Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Surat dari Seorang Komunitas Bulutangkis di Beijing
CHN vs INA: Kemunduran Tim Indonesia

Senin, 02 Oktober 2006 12:08:26
1400 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Oleh : Dania Ciptadi

Nova/Butet kembali ke nomor satu? Ada yang bisa men-jelaskan posisi mereka ini? Karena bukannya sebelumnya mereka sempat jatuh ke no. 2/3 setelah mereka menang di World Championship tahun lalu?

Tren lain lagi, China mulai mengambil alih dominasi di partai putra. Kalau dulu mereka hanya bisa unjuk gigi di partai putri, sedangkan di partai putra top 10nya sangat heterogen, campu-ran CHN, INA, MAL, DEN, KOR dan lain-lain yang kira-kira jumlahnya sebanding.

Sekarang CHN sudah mulai kelihatan dominasinya di partai tunggal putra. Kalau dilihat sepertinya strategi Li Yongbo waktu itu adalah untuk mendominasi perbulu-tangkisan dunia dengan langkah pertama, dominasi di partai putri. Bisa jadi karena partai putri saat itu persai-ngannya belum terlalu tinggi, dan pemain topnya masih tersebar di berbagai negara (tidak ada dominasi negara). Begitu partai putri sudah ditaklukkan oleh CHN dari beberapa tahun lalu, sepertinya Yongbo mulai berge-ser ke fokus dominasi partai putra.

Entah apa yang dilakukan Yongbo sampai CHN sangat ber-kuasa saat ini. Yang pasti Yongbo menanamkan asas berjuang sekuat tenaga pada anak-anak didiknya. Ini dapat dilihat dari persaingan umur. Di atas umur berapa seorang atlit sudah masuk daftar lampu kuning, alias siap-siap untuk dikeluarkan. Kalo kamu tidak mau dikeluar-kan, tetaplah berprestasi, and we'll keep you here. Otherwise, leave this place and we'll have someone else younger and more energetic to replace you.

Lihatlah Zhang Ning, sudah berumur 30 tetapi masih bermain karena namanya tidak pernah geser dari pering-kat 1 dunia. Chen Hong sebenarnya juga sudah di ujung tanduk dengan umurnya yang sudah 27. Mantan No. 1 dunia ini juga harus berjuang keras untuk bisa membukti-kan bahwa dia masih bisa unjuk gigi (dan kemenangannya melawan Taufik kemarin sepertinya akan menambah waktunya di timnas CHN). Tapi coba lihat teman-teman angkatan mereka? Kebanyakan sudah pada berguguran. Mungkin hanya tertinggal Xie Xingfang, yang sepertinya tidak lama lagi juga akan gantung raket.

Sekedar berbagi cerita selama di Beijing ini. Saya disini juga rutin latihan sama anak-anak Indonesia disini. Waktu pegi ke lapangan (btw, disini gampang begitu dapat lapangan, tidak kayak di Indonesia, berburu lapangan itu pekerjaan yang melelahkan).

Saya perhatikan permainan orang-orang CHN yang main disitu. Kesimpulan saya cuma ada 2. Pertama, yang main itu bener-bener cuma buat hobi, olahraga nyehatin badan, alias mainnya asal tampel yang penting bola lewatin net; tidak peduli bolanya terlalu tinggi dan di atas net dan tidak butuh untuk ngejer bola kesana-sini. Kedua, yang main serius dan bolanya jarang lusut (kalau yang tipe #1 itu bola sering lusut), Itu pun juga mereka ternyata cara pukulnya salah dan footworknya asal jadi.

Tren ini juga terlihat pas dulu saya di OZ. anggota klub bulu-tangkis di kampus saya yang dari CHN, blas tidak ada yang jago maennya. Ya maen asal tampel aja. Beda sekali dengan anggota-anggota dari INA dan MAL, bahkan masih lebih ok yang dari SIN.

Kesimpulan sementara, (1) The good players in CHN masuk ke pelatnas, (2) Olahraga bulutangkis di CHN tidak semasif di INA and MAL (fakta: jumlah penonton bulu-tangkis terbanyak ada pada saat pertandingan berlangsung di INA atau MAL).

Terus saya jadi mikir? Kok beda begitu sama di Indo-nesia? Di Indonesia, di lapangan manapun, dari yang di daerah lapangan nyempil sampe di city center, banyak sekali pemain yang walaupun hanya untuk hobi tetapi maennya ok begitut, bahkan beberapa dapat dianggap sekelas pelatnas, cara pukul ok, kontrol bola ok, perge-rakan badan dan kaki ok. Kalo dilihat antara pemain hobi CHN vs pemain hobi INA, tentu saja pasti INA menang. Tetapi kalo ngomongin tentang atlit nasional kok kenyataannya beda?

Kemudian temen saya sempet nyeletuk: Lha iya, kalo disini (CHN), yang maennya bagus kan langsung masuk pelatnas. Kalau di Indonesia, yang maennya bagus juga belum tentu mau masuk pelatnas, lha wong masa depan atlit di Indonesia kan ga jelas...

Mungkin bener juga. Jadi ujung-ujungnya masalahnya adalah ala Indonesia sekali, Kaya sumber daya tetapi [sayangnya] kurang baik dalam mengembangkan dan membudidayakan. Dan satu kata yang bisa mempre-sentasikan itu adalah: Regenerasi.

Karena CHN punya banyak Stok untuk dibudidayakan, jadinya regenerasi dapat dilakukan dengan sangat mudah. Sedangkan di Indonesia, yang sudah jadi atlit maunya cao ke luar negeri. Yang berpotensi jadi atlit, males serius jadi atlit karena masa depan tidak jelas. Lha terus piye enak'e? Satu hal yang pasti, kesejahteraan atlit perlu ditingkatkan. Lagipula toh mereka berjuang membawa nama bangsa kan? Walaupun sekarang mulai ngetren maen dengan orang iIndonesia yang bawa nama bangsa lain. Ya mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Kalo memang mereka tidak didukung kenapa mereka harus mendukung kembali? Kasarnya seperti itu.

Aduh jadi tambah sedih... Disini kalo maen bulutangkis jadi sakit hati sendiri karena melihat, Lha wong di CHN sebe-narnya bulutangkis tuh tidak heboh begitu, fansnya tidak sebanyak di Indonesia, pemain hobinya aja tidak meng-anggap bulutangkis secara serius - yang penting badan gerak, keringetan, sehat tapi tapi kok INA bisa kalah sama mereka.

Sekilas laporan dari Beijing.

JIA YOU YINNI DUI!
Go, Go, Indonesia!

Sumber:badminton-indonesia@yahoogroups.com

Berita Jurnal Komunitas Lainnya