Berita > Artikel

Alan Budikusuma
Indonesia Gagal di Madrid, Lalu Bagaimana? (II)

Rabu, 27 September 2006 14:14:16
1715 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

“Kegagalan ini memang harus dievaluasi, tapi bukan akhir dari segalanya. Kita harus melihat dari persiapan pemain itu sendiri karena bermain itu bukan hanya dilihat dari faktor di lapangan. Jadi, dalam mengevaluasi, kita juga harus melihat kenapa sampai kalah dan bagaimana persiapan pemain.

Sebagai orang awam, saya tidak mengikuti permasalahan dari awal. Tapi, tetap saja kita harus mengevaluasi kegagalan ini. Kebetulan prestasi para pemain kita belakangan ini memang kurang baik, kecuali ganda campuran yang menurut saya masih lumayan.

Sekarang, bukan hanya Cina yang bagus. Negara lain pun makin lama makin kelihatan peningkatannya, sementara kita seperti jalan di tempat. Di putra, Taufik, Sony, dan Simon makin menurun dan itu harus dicari penyebabnya.

Di ganda juga sama. Luluk/Alven sebenarnya sudah cukup banyak pengalamannya, tapi secara kualitas masih di bawah Candra/Sigit atau Candra/Tony dulu. Pelatih sebenarnya sama. Latihannya dari dulu sampai sekarang juga enggak beda, tapi kualitas pemain dan hasilnya yang berbeda.

Kenapa pemain kita sekarang terkesan menurun? Itu karena kualitas yang makin rata di dunia. Kemudian, banyak pemain kita yang melatih di luar negeri. Otomatis yang biasa diajarkan pelatih kita diajarkan di luar. Akibatnya kualitas di luar bisa naik, sedangkan kita jadi kelihatan jelek.

PBSI tak perlu panik dan jangan sampai menghukum pemain. Jangan hanya melihat kekalahan hanya dari sektor pemain, tapi juga pengurus dan pelatih. Dilihat lagi misalnya apakah persiapan Taufik cukup maksimal. Lalu bagaimana kita mengevaluasi dan mencari jalan keluarnya, apalagi kita tahu Taufik sudah mulai menurun.

Sony dan Simon sebenarnya lebih muda, tapi kualitas mereka jauh sekali di bawah Lin Dan dan Bao Chunlai yang seumur. Di bawah mereka malah sangat jauh sekali kualitasnya dan untuk membinanya perlu dana yang besar dan mereka harus sering dikirim bertanding ke luar negeri. Yang jadi masalah sekarang justru karena dana yang terbatas.

Karena itu saya ingin dari daerah juga ada kontribusinya, bukan hanya klub. Sekarang hanya klub-klub tertentu yang bisa membina dengan baik. Makanya pembinaan juga harus dibantu oleh pemda. Sepakbola saja bisa ada anggaran 10 miliar setahun, masak buat bulutangkis yang lebih berprestasi tidak ada.” (Rahayu Widiyarti)

Sumber:bolanews.com

Berita Artikel Lainnya