Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Pembinaan Atlit di Pelatnas Cipayung

Sabtu, 30 September 2006 10:17:47
1756 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh: Putu Arga

Rasanya kekalahan demi kekalahan sudah mulai melanda hampir di semua partai dalam cabang Nepok Bulu Angsa ini. Seperti yang kita lihat pada kejuaraan dunia di Madrid yang baru saja selesai.

Dua orang tunggal putra hanya mampu melaju sampai di babak ke tiga. Apalagi mantan juara dunia untuk tunggal putra (Taufik Hidayat) terjungkal. Rasanya sedih. Dua ganda putrapun hanya mampu melaju sampai di babak ke 4. Di partai ganda campuranpun tidak kalah sedihnya kita. Mantan juara dunia ganda campuran (Butet-Nova) juga kalah. Di partai putri kitapun tidak banyak bicara.

Kalau menurut mantan juara dunia tunggal putra Icuk Sugiarto, kekalahan kita terjadi karena sistim pembinaan yang di lakukan oleh PB-PBSI tidak efektif, sehingga mengakibatkan hasilnya pun tidak bagus.

Kalau kita lihat dari segi regenerasi, rasanya cabang olah raga ini belum melakukan pembibitan pada generasi muda secara maksimal. Padahal kalau kita lihat dinegara kita ini, klub-klub bulutangkis yang ada sangatlah besar. Mungkin teman-teman sudah pada tahu, bahwa klub Jarum Kudus telah membangun sebuah tempat pendidikan khusus pada cabang olahraga ini di Kudus-Jawa Tengah dengan sangat besar dan megah. Bahkan katanya merupakan bangunan klub terbesar dan termegah di asia (kalo salah, mohon maaf). Apakah ini juga menjadikan jaminan bahwa atlit yang di hasilkan dari klub besar inipun hasilnya bagus juga?

Mungkin kita harus mengintip sistim pembibitan yang dilakukan negara China. Sebelum generasi pertama menghilang, China sudah mempersiapkan dua generasinya (generasi kedua dan ketiga). Dan tehnik serta phisik pemainnyapun setara. Bahkan pemain muda rangkingnya lebih tinggi di bandingkan dengan yang senior. Coba kita lihat Chen Hong. Sebelum Chen Hong hilang, China sudah menyiapkan dua generasi yaitu Bao Chun Lai dan Lin Dan. Ketiga pemain inipun selalu diturunkan China setiap ada event. Mungkin sekarang ini China sudah mempersiapkan generasi lainnya begitu Chen Hong pensiun dari olah raga ini.

Negara kita ini sebenarnyapun sudah melakukan hal yang sama. Saat ini saja kita sudah memiliki tiga pemain tunggal putra yaitu Taufik Hidayat (SGS Bandung), Sony Dwi Kuncoro (Surya Surabaya) dan Simon Santosa (Sinar Mutiara Tegal). Yang menjadi pertanyaan saya saat ini, kemana atlit hasil didikan klub-klub seperti Jaya Raya, Tangkas Bogasari, Jarum Kudus Pelita Bakrie dan yang lainnya?

Pernah saya mendengar pemain muda berbakat yaitu Tomy Sugiarto yang merupakan putra dari mantan pemain nasional kita yaitu Icuk Sugiarto. Bahkan sekarang inipun dia sudah menjadi penghuni di pelatnas Cipayung. Tapi kok saya belum pernah melihat dia mengkuti event internasional.

Saya hanya sering mendengar dia ini selalu juara pada setiap kejuaraan yang diadakan di negara kita saja. Emang targetnya cuma juara di Indonesia saja (he... he... he... he.... juara tarkaman donk).

Jadi intinya saat ini adalah, saya belum melihat generasi baru (junior) penghuni pelatnas yang berprestasi di dunia. Yang sering saya dengar dan lihat adalah junior pelatnas berprestasi hanya di Indonesia saja, tapi begitu turun di event-event dunia pada rontok semua.

Sumber:badminton-indonesia@yahoogroups.com

Berita Jurnal Komunitas Lainnya