Berita > Berita

Revolusi Sistem Pelatnas Cipayung

Senin, 25 September 2006 12:26:01
1090 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

JAKARTA - Tahun ini bisa jadi tahun terburuk dalam dunia bulutangkis Indonesia. Perselisihan antarinsan bulutangkis, pembangkangan pemain pada pelatih, dan aksi mogok membuat kepercayaan pubik pada PB PBSI menurun.

Benar saja, Indonesia akhirnya gagal total dalam Kejuaraan Dunia 2006 di Madrid yang berakhir kemarin. Indonesia, yang pada edisi sebelumnya merebut gelar pada nomor tunggal pria dan ganda campuran, kini tidak mampu untuk sekadar menem- patkan wakilnya di final. Merah Putih makin terkubur dalam keperkasaan Tiongkok yang telah mengamankan tiga gelar sejak berakhirnya semifinal. Kejuaraan Dunia 2006 menca- tatkan tiga all Tiongkok final.

PBSI harus berani melakukan perubahan besar-besaran, kalau tidak ingin kondisi seperti ini akan terus berlanjut, kata Icuk Sugiarto, jago bulutangkis Indonesia pada era 1980-an yang kini menjadi staf ahli Menpora.

Perubahan yang dimaksud Icuk adalah sistem Pelatnas Cipayung. Selama ini, dia menilai PB PBSI tidak memiliki kekuatan untuk menekan beberapa pebulu tangkis yang ada untuk mengikuti program yang telah ditentukan. Beberapa pebulutangkis senior yang sarat prestasi, tiba-tiba berlatih semaunya. Tidak hanya berakibat buruk pada pemain bersang- kutan, itu juga menjadi contoh yang tidak baik bagi pebulu- tangkis muda.

Selama ini, PB PBSI tidak berani memberikan hukuman pada mereka. Otoritas olahraga tepok bulu di tanah air itu menilai mereka adalah sumber prestasi bulutangkis Indonesia. Akibat- nya, pebulutangkis bermental tempe itu makin besar kepala. Mereka terus bersikap semaunya sendiri dalam latihan maupun pertandingan. Pemogokan Taufik Hidayat di Hongkong Terbuka 2006 adalah salah satunya.

Mungkin, itu akan mendatangkan prestasi dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, itu hanya akan meng- hancurkan dunia bulutangkis Indonesia, tegas Icuk.

Sejalan dengan menurunnya para pebulutangkis malas itu, tidak ada alasan lagi PB PBSI bersikap lunak. Berikan pilihan pada mereka, berubah sikap atau pergi. Indonesia memiliki bakat berlimpah dalam cabang bulutangkis, jangan sampai bakat berlimpah itu teracuni oleh beberapa pebulu tangkis . Lebih baik puasa prestasi beberapa tahun dari pada terus terkatung-katung dengan pemain malas yang muncul karena sistem yang kurang tegas.

Selain kegagalan di Kejuaraan Dunia 2006, Indonesia juga dipastikan bakal gagal di Piala Sudirman 2007. Adalah pelatih tunggal pria, Joko Supriyanto, yang memberikan analisis seperti itu.

Dengan kondisi sektor wanita yang tidak kompetitif, tiga sektor lainnya Indonesia harus superior untuk bisa bersaing di Piala Sudirman. Kondisi itu yang tidak kita miliki, ulas Joko. (ang)

Sumber:indopos.co.id

Berita Berita Lainnya