Berita > Artikel

Bulutangkis Tanpa Tangis

Jumat, 29 September 2006 15:44:08
1760 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Catatan Ringan: Ian Situmorang

Are you ready all?

Pertanyaan bernada memompa semangat itu dilontarkan Susilo Bambang Yudhoyono, presiden republik ini.

Tentu ready dong. Tidak mungkin para jagoan bulutangkis kita itu terbang ribuan kilometer dari Jakarta ke Madrid jika tak siap. Tenaga, pikiran, dan uang ratusan juta rupiah telah dikorbankan untuk memburu mahkota juara.

Alhasil?

Anda pasti tahulah. Dari lima nomor yang dipertandingkan, tidak satu pun menjadi milik kita. Bahkan sekadar lolos ke semifinal saja tidak ada yang berhasil.

Rupanya dorongan semangat dari SBY belum mempan. Kejuaraan Dunia Bulutangkis di Negeri Matador Spanyol bukanlah tempat yang membawa hoki bagi 11 atlet bulutangkis Indonesia.

Padahal, kejuaraan tahun ini boleh disebut sebagai saat yang istimewa. Mungkin hanya kebetulan, saat kejuaraan berlangsung, presiden kita transit di Madrid dalam perjalanan pulang dari Kuba. Kesempatan itu pun dimanfaatkan presiden bertatap muka dan memberi petuah kepada atlet.

Apa boleh buat, tak ada kata manis untuk memperhalus sebutan bahwa tahun ini tim bulutangkis Indonesia gagal total. Bandingkan dengan tahun lalu pada Kejuaraan Dunia di Anaheim, AS.

Juara Olimpiade Taufik Hidayat melengkapi prestasinya dengan mahkota juara dunia tunggal putra. Di ganda campuran, Nova Widianto/Liliana Natsir meraih emas setelah melindas jagoan Cina. Satu peluang lagi ada di tangan Candra Wijaya/Sigit Budiarto, tapi digagalkan oleh rekannya yang telah membela AS, Tony Gunawan, yang memilih partner Howard Bach.

Tak perlu ada penyesalan dengan air mata. Kenapa kita kalah dan bagaimana keluar dari cengkeraman kemerosotan, itu jauh lebih penting untuk diperdebatkan.

Atau para pemain dan pengurus PBSI tak lagi merasa perlu mempersoalkan kegagalan itu? Apakah kegagalan sudah dianggap hal yang wajar dan mesti diterima apa adanya?

Jika sikap ini yang kita pilih, itu berarti bersikap apatis. Sifat nrimo dan pasrah tanpa ada niat dan keinginan untuk menelaah kegagalan akan jauh lebih berbahaya.

Rasanya sudah banyak suara yang terlontar di tengah masyarakat. Memberikan kritik hingga dukungan. Sebanyak itu juga suara tidak puas yang bergulir di tengah organisasi PB PBSI sendiri.

Ada apa ini? Apakah soal remak-remik seputar pembagian nilai kontrak, berebut rezeki, hingga ketidakjelasan jadwal pertandingan ke luar negeri akan selalu topik utama? Kalau hal-hal seperti ini menjadi agenda pokok, bersiaplah menerima hasil lebih buruk.
***
Bagaimana kita menghadapi persaingan ke depan?

Cina secara terbuka mengaku meningkatkan prestasi atlet dengan scientific approach. Ada lagi Malaysia yang secara atraktif mengundang berbagai pelatih beken internasional untuk mendongkrak prestasi atlet negeri jiran itu.

Pengalaman adalah guru yang baik, itu betul. Tapi, meningkatkan prestasi atlet dengan pelatih yang hanya bermodalkan pengalaman adalah kebijakan kuno. Unsur pengalaman ditopang pengetahuan secara akademis merupakan kombinasi yang tak dapat ditawar.

Pertanyaan boleh dilontarkan kepada pembina bulutangkis kita. Adakah mereka yang berstatus pelatih telah memiliki sertifikat pelatih? Atau apakah pelatih meng-update dan menambah pengalamannya secara ilmiah yang terus berkembang?

Saya tidak tahu pasti apakah materi pemain yang ada di pelatnas saat ini adalah yang terbaik. Kemudian, apakah potensi mereka sudah mentok dan tak mungkin ditingkatkan?

Karena kita tidak memiliki parameter yang sahih, tentu sulit untuk mengatakan bahwa itulah materi terbaik. Bisa juga dipersoalkan bahwa mungkin saja materi itu baik, tapi tak dapat didongkrak karena tak punya tools yang tepat.

Persoalan yang dihadapi bulutangkis Indonesia tak lagi semata dana. Materi pemain, pelatih, manajemen organisasi, hingga trust sudah sangat tipis. Hal ini tak boleh dibiarkan berlarut.

Tidak ada pilihan lain kecuali melakukan revitalisasi. Siapa tahu banyak bagian yang tak bekerja secara tepat. Pengurus yang merasa tak sanggup atau terbukti gagal harus dengan jiwa besar menyerahkan tongkat komando.

Saya tidak tahu apakah Sutiyoso, Ketua Umum PBSI, mengetahui persis apa yang terjadi di lapangan. Bisa jadi ia sering mendapat laporan yang hanya kegembiraan sesaat.

Terlalu berbahaya membiarkan bulutangkis Indonesia secara perlahan menuju jurang miskin prestasi. Kita gagal pada Kejuaraan Dunia di Madrid. Awal Desember depan, para pemain terbaik bulutangkis ini kembali berlaga di Asian Games di Doha, Qatar.

Jika konsep latihan dan susunan tim seperti sekarang ini, hasilnya hampir dapat diduga: gagal lagi!

Kita terlambat, tapi pintu belum tertutup. Masih ada kesempatan mengatasi ketertinggalan. Persoalannya apakah para pelatih memiliki cukup stamina dan kemampuan untuk terus berpacu mengimbangi kuda sembrani Cina.

Berkaca dari prestasi atlet saat ini akan menimbulkan sikap pesimistis. Setelah Asian Games, berikutnya adalah target utama untuk membawa pulang Piala Sudirman, Juni tahun depan.

Tegakah kita membiarkan bulutangkis yang telah mengharumkan nama bangsa ini redup? Tolonglah, pemerintah segera turun tangan memberi pemikiran dan tentu bantuan dana!

Sumber:bolanews.com

Berita Artikel Lainnya