Berita > Artikel

Kinerja Dulu, Baru yang Lain

Senin, 18 September 2006 20:29:13
1083 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Usul Usil: Dede Isharrudin

Terkejut juga ketika di sela-sela temu kangen antara anggota Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI) dan Menegpora, Adhyaksa Dault, 8 September, muncul dukungan politis terhadap kantor Menegpora agar diubah statusnya menjadi departemen.

Di depan Adhyaksa, Ketua Umum IANI, Icuk Sugiarto, berhasil membuat koor “setuju” dari sekitar 70-an anggota IANI, yang malam itu hadir bersilaturahmi untuk memperingati Hari Olahraga Nasional.

Tidak jelas apa agenda Icuk, yang juga staf ahli Menegpora, dengan pertemuan yang memunculkan koor politis itu. Yang jelas, sebagai bagian dari Kantor Menegpora, mulai dari Adhyaksa, Icuk, hingga beberapa pejabat lain, belakangan ini memang sedang doyan mengampanyekan untuk mengubah status kementerian olahraga menjadi departemen olahraga.

Bahkan, saat rapat dengar pendapat terakhir dengan Komisi X DPR, yang membahas anggaran 2006/2007, wacana itu diungkapkan langsung Adhyaksa ketika membuka forum.

Saya bukan anti dengan departemen. Tapi, kalau mau pakai istilah sekarang, saya akan omong, “Hari gini mau bikin departemen?” Mengapa? Dengan kondisi negara yang mungkin baru lima tahun lagi bisa keluar dari krisis, sungguh tak mungkin jika pemerintahan harus mendirikan lagi sebuah departemen. Biayanya terlalu besar.

Memang, Adhyaksa dalam berbagai kesempatan sering mengungkapkan bagaimana pentingnya olahraga dalam pembangunan bangsa. Olahraga tak hanya memikirkan prestasi, tapi juga meningkatkan kebugaran jasmani bagi seluruh masyarakat. Belum lagi tanggung jawab untuk menjadikan olahraga sebagai salah satu jaminan hidup dengan cara memperhatikan kesejahteraan atlet.

Dalam benak menteri, tugas dan tanggung jawab itu seharusnya diemban oleh departemen yang memiliki cakupan lebih luas dan dukungan dana yang besar. Dengan status kementerian, anggaran yang diperoleh terbatas, yakni Rp 500 miliar setahun. Tentu ini tak cukup untuk tugas itu. Logikanya jika diubah menjadi departemen, alokasi anggaran akan lebih besar.

Lebih Enak
Pemikiran Adhyaksa itu boleh-boleh saja. Apalagi, ia dikenal sebagai menteri yang bersemangat. Tapi, pertanyaan logisnya, mengapa kementerian yang susah payah dibentuk setelah dilikuidasi tahun 2000 tak dimaksimalkan dulu kinerjanya. Terus terang, dibanding tahun-tahun sebelumnya, kementerian sekarang jauh lebih enak.

Tak hanya sudah punya UU No 3 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, yang membuat mereka lebih bebas berkreasi, tapi juga kewenangan yang dimiliki kementerian itu sudah cukup untuk menjangkau daerah-daerah yang sebenarnya bisa dimaksimalkan sebagai sumber aspirasi dan dana yang baru. Jangan sampai muncul penilaian UU-nya belum dijalankan tapi sudah minta perubahan status.

Jadikan semangat yang dimiliki menteri untuk menerobos dan membuka jaringan antarinstitusi pemerintah lain, seperti pendidikan atau kesehatan, untuk sama-sama mendukung olahraga. Tularkan keinginan membangun olahraga di sidang-sidang kabinet sehingga mulai dari presiden, wapres, hingga kolega menteri lain tergugah untuk memberi perhatian kepada olahraga.

Jadi, jika memakai prinsip first thing first, sebenarnya banyak hal utama lain yang bisa dikerjakan dengan energi yang dimiliki Adhyaksa dan dana yang ada di kantornya ketimbang memikirkan peningkatan status.

Sumber:bolanews.com

Berita Artikel Lainnya