalan di beberapa statsiun televisi. Mirisnya, pada saat yang sama pula beberapa stasiun televisi juga menyiarkan dengan bangga cabang sepak bola, tidak hanya pertandingan dunia tapi juga pertandingan sekelas persahabatan, kompetisi liga luar maupun dalam negeri, ataupun sekedar uji coba Timnas dengan hasil ''babak belur''. Dan sering dalam waktu yang bersamaan lebih dari dua stasiun televisi kita menyiarkannya secara ''Live'' maupun tunda. Berapa dana yang dikeluarkan dan waktu yang disisihkan untuk dapat menayangkan seluruh pertandingan itu?

Ada lagi yang lebih membuat miris, TVRI yang secara real adalah merupakan televisi pemerintah ikut bereforia dengan menayangkan cabang yang sama, yang maaf, secara kebangsaan tidak ada hubungannya dengan nasionalisasi kita dibandingkan dengan, seandainya TVRI menayangkan pemain sekelas Rendy/Angga atau Berry/Ullinuha (Juara ASIA Junior & Finalis Kejuaraan Dunia Yunior) yang meskipun ''sekedar'' taraf kejuaraan yunior dan tidak begitu dikenal, namun mampu memberikan sumbangsih riil bagi bangsa.
Jika alasannya masalah sponsor, apakah sekedar hasil/berita aktual dari atlet bulutrangkis kita yang sedang bertanding begitu membuat stasiun kita begitu pelit untuk memberikan space waktu yang beberapa menit? Lalu, kalau begitu, harus dipertanyakan jika rasa nasionalisme yang didengungkan harusnya berbanding lurus dengan kontribusi yang diberikan sesuai dengan relevansinya.

Perlu dipertanyakan, apakah PBSI yang tidak pandai menjalin komunikasi, baik dengan pihak media maupun pemerintah atau kah memang media dan pemerintah yang lupa sehingga perlu diingatkan kembali bahwa ada ketidak seimbangan ''perhatian'' yang diberikan. Bukannya tidak suka jika sebuah cabang yang menjadi favorit di negeri ini begitu mendapat perhatian berlimpah, mulai dari limpahan tayangan di TV sampai dengan sokongan dana namun perlu diingat juga bahwa ada cabang lain yang memiliki ''nilai lebih'' di sisi lain dan tidak mendapat porsi yang sesuai. Kita tidak ingin Indonesia seperti Amerika yang dulu begitu disegani dicabang Bulutangkis, namun kini hanya tinggal sejarah. Atau menjadi ''Mantan'' negara bulutangkis karena keterpurukan prestasi atlet-atletnya.

Ada beberapa hal yang selayaknya perlu dilakukan PBSI, untuk mengembalikan pamor Bulutangkis dimata Dunia maupun di hadapan publiknya sendiri.
  1. Melakukan pembenahan internal, terkait dengan kepengurusan yang efektif dengan mensupport bidang yang secara potensial, dapat langsung bekerjasama dengan elemen terkait: media, pemerintah (Menpora & KONI).
  2. Terkait dengan masalah dana yang menjadi kendala utama PBSI dalam mengeksplorasi potensinya, perlu dibentuk bidang khusus yang lebih ''giat'' dan lebih fokus dalam menggalang seluas-luasnya dana yang dibutuhkan, yaitu membentuk 'Marketer' yang handal yang ''pandai'' melakukan promo dan lobby-lobby kerjasama yang saling menguntungkan.
  3. Memperhatikan susunan kepengurusan saat ini (tertera nama-nama seperti : Susilo Bambang Yudhoyono, Aburizal Bakrie, Ciputra, dll) yang notabene memiliki pengaruh yang besar, seharusnya PBSI mampu memainkan peranannya agar lebih bisa menekan pihak-pihak terkait untuk dapat memberikan kontribusinya sesuai kapasitas yang dimiliki: media televisi, dengan memberikan space siaran-siaran even bulutangkis, sportaintmen maupun merilis hal-hal yang berhubungan dengan bulutangkis (raket update, profil atlet, dll).
  4. PBSI harus mulai membuka diri dengan menyediakan link informasi ke dalam maupun keluar yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga dapat diketahui masukan ataupun kritik membangun yang berguna bagi PBSI sendiri dalam memanagemeni kepengurusan maupun para atlet secara langsung. Disamping itu juga akan lebih terjalin komunikasi yang baik antara PBSI, atlet dengan publik. Saat ini PBSI seakan hanya berkutat di dalam, tanpa ada komunikasi yang dibangun dengan massa. Kalaupun ada, sangat jarang dan terbatas. Dengan menyelenggarakan, misalnya, press release atau press conference ketika para atlet kita akan mengikuti suatu pertandingan besar (Thomas-Uber, Sudirman, Olimpiade, dll) dengan mengundang media dan insan terkait sehingga mendapat respon dan dukungan lebih.
Demikian beberapa point yang seharusnya bisa dilakukan PBSI guna ''menyelamatkan asset bangsa'' yang tak ternilai harganya. Kita semua ingin bulutangkis tetap menjadi pujaan hati publik Indonesia, menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

Bravo, tetap jaya bulutangkis Indonesia!

Contributed by: Fildan Dani

Berita Artikel Lainnya