Berita > Berita

Menjaring Pemain Berkualitas
Harus Pakai Cara Baru

Selasa, 03 Oktober 2006 17:54:48
1000 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

Menurunnya prestasi cabang bulutangkis Indonesia, terutama jika ber-cermin dari hasil di Kejuaraan Dunia lalu di Madrid, Spanyol, mau tak mau membuka evaluasi di segala bidang. Termasuk bagaimana keterse-diaan pebulutangkis berbakat yang harus dijaring dan dibina di klub yang nantinya berujung sebagai sumber daya pemain pelatnas di Cipayung.

Terus terang saja, keberadaan klub bulutangkis di negeri ini tak jauh-jauh dari nama-nama lama seperti Djarum Kudus, Jayaraya atau Tangkas di DKI Jakarta, Suryanaga Jatim, dan SGS atau Mutiara di Jabar meskipun tak dimungkiri belakangan muncul klub bulutangkis yang mengusung nama sponsor.

Klub pun punya kendala sebagai ujung tombak mencari pemain sekaliber Taufik Hidayat atau Susy Susanti. “Sebagai pengurus klub, kami turut bertanggung jawab dengan kondisi bulutangkis nasional. Tapi, memang belakangan ini sumber daya pemain berkurang. Perlu upaya terobosan untuk menjaring pemain. Kita tak bisa menunggu pemain datang ke klub,” ucap Retno Kustiyah, Ketua Harian Jayaraya.

Terobosan yang dimaksud adalah menggalakkan bulutangkis di sekolah. “Cina saja melakukan itu. Kok kita enggak bisa? Bulutangkis cabang unggulan kita dan seharusnya sekolah ikut dilibatkan, baik dalam kurikulum dan hal teknis lainnya,” tambah Mbak Kus.

Oleh karena itu, ia berharap gerakan bulutangkis usia dini seperti yang dilakukan Milo atau Tetra Pak mendapat respons dari PBSI dan pemerintah.

Tanding di LN

Djarum Kudus, yang selama ini konsisten menyumbang pemain ke Cipayung, mengakui sumber daya pemain berkualitas sulit didapat. “Setiap bulan Juli kami membuka seleksi pemain untuk masuk klub. Dari 250 pemain yang daftar, yang lolos hanya enam. Jumlah banyak, tapi kualitas kurang,” ungkap Eddy Prayitno, Ketua PB Djarum Kudus, saat dihubungi, Minggu (1/10).

Meski demikian, Edy menilai faktor jarangnya pemain muda Pelatnas Cipayung dikirim bertanding di event internasional membuat kemajuannya kalah cepat dibanding pemain muda asal Cina.

“Ada baiknya pemain yang sudah disuplai klub ke pelatnas dapat kesempatan bertanding di luar negeri sesuai dengan standarnya, seperti turnamen satelit atau bintang satu. Itu bisa meningkatkan kualitasnya,” tambahnya.

Sekadar catatan, Cina pernah mengalami stagnasi pemain. Namun, sejak sekolah dilibatkan, bahkan ada sekolah khusus bulutangkis yang tersebar di beberapa provinsi, Cina tak lagi kekurangan pemain berkualitas.

“Kalau kita mau perbaiki, sekarang waktunya. Libatkan sekolah untuk menjaring lebih awal pemain. Istilahnya, jemput bola. Untuk mengem-balikan kejayaan, butuh proses empat hingga lima tahun,” jelas Retno. (dede)

Sumber:bolanews.com

Berita Berita Lainnya